
Lama Lula menanti Ustad Ilham tersadar, tapi Ia tak kunjung sadar. Dokter hanya bilang untuk sabar menunggu , pasalnya keadaan Ustad Ilham sudah setabil, mungkin respon tubuhnya saja yang terlambat. Sedangkan Ali sudah di bawa pulang oleh Umi Lihah, Lula hanya sendiri di sana menemani Ustad Ilham. Lula sudah mengabari tentang kondisi Ustad Ilham kepada keluarganya. Mereka berkata akan segera datang untuk melihat kondisi Ustad Ilham.
Lula senantiasa berada di samping Ustad Ilham, ia terus menggenggam tangan sang suami. Lula terus berdoa agar suaminya itu segera sadar.
"Sayang, ayo bangun! Kamu melewatkan waktu sholat subuh loh, kamu gak takut dosa? Ayo bangun! Kamu gak kasihan liat aku begadang semalaman gak tidur? Liat, kantong mata aku udah sebesar kantong ajaib doraemon loh, nanti biaya perawatan aku mahal. Ustad, Ayo bangun!" ucap Lula.
Lula terus meminta Ustad Ilham untuk membuka matanya, tapi ia tak kunjung membuka matanya.
"Dengar Ustad. Kalau kamu bangun sekarang, aku janji, aku akan memanggilmu sayang seperti yang kamu mau. Tapi kalau sampai dzuhur kamu belum bangun, janjiku akan batal. Kamu dengar!" ucap Lula.
Karena semalaman suntuk Lula terus menjaga Ustad Ilham, hingga ia tidak tidur. Akhirnya Lula bisa tertidur, dengan lengan Ustad Ilham sebagai bantal dan Lula masih terus menggenggam tangan Ustad Ilham.
Tak selang lama, Ustad Ilham membuka matanya. Ia melihat Lula yang tengah tertidur di lengannya. Ustad Ilham tersenyum karena melihat keadaan Lula yang baik-baik saja, Ustad Ilham membelai wajah Lula. Karena merasa ada gerakan, Lula membuka matanya, ia melihat Ustad Ilham yang sudah terbangun dan tersenyum menatapnya.
"Hah, Ustad?" ucap Lula.
Lula menangis bahagia karena suaminya telah sadar.
''Ternyata manjur,'' ucap Lula.
Karena terlalu bahagia, Lula spontan memeluk Ustad Ilham dengan sangat erat, ia lupa bahwa dada Ustad Ilham sedang terluka. Hingga Ustad Ilham sedikit meringis kesakitan.
"Aduh, maaf sayang. Sakit yah?" uca Lula.
Ustad Ilham tak menjawab pertanyaan Lula, ia terkejut dengan ucapan Lula barusan yang memangilnya '' Sayang ". Kata-kata yang sangat susah ia dengar dari mulut sang istri, sekarang tanpa ia minta, Lula dengan sendirinya mengucapkan kata itu.
"Kenapa bengong? Mana yang sakit?" ucap Lula.
"Jantung," ucap Ustad Ilham.
"Hah, jantung kamu sakit? Aduh-aduh, padahal kata Dokter pisaunya gak sampai mengenai jantung loh, tapi kenapa jantung kamu sakit?" ucap Lula.
"Aku panggilin Dokter dulu," ucap Lula.
Saat ia akan menekan tombol pemanggil Dokter atau Suster, Ustad Ilham mencegahnya.
"Sayang. Kamu panggil aku sayang?" ucap Ustad Ilham.
"Salah ya?" ucap Lula.
"Ndak, ndak salah. Aku seneng kamu panggil aku sayang, sampai-sampai jantung aku berdebar kencang banget loh. Tadi aku hanya kaget dan ndak nyangka saja," ucap Ustad Ilham.
"Em, apa kamu sudah mencintaiku?" tanya Ustad Ilham ragu-ragu.
Lula menggelengkan kepalannya. Nampak raut wajah kecewa dari Ustad Ilham. Lula yang melihat raut wajah kecewa dari Ustad llham menjadi tidak enak.
"Tapi aku akan coba, aku akan coba mencintaimu. Beri aku waktu yah?" ucap Lula.
Ustad Ilham tersenyum dan menggangukan kepalanya, mendengar Lula akan mencoba untuk mencintainya ia sudah sangat bersyukur.
"Bisakah kamu terus memangilku sayang?'' ucap Ustad Ilham.
__ADS_1
"Aku akan terus memanggilmu sayang," ucap Lula seraya tersenyum manis.
Seketika senyum lebar terukir di wajah Ustad Ilham, seakan-akan ia melupakan rasa sakitnya.
"Aku akan panggil Dokter untuk memeriksamu," ucap Lula.
Lula menekan tombol pemanggil Dokter dan Suster. Tak selang lama, seorang Dokter datang, ia memeriksa kondisi Ustad Ilham.
"Kondisi Bapak sudah membaik, jika kondisi Bapak terus membaik, kemungkinan dalam 3 hari Bapak sudah bisa pulang," ucap Dokter.
"Alhamdulillah, terima kasih Dokter," ucap Lula.
