Imamku

Imamku
Sadar akan cintanya.


__ADS_3

Pria itu menghunuskan pisaunya.


AKHH


Pisau itu menusuk tepat di dada Ustad Ilham.


Hah..


Lula terdiam, menatap kosong kearah Ustad Ilham. Sekujur tubuhnya kaku tak terasa, seakan-akan waktu telah berhenti berdetak. Ustad Ilham terjatuh, dengan Ali yang masih aman dalam pelukannya, Lula berjalan perlahan menghampiri sang suami yang terbujur lemah di atas tanah. Sedangkan 3 preman tadi, sudah kabur membawa serta motor Ustad Ilham.


Lula berjongkok di depan Ustad Ilham, terlihat Ustad Ilham menutup matanya.


"Ustad?" panggil Lula dengan nada lirih.


Ustad Ilham membuka matanya, seketika air mata Lula mengalir dengan deras.


"Ustad," ucap Lula.


"Jangan menangis, aku tidak pa-pa," ucap Ustad Ilham.


Tangisan Lula terdengar semakin keras, di susul dengan tangisan Ali.


"Jangan menangis, aku tidak pa-pa," ucap lirih Ustad Ilham.


Lula masih menangis. tapi tak selang lama, Lula menyudahi tangisanya. Ia menghapus air matanya, ia sadar, ia harus mencari bantuan dan segera membawa Ustad Ilham ke Rumah sakit. Lula mengambil baju Ali yang ada di tas untuk menutupi luka di dada Ustad Ilham.


"Pegang ini! Dengar, aku akan mencari bantuan. Ustad tidak boleh tidur, Ustad tidak boleh menutup mata. Aku akan segera kembali, apa Ustad mengeti!" ucap Lula.


Ustad Ilham hanya tersenyum.


"Jangan menutup mata! Aku akan segera kembali,'' ucap Lula.


Lula berlari kencang seraya menggendong Ali, ia mencari rumah terdekat untuk di mintai pertolongan.


"Ya Allah, tolong jangan bawa dia pergi. Hamba mohon pada-Mu," Ucap Lula.


Di sisi lain, Ustad Ilham terus memohon ampun dan terus bersyahadat, ia juga mendoakan agar istri dan anaknya di beri perlindungan dan kebahagiaan.


"Apa kamu takut kehilanganku, sayang?" ucap Ustad Ilham.


Lula terus berlari dan Ali terus menangis, mungkin ia merasakan jika Abinya dalam bahaya. 5 menit berlari tanpa henti, Lula melihat beberapa orang yang sedang berjaga malam.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih," ucap Lula.

__ADS_1


Lula memperlaju larinya, ia berteriak meminta tolong.


"Tolong! Tolong, Pak!'' teriak Lula dari kejauhan.


Bapak-Bapak yang mendengar suara minta tolong dan suara tangisan bayi, seketika mereka berbalik menoleh kearah Lula. Lula melambai-lambaikan tanganya, seraya berteriak meminta tolong.


"Tolong!" teriak Lula.


Dengan sigap, para Bapak-Bapak itu berlari menghampiri Lula.


"Ada apa, Mbak?" tanya salah satu dari mereka.


"Kami di rampok, tolong suami saya, Pak. Suami saya di tusuk perampok, tolong suami saya!" ucap Lula seraya menangis.


"Mbak tenang dulu, sekarang suaminya dimana?" ujar salah seorang Bapak-bapak.


"Ada di sana," ucap Lula.


"Ayo, cepet!" ucap salah satu Bapak-bapak.


Lula pergi dengan 3 orang menggunakan motor, dan sisanya harus menlanjutkan berjaga malam. Lula menunjukan arah dimana Ustad Ilham berada. Sesampainya di sana, Ustad Ilham menutup matanya dan ia sudah tidak sadarkan diri. Lula panik, ia turun dari motor dan menghampiri Ustad Ilham.


"Ustad bangun! Jangan tidur!" teriak Lula.


"Bukanya ini, Ustad Ilham?" ucap salah seorang bapak-bapak itu.


"Mbak tenang saja, Ustad Ilham masih hidup. Cepat kita bawa Ustad Ilham ke Rumah Sakit!" ucap salah satu Bapak-bapak itu.


Mereka membawa Ustad Ilham menggunakan motor, tidak lupa Lula juga membawa tasnya yang berisi dompet dan perlengkapan milik Ali.


Sesampainya di Rumah Sakit, Ustad Ilham langsung di bawa ke ruang ICU. Lula berdoa tiada henti, ia terus meminta keselamatan untuk sang suami. Bapak-bapak itu menemani Lula hingga Ustad Ilham selesai di tangani. Selang berapa lama, Dokter keluar dari ruang ICU.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dokter?" tanya Lula.


" Luka tusuknya cukup dalam, tetapi untung saja tidak terkena organ vitalnya. Sekarang kondisi pasien sudah aman, tapi kami masih akan memantau kondisinya. Kami akan memindahkan pasien keruang rawat setelah beberapa saat. Saya permisi dulu," ucap Dokter.


"Terima kasih, Dok," ucap Lula.


