Imamku

Imamku
Sini peluk.


__ADS_3

Lula terus mencerca Ustad Ilham dengan omongan-omongan yang terus menyalahkannya karena tidak bisa menuruti semua keinginanya. Lula berbicara tanpa henti, ia terus-menerus menyalahkan Ustad Ilham atas keadaan kehidupanya yang sekarang. Ustad Ilham menundukan kepalanya karena ia merasakan nafasnya mulai terputus-putus.


''Tatap mata gua, kalo gua lagi ngomong sama lo! Tatap mata gua Ustad!" bentak Lula.


Karena semakin lama semakin sesak, Ustad Ilham bergegas pergi menuju kamarnya untuk mengambil inhaler miliknya.


''Heh mau kemana lo?" teriak Lula.


Lula menghampiri Ustad Ilham di kamar Ustad Ilham, ia melihat Ustad Ilham yang sedang mengunakan inhalernya.


''Jadi asmanya kambuh,'' batin Lula.


Lula berdiri di pintu kamar Ustad Ilham tanpa mengatakan satu katapun.


Merasa dirinya sudah lebih baik, Ustad Ilham mulai berkata kepada Lula.


''Waktu itu saya berpikir jika nanti saya menikah saya akan memberikan uang itu untuk istri saya dengan perasaan penuh cinta dan kebahagiaan. Saya sangat bahagia saat memberikan uang itu untuk kamu, benar-benar bahagia. Uang yang saya kumpulkan bertahun-tahun, uang yang saya kumpulkan dengan sangat keras, uang yang saya kumpulkan dari pemotongan uang untuk berobat saya dan jatah makan saya. Saat saya memberikan uang itu kepada kamu, saya menaruh seluruh kepercayaan saya kepada kamu. Saya pikir kamu mengerti kondisi saya …," ucap Ustad Ilham terpotong karena dadanya sesak akibat menahan tangisanya.


"Saya tau saya orang yang ndak punya, saya selalu berusaha membuat kamu nyaman hidup dengan saya, saya selalu berusaha membuat kamu bahagia. Saya selalu berdoa agar suatu saat kamu bisa menerima saya, agar kamu bisa mencintai saya, saya selalu berharap hal itu. Saya ndak marah sama kamu, saya hanya sedikit kecewa,'' lanjut Ustad Ilham.


Lula yang mendengar hal itu merasa bersalah. Ya, ia akui sikapnya sedah terlalu kasar kepada suaminya.


Lula berjalan menghampiri Ustad Ilham, Lula berdiri dihadapan Ustad Ilham. Ia menagkup pipi Ustad Ilham agar melihatnya karena dari tadi ia selalu menundukan kepalanya, Lula melihat ada air mata di pelupuk mata Ustad Ilham, ia merasa tambah bersalah.


Ia masih menagkup pipi Ustad Ilham dan sedikit mengelus-elusnya dengan ibu jari.


''Maaf ya, sikap gua kali ini keterlaluan, gua ngaku salah sama lo. Gua gak benar-benar gunain uang itu kok, gua kan belinya online jadi tv itu belinya pake uang gua. Lo jangan nangis gini dong, malu ah sama badan. Sebagai permintaan maaf gua, sini gua peluk,'' ucap Lula.

__ADS_1


Lula merentangkan tanganya, memberi ruang untuk Ustad Ilham. Namun Ustad Ilham hanya diam mematung. Lula sudah tau ini akan terjadi, tanpa basa basi ia langsung memeluk Ustad Ilham, untuk kali ini Ustad Ilham membalas pelukan Lula. Entah mengapa ia malah menangis tersedu-sedu. Lula menelus-elus punggung dan rambut Ustad Ilham untuk menenagkanya.


Lula melepas pelukanya.


''Udah ah, gua mau tidur. Jangan nangis lagi!'' ucap Lula.


Ustad Ilham mengangguk, tanda bahwa ia mengerti. Sebelum tidur Ustad Ilham mengambil air wudhu, setelah selesai ia kembali kedalam kamarnya, tidak lupa ia berdoa untuknya dan Lula.


Ustad Ilham selalu terbayang-bayang kejadian membahagiakan yang baru saja terjadi, ia selalu tersenyum. Sangking bahagianya sampai-sampai Ustad Ilham tidak bisa tertidur. Jam menunjukan pukul tengah malam, dan Ustad Ilham masih terjaga. Ia masih bisa merasakan sentuhan hangat tangan Lula, Ustad Ilham sangat menyukai itu.


Entah kapan ia tertidur, nampak adzan subuh sudah berkumandang, bergegas Ustad Ilham mengambil sarung dan berangkat menuju masjid. Di dalam perjalananya Ustad Ilham selalu tersenyum. Ia berpapasan dengan Ustad Adam.


''Asalamualaikum Ustad,'' sapa Ustad Adam.


''Waalaikumsalam,'' jawab Ustad Ilham dengan penuh senyum.


''Aduh-aduh sepertinya ada yang sedang bahagia, cerita dong?'' ucap Ustad Adam.


Ustad Adam mengerti apa yang di maksud oleh Ustad Ilham.


''Ahh kalo itu saya ndak jadi kepo, saran saja ya jangan terlihat terlalu mencolok Ustad, kalo Ustad Ilham mau semua orang tau privasi Ustad,'' goda Ustad Adam.


Ustad Ilham terlihat tersipu malu,


''Apa saya terlalu mencolok Ustad?'' tanya Ustad Ilham.


''Nggeh Ustad,'' ucap Ustad Adam.

__ADS_1


Mereka pergi kemasjid bersama-sama, saling curhat ini itu.


Setelah selesai sholat subuh, Ustad Ilham bergegas pulang kerumah. Ia ingin memasakan makanan yang spesial untuk sang istri.


Ustad Ilham berkutik dengan bahan-bahan masakan, ia terlihat fokus dengan masakanya. Ustad Ilham menyiapkan sarapan nasi goreng spesial toping cinta, setelah selesai ia bergegas mandi. Setelah memakai baju, ia menyemprotkan parfum kebadanya, padahal ia tidak pernah mengunakan parfum. Ustad Ilham menata meja makan sedemikian cantiknya agar Lula senang melihatnya.


Lula terbangun dari tidurnya karena merasakan perutnya lapar, ia keluar menuju dapur. Di dapur Lula mencium bau parfum yang sangat menyengat.


''Ihh bau apa si ini?'' ucap Lula.


Lula mengendus-entus tubuh Ustad Ilham,


''Ehh lo mandi parfum ya? Wangi banget,'' ucap Lula.


''Iya, saya pake parfum tapi sedikit kok,'' ucap Ustad Ilham.


''Sedikit apaan? Orang baunya gini banget. Gua lebih suka bau lo seperi biasa, gak usah pake parfum lagi ah. Sekarang lo harus ganti baju!'' ucap Lula.


Ustad Ilham sedikit kecewa tapi ia juga bahagia karena Lula menyukai aroma badanya tanpa parfum. Setelah ganti baju, Usta Ilham kembali ke dapur untuk sarapan bersama dengan sang istri.


''Bagaimana rasanya, enak ndak?'' tanya Ustad Ilham.


''Hem kayak biasa,'' ucap Lula.


''Rasanya seperti biasanya ya?'' tanya Ustad Ilham.


''Iya, malah ini terlalu manis. Kan lo tau gua gak suka sesuatu terlalu manis,'' ucap Lula.

__ADS_1


Ustad Ilham hanya diam memendangi istrinya yang tengah makan masakanya. Ustad Ilham sedikit kecewa dengan hasil masakanya itu.


Terima kasih telah membaca novelku😊


__ADS_2