Imamku

Imamku
Sarung tangan


__ADS_3

Singkat waktu pagi pun tiba, Ustad Ilham akan membangunkan Lula untuk bersama-sama melakukan sholat subuh. Namun seperti biasa, pasti ada drama yang Lula lakukan.


Tok Tok.


''Dek, ayo bangun! Ini sudah adzan,'' ucap Ustad Ilham.


Seperti biasa, tidak ada jawaban dari dalam kamar Lula. Ustad Ilham mengetuk pintu sekali lagi.


Tok Tok.


''Dek, ayo bangun!'' ucap Ustad Ilham.


Karena tidak ada lagi jawaban dari Lula, Ustad Ilham memutuskan untuk masuk kedalam kamar.


Ustad Ilham melihat Lula yang tengah nyaman dalam tidurnya, tapi karena ini adalah sebuah kewajiban maka mau tidak mau Lula harus melaksanakanya.


Ustad Ilham sedikit mengoyang-goyangkan kaki Lula, tapi itu percuma saja. Ustad Ilham mencoba lebih keras lagi mengoyangkan kaki Lula, tapi tetap saja sama, jangankan membuka mata mengeliatpun tidak. Ada terbesit niat untuk membuka selimutnya, tapi itu tidak mungkin dilakukan karena Ustad Ilham takut jika Lula sedang tidak memakai apa-apa. Akhirnya ia memutuskan untuk mengoyang-goyangkan pundak Lula, dan cara itu ternyata berhasil.


''Hemm apa si om, ganggu orang tidur aja?'' jawab Lula yang masih memejamkan matanya.


''Ini sudah masuk sholat subuh, sekarang kamu ambil air wudhu ya!'' ucap Ustad Ilham.


Lula terlihat tersenyum.


''Mukena gua basah,'' ucap Lula.


''Basah kenapa? kok bisa mukenanya tiba-tiba basah?'' tanya Ustad Ilham.

__ADS_1


''Tadi waktu gua mau tidur, gua udah cemplunging tu mukena kedalam air biar basah,'' ucap Lula dengan cengir kuda.


''Astagfirullahaladzim, Dek!'' ucap Ustad Ilham seraya mengelus-elus dadanya.


''Udah ya, gua mau lanjut tidur,'' ucap Lula.


''Kamu bisa pake baju gamis untuk sholat,'' ucap Ustad Ilham.


''Jangan becanda deh om, gamis gua kelihatan tanganya,'' ucap Lula masih dengan mata yang tertutup.


''Bisa! Sekarang kamu ambil air wudhu!'' ucap Usta Ilham.


''Ihh apaan si, kalo gua bilang gak bisa ya gak bisa!" ucap Lula.


"Dek, apa kamu mau tas-tas kesayangan kamu itu di berikan kepada orang lain?'' ucap Ustad Ilham.


''Ih!" ucap Lula seraya bangun dan langsung menjambak rambut Ustad Ilham.


''Liat, tangan gua kelihatan! Katanya kalo sholat semuanya harus tertutup, cuma telapak tangan sama muka aja yang kelihatan?'' ucap Lula.


Ustad Ilham mengeluarkan sarung tangan dari laci mejanya.


''Kamu bisa pakai ini,'' ucap Ustad Ilham.


''Ih tu sarung tangan punya elo? kok ada motif kupu-kupunya si? Ck ck sangat mencurigakan,'' ucap Lula.


''Ini sarung tangan almarhumah ibu,'' ucap Ustad Ilham.

__ADS_1


''Pakai ya,'' ucap Ustad Ilham.


Lula memakai sarung tangan itu, nampak ia suka terhadap sarung tangan itu.


''Bagus juga,'' batinya.


Ustad Ilham memulai mengimami sholat subuh, entah kenapa Lula sholat dengan khusyuk kali ini, tidak ada ocehan dalam hati. Setelah selesai sholat subuh, Lula kembali kekamarnya dengan masih memakai sarung tangan itu. Sedangkan Ustad Ilham melanjutkan dengan mengaji.


Setelah melepas gamisnya, Lula merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia menatap dan mengamati sarung tangan itu.


''Ini sarung tangan bagus banget, kok gua suka ya?'' ucap Lula.


Lula melanjutkan tidurnya, sedangkan Ustad Ilham masih mengaji.


Setelah jam menunjukan pukul 6:30 Ustad Ilham membangunkan Lula untuk sarapan. Sekarang mereka tengah makan bersama, Lula teringat sarung tangan itu.


''Sarung tangan itu buat gua ya?'' ucap Lula.


''Kamu suka?'' ucap Ustd Ilham seraya tersenyum.


''Iya,'' ucap Lula.


''Iya ambil saja,'' ucap Ustad Ilham.


''Kata Almarhum bapak, Almarhumah ibu suka sekali menyulam. Kadang ada yang meminta ibu buatin sesuatu, banyak yang suka hasil sulaman ibu … Oh iya kalau kamu suka, kita bisa pergi kerumah saya, ada banyak sekali hasil sulaman ibu. Apa kamu mau kesana?'' ucap Ustad Ilham.


''Boleh, gua juga pengen jalan-jalan, suntuk di rumah mulu,'' ucap Lula.

__ADS_1


''Ya sudah nanti kita kesana,'' ucap Ustad Ilham.


Terima kasih telah membaca novelku😊


__ADS_2