
Sesampainya di rumah, Lula memerintahkan Ustad Ilham untuk duduk dengan tenang. Lula melepaskan semua kancing baju Ustad Ilham.
Ngik ( bunyi nafas Ustad Ilham )
''Dimana inhaler lo?'' tanya Lula.
''Di laci,'' ucap Ustad Ilham.
Lula bergegas masuk dan mencari inhaler Ustad Ilham. Setelah menemukanya Lula bergegas menghampiri Ustad Ilham, Lula membantu Ustad Ilham memakai obatnya. Sekarang Ustad Ilham nampak membaik.
''Masih sesek gak?'' tanya Lula.
''Endak,'' ucap Ustad Ilham seraya mengeleng.
''Lain kali kalo punya penyakit tu ngomong, kalo misal lo ngomong dari awal, ini gak akan terjadi. Untung aja sempet, kalo gak? Kalo lo pingsan di jalan gimana? Kalo misal, amit-amit, lo gak kuat terus meninggoy, gimana?'' oceh Lula.
Ustad Ilham hanya menatap Lula seraya tersenyum, entah mengapa Ustad Ilham sangat senang saat Lula mengkhawatirkanya. Ia merasa seperti Lula mencintainya. Lula yang melihat Ustad Ilham hanya tersenyum saat ia marahi mejadi sangat marah.
''Gua ini lagi marah, ngapain lo malah senyum-senyum sendiri?'' ucap Lula.
''Maaf, Dek,'' ucap Ustad Ilham.
''Ngapain lo tadi senyum-senyum, lo ngejek gua dalam hati ya?'' ucap Lula.
''Endak, saya hanya suka melihat kamu mulai perhatian dengan saya,'' ucap Ustad Ilham malu.
Lula yang melihat Ustad Ilham malu-malu kucing merasa geli dan jijik.
''Iss udah-udah, gak usah sok imut gitu deh. Geli gua,'' ucap Lula.
Saat Lula mengatakan itu, wajah Ustad Ilham semakin memerah.
''Ngomong-ngomong selain asma, lo ada sakit lainnya gak?'' tanya Lula.
''Emm sakit asam lambung dan darah rendah,'' ucap Ustad Ilham.
''Kok bisa punya asam lambung? Bukanya dapur ponpes terbuka buat siapa aja ya?'' ucap Lula.
''Iya, hanya saya ndak mau merepotkan orang lain,'' ucap Ustad Ilham.
''Susah jadi lo, serba gak enakan ujung-ujungnya nyiksa diri sendiri,'' ucap Lula.
Saat Lula akan beranjak dari kursinya dan pergi kekamarnya, Ustad Ilham menghentikanya.
''Tunggu!'' ucap Ustad Ilham.
''Apa?'' tanya Lula.
__ADS_1
''Ada yang mau saya beri kekamu,'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham pergi kekamarnya dan mengambil sesuatu.
''Ini,'' ucap Ustad Ilham seraya memberikan amplop dan buku tabunganya.
''Apa ini? Uang?'' tanya Lula.
Lula membuka amplop coklat yang Ustad Ilham beri.
''Itu gaji saya,'' ucap Ustad Ilham.
''Hah! Gaji lo cuma segini? Sebulan cuma 2 juta untuk seorang wakil kepala ponpes?'' ucap Lula.
''Sebenarnya sebagian lagi saya sumbangkan untuk murid-murid yang kurang mampu dan yatim piatu. Kasihan mereka,'' ujar Ustad Ilham
Lula menghembuskan nafanya dengan kasar, ia heran dengan sikap suaminya yang terlalu baik kepada orang lain.
Lula membuka buku tabungan Ustad Ilham.
''Nabung bertaun-taun cuma dapet 10 juta?" tanya Lula.
"Nggeh, saya harap kamu bisa mengelolanya dengan baik ya. Kamu boleh gunakan uang itu untuk keadaan mendesak,'' ucap Ustad Ilham.
Haa Huff( suara tarikan nafas Lula ).
"Dia yang punya asma, gua yang sesek nafas,'' ucap Lula lirih.
