Imamku

Imamku
Menyukai mengores luka.


__ADS_3

Mereka membawa banyak sekali hadiah dari keberhasilan memenagkan beberapa permainan. Lula sangat senang karena bisa merasakan kebahagiaan di dalam sangkar ini. Saat di dalam perjalanan pulang, Lula dan Ustad Ilham melihat Hanifah berdiri sendirian, entah apa yang ia lakukan di sana.


''Ngapain dia berdiri matung sendirian di situ, gak takut di seret orang?'' ucap Lula.


''Saya juga ndak tau, Dek,'' ucap Ustad Ilham.


Ustad Ilham terkejut saat Lula tiba-tiba menarik tangan Ustad Ilham dan menggandengnya dengan mesra.


''Samperin yuk!'' ajak Lula.


Mereka berjalan menghampiri Hanifah.


''Asalamualaikum, Hanifah,'' salam Lula.


''Asalamualaikum,'' salam Ustad Ilham.


Hanifah nampak terkejut dengan kedatangan mereka.


''Amm waalaikumsalam,'' ucap Hanifah.


''Kamu ngapain berdiri sendirian di sini, ini hampir jam 10 loh, bahaya loh?'' ucap Lula.


''Lagi nunggu santriwati, Mbak,'' ucap Hanifah.


''Santriwati? Gak ada santriwati di sana, Hanifah. Kayaknya udah pada pulang deh, iya kan, Mas?'' ucap Lula.


Ustad Ilham langsung menatap mata Lula, ia terkejut saat Lula memangilnya '' Mas ''. Ada getaran kebahagiaan yang ia rasakan saat sang istri mengatakan kata itu.


''Emm iya, di dalam pasar sudah tidak ada lagi para santri. Bukanya di batasi sampai jam 9 malam, kan? Pasti mereka sudah pulang!'' ucap Ustad Ilham.


''Ohh begitu ya,'' ucap Hanifah.


Hanifah menundukan kepalanya. Lula menatap dengan seringai di wajahnya.


''Seperinya Allah sangat menyayangiku,'' batin Lula.


''Kalo gitu, kita pulanganya barengan aja, gak aman kalo kamu pulang sendirian,'' ajak Lula.


Hanifah hanya menatap Lula dan Ustad Ilham.


''Pulangnya bareng kita saja, ndak baik pulang sendiri,'' ucap Ustad Ilham.

__ADS_1


Hanifah terdiam sesaat sebelum menjawab.


''Nggeh Ustad, Mbak,'' ucap Hanifah.


Mereka berjalan untuk kembali ke Ponpes, sembari berjalan, Lula memulai obrolan.


''Emm aku boleh tanya sesuatu gak ke kamu?'' tanya Luka kepada Hanifah.


''Boleh Mbak, mau tanya apa?'' ucap Hanifah.


''Umur kamu berapa?'' tanya Lula.


''23 tahun, Mbak,'' ucap Hanifah.


''Wah lebih mudaan aku dong, umurku baru 20 tahun. Berarti kamu jangan panggil aku Mbak, panggil aja Lula!'' ucap Lula.


Hanifah hanya menjawab dengan anggukan.


''Kok kamu belum menikah? Oh atau ada yang kamu suka tapi kamu gak berani bilang keorang tua kamu, ya?'' ucap Lula.


Hanifah yang di tanya soal asmaranya hanya bisa diam saja, bagaimana bisa ia bilang jika ia mencintai Ustad Ilham. Yah cintanya untuk Ustad Ilham masih tersimpan sempurna di hati Hanifah.


''Apa Mas, kamu capek yah? Sebentar lagi sampe rumah kok, sabar ya,'' ucap Lula.


Ia berpura-pura tidak mengerti tentang ekspresi sang suami.


Lula ingin melanjutkan pertanyaanya yang belum Hanifah jawab.


''Kok diem aja si? Hanifah, kalo kamu takut ngomong keorang tua kamu, kamu bisa bicara sama aku atau Ustad Ilham, pasti kita bakal bantu! iya kan Mas?'' ucap Lula.


Ustad Ilham tak menjawab pertanyaan Lula, ia sungguh merasa tidak enak dengan Hanifah. Namun berbeda halnya dengan Lula, ia sangat menikmati setiap goresan luka yang ia beri untuk Hanifah. Entah kenapa ia sangat membenci muka polos Hanifah itu.


''Kalo kamu diam aja itu tandanya kamu menyukai seseorang ya? Siapa dia? Dia seorang Ustad?'' tanya Lula.


Hanifah masih terdiam enggan menjawab.


''Dek, jangan terus di tanya soal privasi, jika Hanifah tidak ingin menjawab,'' ucap Ustad Ilham.


Seketika Lula langsung menatap tajam kearah sang suami, seolah-oleh menyuruhnya diam.


Ustad Ilham bernafas lega begitu juga Hanifah karena mereka sekarang telah sampai di Ponpes. Tak selang lama, mereka telah sampai di rumah Ustad Zaki, Hanifah berpamitan dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


''Ustad, Lula, terima kasih. Asalamualaikum,'' ucap Hanifah.


''Waalaikumsalam,'' jawab mereka besamaan.


Di dalam perjalanan pulang Lula terlihat manyun, karena ia belum puas mencerca Hanifah.


Sesampainya di rumah, Lula langsung masuk kedalam kamarnya. Ustad Ilham hanya menatap punggung sang istri saat ia masuk kedalam kamar.


Ustad Ilham meletakan semua hadiah-hadiah itu. Ia menatapnya, baru saja tadi mereka bersenang-senang dan seketika kembali terdiam.


Ustad Ilham meninggalkan hadiah-hadiah itu di ruang tamu, dan kini ia masuk kedalam kamarnya.


Di rumah Ustad Zaki.


Saat Hanifah masuk kedalam rumahnya, ia melihat Umi Lihah dan Ustad Zaki menunggunya pulang.


''Asalamualaikum,'' salam Hanifah.


''Waalaikumsalam, kenapa pulangnya malam sekali?'' tanya Ustad Zaki.


''Tadi Hanifah menunggu para santriwati Abi, tapi ternyata mereka sudah pulang,'' jawab Hanifah.


''Terus kamu pulangnya sendirian? Kamu ndak pa-pa kan?'' tanya Umi Lihah.


''Ndak pa-pa Umi, tadi Hanifah pulang bareng Ustad Ilham dan, istrinya,'' ucap Hanifah. Tengorokan Hanifah serasa tercekik saat memikirkan tentang Lula.


''Oh alhamdulillah jika seperti itu,'' ucap Umi Lihah.


''Abi, Umi, Hanifah masuk kekamar dulu ya, sudah ngantuk,'' ucap Hanifah.


''Iya,'' ucap Ustad Zaki.


Di dalam kamar, Hanifah duduk terdiam di depan cermin, ia menatap dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


''Lula memang sangat cantik, jauh berbeda denganku, pasti Ustad Ilham sangat mencintainya,'' ucap Hanifah.


Tak terasa air matanya terjatuh, ia menangis dalam diam tak ingin ada orang lain yang tau.


''Aku mencintaimu Ustad, apakah kamu tau itu? Aku sudah berusaha untuk melupakanmu, tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa,'' ucapya di dalam tangisannya itu.


Terima kasih telah membaca novelku😊

__ADS_1


__ADS_2