
Semalaman Ustad Ilham tidak bisa tidur, ia sangat gelisah dengan sikap istrinya yang selalu ingin membuat Hanifah bersedih. Hati Hanifah sangat lembut, ia pasti sangat terluka dengan setiap ucapan dan tindakan Lula.
''Saya harus bicara dengan Dek Ula!" batinya.
Setelah menyiapkan sarapan, Ustad Ilham duduk di kursinya menunggu Lula keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian Lula keluar dari kamarnya, ia pergi kekamar mandi, setelah selesai Lula duduk dan mengambil sarapannya.
Ustad Ilham menunggu waktu yang tepat, tapi hatinya sudah tak sabar untuk menunggu.
''Dek, saya mau bicara sesuatu kekamu,'' ucap Ustad Ilham.
''Apa?'' ucap Lula.
Lula masih fokus kepada makananya.
Ustad Ilham menghela nafas.
''Seharusnya tadi malam kamu tidak berbicara seperti itu kepada Hanifah, itu tidak benar. Kamu menyakiti hatinya, itu tidak benar. Hatinya pasti terluka, dia pasti bersedih, kamu tidak boleh melakukan itu lagi kepadanya. Bukankah saya sudah memberitahu segalanya kepada kamu, tapi kenapa kamu masih bertanya soal itu? Kenapa kamu bertanya soal yang kamu sendiri sudah tau jawabanya?'' ucap Ustad Ilham.
Lula sangat marah mendengar ucapan Ustad Ilham, ia menatap Ustad Ilham tanpa ekspresi, tetapi hatinya sangat marah.
''Jawab Dek, kenapa kamu begitu membencinya? Dia tidak pernah menyakiti kamu, tapi kenapa kamu membencinya?'' ucap Ustad Ilham.
__ADS_1
''Udah ngocehnya, gak usah bikin hari suram gua tambah suram deh. Kalo perempuan itu penting banget buat lo, nikahin dia! Kalo lo takut hatinya terluka, nikahin dia! Gua udah bilang ribuan kali untuk lo nikahi dia, kan!'' ucap Lula.
''Saya…,'' ucap Ustad Ilham. Ucapanya terpotong dengan gebrakan meja yang Lula buat.
''Gua udah muak dengan semua ini! Gua muak dengan penjara ini! Dan gua udah muak dengan lo!'' bentak Lula.
''Dan apa masalahnya kalo gua benci dengan perempuan itu? Apa itu menganggu ketenangan jiwa lo? Atau lo emang suka dia, hah? JAWAB!'' ucap Lula.
Ustad Ilham hanya diam menatap mata sang istri, ia melihat betapa besarnya kebencian wanita tercintanya itu. Ustad Ilham tidak mendengarkan ocehan-ocehan Lula, ia larut dalam kata-kata, akankah ada cinta di mata cantik itu untuknya?.
Karena tidak ada jawaban dari Ustad Ilham, Lula berdiri dan menghampiri Ustad Ilham yang masih mematung di tempat duduknya. Ia berbisik di telinga Ustad Ilham.
''Gua muak dengan lo dan cinta busuk lo itu,'' bisik Lula dengan nada lembut tapi menusuk hati.
''Aku mencintaimu, aku ingin kamu juga mencintaiku, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu,'' batinnya.
Lula keluar dari kamarnya membawa pakaian yang akan ia kenakan di acara hari jadi Pondok Pesanteren Al- Huda, Lula memulai ritual mandinya. Saat membuka pintu kamar mandi, ia di kejutkan dengan Ustad Ilham yang berdiri di depan pintu. Ustad Ilham juga terlihat terkejut, lantas ia menundukan kepalanya agar Lula tidak melihat mata sembabnya, tapi Lula terlanjur melihatnya, Lula berpura-pura tidak perduli.
Lula melewati Ustad Ilham begitu saja tanpa ekspresi, Ustad Ilham semakin sedih. Lula masuk kedalam kamarnya, ia memakai hijab dan mengambil ponselnya, setelah itu Lula keluar rumah menuju gedung asrama putri. Sebenarnya Lula malas untuk mengikuti acara itu, tapi apa boleh buat ia harus mengikutinya.
Acaranya begitu meriah, ada lomba tilawah Quran, ada lomba baca puisi, ada lomba bernyanyi lagu religi dan lomba-lomba olahraga lainnya. Semua nampak bersemangat dan bahagia, kecuali Lula dan Ustad Ilham, mereka berdua larut dalam malasah rumah tangga mereka.
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 5 sore dan lomba masih berjalan dengan meriah. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, semua orang bergegas masuk kedalam asrama. Ustad Ilham membantu memasukan semua benda elektronik maupun tidak kedalam gedung. Ustad Ilham teringat dengan kondisi asrama putri.
''Pasti mereka dalam kesulitan,'' batin Ustad Ilham.
Lantas Ustad Ilham mengajak 2 santriwan untuk membantunya, lantas mereka bergegas berlari menuju asrama putri. Sesampainya mereka disana, Ustad Ilham dan 2 santriwan langsung membantu memasukan barang-barang kedalam gedung.
''Sudah, kalian masuk saja! Biar ini jadi urusan kami,'' ucap Ustad Ilham kepada santiwati.
''Suwun Ustad,'' ucap para santriwati.
Lula terus memperhatikan Ustad Ilham, tanpa Lula sadari, Hanifah juga memperhatikan Ustad Ilham. Lula mengamati Ustad Ilham dengan wajah datar, sedangkan Hanifah, ia sangat mencemaskan keadaan Ustad Ilham di karenakan hujan turun dengan sangat deras.
Setelah semua barang masuk, Ustad Ilham langsung berlari menuju asrama putra, di ikuti oleh Hanifah. Lula yang melihat sang suami telah pergi dan Hanifah mengikutinya, ia memutuskan untuk pergi juga, Lula meminjam payung milik salah satu santriwati.
Lula melihat Hanifah memberikan sesuatu untuk Ustad Ilham, setelah menerima barang itu, Ustad Ilham bergegas pergi menuju asrama putra. Saat Hanifah membalikan badanya, sontak ia terkejut, ia melihat Lula yang menatapnya tanpa ekspresi. Hanifah takut jika Lula salah paham terhadapnya, lantas ia berjalan menghampiri Lula. Namun saat ia berjalan untuk menghampirinya, Lula langsung berbalik dan masuk kedalam rumahnya. Hanifah hanya bisa menghela nafasnya.
Lula bergegas mandi agar dia tidak sakit, setelah mandi, tiba-tiba perutnya terasa lapar, lantas ia membuka tudung saji, terlihat makanan sisa tadi pagi, ia tak selera untuk memakanya. Lula memasak mi instan dengan telur, setelah matang ia membawa makananya keruang tamu untuk di makan sekaligus menonton tv.
''Uhh mantap banget, hujan-hujan makan mi instan,'' ucap Lula.
Lula mulai memakan makananya, sruput demi sruput ia sangat menikmatinya. Setelah selesai makan, Lula melanjutkan dengan memainkan ponselnya. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 7 malam, tapi Ustad Ilham belum pulang.
__ADS_1
''Kok dia belum pulang ya, apa gak kedinginan pake baju basah gitu? Mana di luar hujan masih lebat banget. Apa isi kantong plastik yang Hanifah kasih isinya baju ya? Aah mungkin aja. Ihh gak usah mikirin dia, gak penting banget si!'' ucap Lula.
Terima kasih telah membaca novelku😊