Dokter itu pergi meninggalkan ruangan Ustad Ilham.
Di sisi lain, Mama Ira dan Papa Roy, mereka sudah tiba di Rumah sakit. Setelah tau dimana ruang rawat Ustad Ilham, bergesas mereka masuk ke dalam.
"Asalamualaikum," ucap Papa Roy.
"Waalaikumsalam," ucap Lula dan Ustad Ilham.
"Hah, Papa, Mama," ucap Lula.
Lula mencium tangan Papa dan Mamanya.
"Ya Allah, menantu Papa. Gimana kondisi kamu? Lula merawatmu dengan baik?" ucap Papa Roy.
"Alhamdulillah, kondisi saya sudah membaik, Pa. Terima kasih Papa dan Mama sudah mengkhawatirkan saya," ucap Ustad Ilham.
"Kakak-kakak kamu titip pesan, semoga cepat sembuh. Mereka tidak bisa datang karena sedang mengurus proyek yang ada di luar Negri," Ucap Mama Ira.
"Iya ndak pa-pa, Ma. Doanya saja sudah cukup," ucap Ustad Ilham.
"Oh iya, cucu Papa dimana? Papa pengen banget gendong dia," ucap Papa Roy.
"Ali di rumah, Pa. Anak kecil mana boleh lama-lama di Rumah sakit," ucap Lula.
2 hari Papa Roy dan Mama Ira menemaninya di Rumah Sakit, mereka menginap di penginapan yang dekat Rumah Sakit. Hari ini Papa Roy dan Mama Ira berpamitan pulang kepada Lula dan Ustad Ilham.
"Sayang, Mama dan Papa pamit pulang dulu, besok Papa ada pemeriksaan kesehatan jadi kita gak bisa lama-lama di sini," ucap Mama Ira.
"Iya, gak pa-pa kok, Ma. Kesehatan Papa juga penting, lagian kondisi Ustad Ilham sudah sangat membaik. Jadi, Mama dan Papa tidak perlu khawatir," ucap Lula.
"Nak, semoga cepat sembuh. Jika ada apa-apa langsung telfon Papa!" ucap Papa Roy.
''Nggeh, Pa,'' ucap Ustad Ilham.
"Kami pamit pulang ya. Asalamualaikum," ucap Papa Roy dan Mama Ira.
"Waalaikumsalam," ucap Lula dan Ustad Ilham.
Papa Roy dan Mama Ira keluar dari ruangan Ustad Ilham. Ustad Ilham tersenyum kearah Lula.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum gitu, sih?" ucap Lula.
"Ndak pa-pa,'' ucap Ustad Ilham.
Lula merasa ada yang salah dengan diri Ustad Ilham. Ia merasa, mungkin saja efek dari kejadian perampokan itu membuat Ustad Ilham sedikit aneh.
"Sini! Tidur di sebelahku," ucap Ustad Ilham.
''Hah?'' ucap Lula terkejut.
''Sini!'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham meminta Lula agar tidur bersamanya di atas ranjang. Lula menurut, ia naik ke atas ranjang dan tidur di samping Ustad Ilham.
Ustad Ilham menggunakan lengan Lula sebagai bantal.
"Udah berani ya sekarang? Gak malu-malu lagi?" ucap Lula.
Ustad Ilham hanya nyengir kuda. Karena efek obat, Ustad Ilham langsung tertidur, sedangkan Lula memainkan ponsel yang baru di berikan oleh Mama Ira. Tiba-tiba ada nomer yang sedikit familiar menelfonnya dengan panggilan vidio. Karena penasaran Lula mengangkatnya.
"Beb! Astaga, akhirnya gua bisa telfon lo juga, gua bener-benar khawatir tentang lo. Lo gak pa-pa 'kan? Ada yang ...," ucap Devi terpotong.
"Diem gak!" bentak Lula.
Karena bentakan Lula, Ustad Ilham terbangun.
"Kenapa?" tanya Ustad Ilham.
"Gak Pa-pa kok. Udah lanjutin tidurnya," ucap Lula.
Ustad Ilham kembali tertidur.
"Ih sweat banget si kalian, tidur peluk-pelukan gitu. Jadi pengen," ucap devi.
"Kalau pengen ya nikah," ucap Lula.
"Eeleh, dulu aja pas di ajak nikah kagak mau, pake acara kabur-kaburan segala, sekarang kok nyaranin gua buat nikah? Jangan-jangan lo udah cinta ya sama suami lo itu?" ucap Devi.
"Kepo," ucap Lula.
"Oh udah berani main rahasia-rahasian ya dari gua," ucap Devi.
"Hehe, kagak lah. Lo kan sahabat gua, gak mungkinlah gua bisa nyimpen rahasia dari lo," ucap Lula.
"Terus perasaan lo sama dia gimana?" tanya Devi.
"Ya gua juga gak tau, gimana perasaan gua," ucap Lula.
"Ya, gua berharap yang terbaik aja si buat lo," ucap Devi.
"Terima kasih, beb," ucap Lula.
__ADS_1
Terima kasih telah membaca novel ini.