"Alhamdulillah, ya Allah," ucap Lula.


Karena sudah mengetahui kondisi Ustad Ilham baik-baik saja, ke-3 Bapak-bapak itu pun pamit pulang.


"Alhamdulillah kondisi Ustad Ilham baik-baik saja. Jadi kami pamit pulang, semoga Ustad cepat seembuh," ucap salah seorang Bapak-bapak.

__ADS_1


"Amin. Terima kasih banyak telah menolong kami, semoga Allah membalas jasa Bapak-bapak sekalian. Maaf karena telah merepotkan," ucap Lula.


"Nggeh Mbak, sama-sama. Kamit pamit dulu, asalamualaikum," ucap Bapak-bapak itu.


'Waalaikumsalam," ucap Lula.


Setelah menunggu beberapa saat, Ustad Ilham akhirnya di pindahkan ke ruang rawat. Lula memilih ruang rawat dengan satu tempat tidur, ia hanya ingin yang terbaik untuk Ustad Ilham.


Lula menidurkan Ali di sofa panjang yang ada di ruang itu. Lula berjalan mendekati Ustad Ilham, ia duduk di kursi, di samping ranjang Ustad Ilham. Tangan Lula menggenggam erat tangan Ustad Ilham. Ia memandangi wajah sayu sang suami, Tak terasa air mata Lula terjatuh, mengalir dengan deras.


"Aku minta maaf, Ustad. Karena melindungiku, kamu harus menderita seperti ini. Maafkan aku," ucap Lula.


"Sekarang aku sadar, seberapa besarnya cintamu untukku. Aku minta maaf karena memperlakukan kamu dengan buruk, maafkan aku? Ijinkan aku menebus kesalahanku, ijinkan aku membalas cintamu. Aku akan terus berdoa untuk kesembuhanmu," ucap Lula.


Semalam penuh, Lula tidak tidur. Ia sangat cemas dengan kondisi Ustad Ilham, di tambah lagi Ali yang selalu menangis. Baru setelah kumandang adzan subuh, Ali bisa tertidur. Setelah menidurkan Ali, Lula pergi ke ruangan yang lain untuk meminjam baju bersih, karena baju yang ia kenakan sudah sangat kotor. Setelah mengganti pakaiannya, Lula berwudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai, tidak lupa ia berdoa untuk kesembuhan Ustad Ilham.


"Ya Allah Ya Rabb, Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba mohon sembuhkan suami hamba, hamba mohon angkatlah sakitnya. Ya Allah, ampuni hamba yang tidak hormat kepada suami hamba, ampuni hamba yang telah durhaka kepadanya, ampuni hati hamba yang dulu tidak ikhlas bersuamikan ia. Ya Rabb, berikan hamba satu kesempatan untuk membalas cintanya, untuk membahagiakannya, memberinya kasih sayang. Ya Allah, kabuhkanlah doa-doa hamba, kabulkanlah. Amin," Lula berdoa dengan derai air mata.


Lula melepas mukena dan melipatnya, ia berjalan kearah Ustad Ilham. Lula menatap wajah Ustad Ilham, sedih dan hancur rasanya melihat orang yang selalu ia marahi, orang yang selalu ia jahili, sampai terkadang membuatnya menangis, kini berbaring lemah tak berdaya di atas ranjang Rumah sakit karena melindungi dirinya. Hancur rasanya hati Lula.


Sedangkan di sisi lain, salah seorang Bapak-bapak yang ikut membantu dan mengantarkan Ustad Ilham ke Rumah sakit, pergi ke Pondok Pesantren untuk mengabarkan kondisi Ustad Ilham. Ia memberitahu penjaga, setelah itu Satpam Ponpes memberitahu kepada Ustad Zaki. Sontak mereka semua panik dan terkejut, terutama Hanifah, ia sampai menangis karena mengkhawatirkan kondisi Ustad Ilham.


Tak selang lama, Ustad Zaki, Umi Lihah, Hanifah dan Ustad Adam sampai di Rumah sakit. Mereka bertanya kepada Suster jaga dimana ruang rawat Ustad Ilham, Suster jaga menunjukan keberadaan ruang rawat Ustad Ilham.


''Asalamualaikum," ucap Ustad Zaki seraya membuka pintu.


"Waalaikumsalam. Ustad?" ucap Lula.


"Umi," Lula memeluk Umi Lihah.


"Ya Allah, bagaimana kondisi Ustad Ilham?" Tanya Ustad Adam.


"Kondisi Ustad Ilham sudah membaik, hanya saja dia masih belum sadar," ucap Lula.


"Ya Allah, kenapa bisa terjadi? Bagaimana keadaan Mbak Lula dan Ali, kalian baik-baik saja kan?" tanya Umi Lihah.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja Umi...," ucap Lula.


Lula menceritakan kronologi kejadian yang mereka Alami.


"Astagfirullahal adzim," ucap mereka semua.


"Begitu besarnya cintamu untuk istrimu, Ustad. Beruntung ia memilikimu," batin Hanifah.

__ADS_1


Hanifah menatap sendu Ustad Ilham.


Terima kasih telah membaca novel ini.


__ADS_2