
Keesokan paginya, Papa Roy menghubungi ustad Ilham untuk memberitahu soal Lula yang menerima perjodohan ini dan bertanya kapan rencana mereka akan menikah.
''Asalamualaikum nak Ilham,'' salam Papa Roy.
''Waalaikumsalam Pak,'' jawab Ustad Ilham.
''Bapak ingin menyampaikan kabar baik buat kamu nak, Lula menerima perjodohan ini,'' kata Papa Roy.
Ustad Ilham tidak tau harus berkata apa, di hatinya tidak ada rasa senang, hanya rasa khawatir karna dia masih ingat dengan tatapan yang Lula berikan padanya.
''Halo nak, kamu dengerin Bapak kan?'' kata Papa Roy.
''Ehh nggeh Pak, Alhamdulillah kalo Lula menerima saya,'' kata Ustad Ilham.
''Terus selanjutnya kapan kamu siap menikah? bapak rasa lebih cepat lebih baik,'' kata Papa Roy.
''Saya ikut Bapak saja,'' kata Ustad Ilham.
''Emm gimana kalo lusa?'' kata Papa Roy.
''Hahh maaf Pak, bukanya itu terlalu cepat?'' kata Ustad Ilham.
''Tidak, kamu tenang aja semua bapak yang atur, kamu tinggal datang saja,'' kata Papa Roy.
''Tapi bagaimana dengan maharnya, saya belum bertanya soal itu kepada Lula Pak,'' kata Ustad Ilham.
''Kamu tenang saja, kamu cukup memberikan seperangkat alat sholat untuk mahar,'' kata Papa Roy.
''Apa Lula yang memintanya Pak?'' tanya uUstad Ilham.
''Jika kamu bertanya kepada Lula apa mahar yang dia minta, aku yakin itu akan membuatmu merasa tidak tenang, jadi ikuti saja perkataanku,'' kata Papa Roy.
''Nggeh Pak,'' Ustad Ilham pasrah.
''Jadi lusa kamu datang kesini, dan ajak juga Ustad Zaki dan keluarganya, tidak perlu mengajak banyak orang karna Lula tidak akan suka itu, kamu mengerti?'' kata Papa Roy.
''Nggeh Pak,'' jawab Ustad Ilham.
''Ya sudah, Asalamualaikum,'' salam Papa Roy.
''Waalaikumsalam,'' jawab Ustad Ilham.
''Semoga semuanya berjalan lancar,'' kata ustad Ilham.
Di rumah Papa Roy.
Setelah Papa Roy selesai berbicara dengan Ustad Ilham, Lula menghampirinya.
''Papa, ada yang ingin aku bicarakan,'' kata Lula.
__ADS_1
''Bicara soal apa?" tanya Papa Roy.
"Aku tidak mau kalo acara pernikahan ini diadakan dengan meriah, aku tidak mau kalo kalian mengundang banyak orang,'' kata Lula.
''Kamu tenang saja sayang, Papa sudah tau kamu akan meminta hal itu, jadi Papa meminta Ilham untuk mengundang Ustad Zaki dan keluarganya, mungkin juga beberapa orang temannya,'' kata Papa Roy.
''Bagus deh kalo papa ngerti, emm dan kapan pernikahanya?'' tanya Lula.
''Lusa besok,'' kata Papa Roy.
''What.. Papa gila ya, cepet banget,'' kata Lula yang terkejut mendengar kapan dia akan menikah.
''Kenapa? bukanya lebih cepat lebih baik,'' kata Papa Roy.
''Tapi itu terlalu cepet Pa, kita aja belum nyiapin apa-apa,'' kata Lula.
''Kamu tenang aja semua udah beres,'' kata papa Roy seraya meninggalkan Lula.
Lula pergi kekamarnya untuk menghubungi sahabatnya.
Grup Whatsapp.
Lula : woy, gawat ini.
Nindi : ada apa La? lo gak papa kan?.
Devi : kenapa La? lo hamil?.
Nindi : tau tu, gak jelas emang si Devi.
Devi : wkwk sorry gaes becanda, apa yang gawat La?.
Lula : lusa besok gua bakal nikah.
Nindi : haaa lo serius, lo jadi nikah ama cowok pilihan bokap lo itu.
Lula : iya, mau gimana lagi. Devid udah gak sanggup nopang hidup gua.
Devi : bagus dong, lo bisa nikah sama cowok alim itu. Tau-tau lo bisa tobat.
Nindi : Devid tau soal lo yang mau nikah?.
Lula : Iya, dia udah tau. bahkan sebelum kalian tau.
Devi : what? dia ngebiarin lo nikah sama cowok lain gitu? apa dia gak tulus cinta sama lo ya La?
Nindi : iya La, setau gua cowok yang tulus itu, gak akan pernah ngebiarin ceweknya punya pasangan lain, apa lagi ampe nikah.
Lula : gua yakin kok, kalo Devid tulus ama gua.
__ADS_1
Lula tidak membalas lagi chat dari sahabatnya itu, ia yakin Devid tulus dengannya, Devid melakukan ini demi masa depan mereka berdua semisal perusahaan Devid bangkrut, hubungan mereka akan semakin di tentang.
Magelang.
Seusai menerima telfon dari Papa Roy, uUstad Ilham berencana untuk mengundang Ustad Zaki dan keluarga. Ustad Ilham datang ke rumah Ustad Zaki.
''Asalamualaiku Ustad,'' salam Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam, sebentar,'' jawab seseorang dari dalam rumah.
''Ustad Ilham, ada perlu sama Abi ya?'' kata Hanifah tanpa menatap wajah Ustad Ilham.
''Nggeh Fah,'' kata Ustad Ilham.
''Silahkan masuk Ustad, tak pangilin Abi sebentar,'' kata Hanifah seraya meninggalkan Ustad Ilham.
Tak selang lama Ustad Zaki datang.
''Asalamualaikum Ustad,'' salam Ustad Zaki.
''Waalaikumsalam Ustad,'' jawab Ustad Ilham seraya bersalaman dengan Ustad Zaki.
'' Ada hal apa yang membawa Ustad kemari?'' tanya Ustad Zaki.
''Begini Ustad, saya ingin mengundang ustad dan keluarga ke pernikahan saya besok lusa,'' kata Ustad Ilham.
''Kok mendadak sekali Ustad, kita belum menyiapkan apa-apa, semua baik-baik saja kan?'' tanya Ustad Zaki.
''Semua baik-baik saja Ustad, ini permintaan langsung dari Pak Roy, semua Pak Roy yang mengatur,'' kata Ustad Ilham.
''Apa.. Pak Roy, teman almarhum Pak Rahmat? jadi kamu akan menikah dengan putrinya?'' tanya Ustad Zaki.
''Nggeh Ustad, apa ada masalah?'' kata Ustad Ilham.
''Ohh ndak ada, insyaallah kami semua akan datang,'' kata Ustad Zaki.
''Nggeh suwun Ustad,'' kata Ustad Ilham.
''Lalu siapa lagi yang akan di undang Ustad?'' tanya Ustad Ilham.
''mungkin beberapa pengurus ponpes Ustad.'' kata Ustad Ilham.
''Baiklah, apa kita benar-benar tidak akan menyiapkan apapun?'' tanya Ustad Zaki sekali lagi.
''Ndak perlu Ustad, ya sudah saya pamit dulu, asalamualaikum,'' kata Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam,'' jawab Ustad Zaki.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novelku😊
Jangan lupa komen dan like ya😉