''Gak nyangka gua sekarang jadi orang miskin,'' ucap Lula putus asa.
Setelah selesai mandi, kini Ustad Ilham memasak untuk sarapan. Saat tengah memasak, tiba-tiba Ustad Ilham mendapat panggilan dari Ustad Zaki untuk segera berkumpul di ruang rapat sekolah. Ustad Ilham berpamitan dengan Lula.
''Dek, saya pergi dulu, ada rapat. Di dapur ada sayuran sudah saya potong-potong, bumbu sudah saya siapin, nanti kamu tinggal masak saja. Saya pergi dulu,'' ujar Ustad Ilham.
''Ih kan bisa selesain dulu baru pergi,'' ucap Lula.
''Ndak enak jika membuat mereka menunggu lama. Asalamualaikum,'' ucap Ustad Ilham.
''Ih nyebelin banget!'' geram Lula.
Lula terpaksa memasak karena dia sudah sangat lapar. Setelah selesai memasak Lula kembali kekamarnya. Ia merasa bosan karena setiap hari berada di rumah.
''Ah bosen banget, gak ada konten yang menarik. Pengen nonton tv tapi TV-nya gak ada, nyebelin banget,'' keluh Lula.
Tiba-tiba Lula mendapat pencerahan.
''Tv? Kenapa gua gak beli tv aja, kan ada uang dari si Om,'' ucap Lula.
__ADS_1
Lula mengambil Hp-nya untuk memesan tv secara online. Setelah selesai memesan Lula kembali tidur.
Tiba-tiba pintu rumah Lula di ketuk dari luar. Lula bergegas memakai kimono panjang dan hijabnya, ia membuka pintunya.
''Asalmualaikum mbak, ini ada kurir yang cari mbak Lula,'' ucap satpam ponpes.
''Saya mau anter tv atas nama Lula,'' ucap kurir.
''Waalaikumsalam saya Lula, taruh dalem ya mas. Sekalian di pasangin ya. Pak satpam tolong anteri dia ya, Ustad Ilham ndak ada jadi saya ndak bisa masuk,'' ucap Lula.
''Nggeh mbak,'' ucap satpam.
Setelah selesai kurir itu pulang di antar oleh Pak satpam, Lula masuk dan menyalakan Tv-nya.
''Akhirnya bisa nonton tv juga, gak papa deh uangnya habis yang penting gua seneng. Dia kerja buat gua juga, kan,'' ucap Lula.
Malampun tiba, Ustad Ilham pulang kembali kerumah. Saat ia masuk ke dalam, Ustad Ilham terkejut karena melihat ada tv di rumahnya. Lantas ia mencari keberadaan Lula. Lula tengah membuat teh di dapur.
''Asalamualaikum,'' salam Usrad Ilham
''Dek, kok ada tv di sini?'' tanya Ustad Ilham.
''Iya, gua baru beli,'' ucap Lula.
''Berapa harganya?'' tanya Ustad Ilham.
''Murah kok, total semua sekitar 11 juta,'' ucap Lula.
''11 juta? Kamu dapat uang dari mana?'' tanya Ustad Ilham.
''Ya uang dari lo lah,'' ucap Lula.
Ustad Ilham tampak terkejut.
''Jadi uang yang saya berikan kekamu habis? Kok kamu lakuin itu si Dek?'' ucap Ustad Ilham.
''Gak habis kok, kan masih ada 1 juta,'' ucap Lula dengan entengnya.
Ustad Ilham duduk lemas di kursi.
''Dek, saya kan sudah bilang, kamu boleh mengunakan uang di tabungan itu untuk keadaan mendesak. Tapi kenapa kamu malah melakukan ini?'' ucap Ustad Ilham dengan mata yang berkaca-kaca.
''Lo pikir hal ini gak penting! Kebahagian gua gak penting buat lo! Lo nyesel kasih uang itu ke gua? Lo nyesel!'' bentak Lula.
Ustad Ilham menatap sedih kearah Lula.
''Kenapa? Lo mau marah?'' ucap Lula.
__ADS_1
Ustad Ilham hanya menatap sendu Lula.
Terima kasih telah membaca novelku😊