Imamku

Imamku
Part 25


__ADS_3

Singkat waktu malam pun tiba, Lula mengemasi barang-barangnya, dia ingin pergi dari rumah itu. Dia sudah muak dengan tuntutan keluarganya, dia berencana tinggal di apartemen miliknya. Saat akan keluar rumah, lagi-lagi ustad Ilham mempergokinya.


''Kamu mau kemana? kenapa bawa koper?'' tanya ustad Ilham.


''Bukan urusan lo?'' ucap Lula seraya menyeret kopernya.


''Lula, jangan lakukan itu?'' ucap ustad Ilham.


''Terus gua harus apa? apa yang harus gua lakukin? lo gak ngerti apa yang gua rasain selama ini? selalu di kekang, harus nurutin ini itu, selalu di angap buruk padahal gua cuma pengen ngerasain apa yang temen-temen gua rasain? gua mohon, lo biarin gua pergi ya?'' kata Lula memelas.


Melihat Lula yang sangat sedih, akhirnya ustad Ilham mengijinkan dia pergi.


''Tapi kamu mau kemana? ini sudah malam?'' tanya ustad Ilham.


''Gua bakal tinggal di apartemen, jadi lo tenang aja.'' kata Lula dengan tersenyum.


''Gua boleh pergi ya?'' kata Lula memohon.


''Tapi...'' kata ustad Ilham terpotong.

__ADS_1


''Bentar.'' kata Lula seraya mencatat nomer hp nya.


''Ini nomer hp gua, kalo lo takut gua kenapa-kenapa lo bisa telfon gua." kata Lula.


"Emm yawes kamu boleh pergi tapi jaga diri kamu baik-baik!'' kata ustad Ilham.


''Gua janji bakal jaga diri, thanks.'' kata Lula sembari mendekat dan langsung memeluk ustad Ilham.


''Bye.'' ucap Lula berpamitan.


Karna sangking terkejutnya, ustad Ilham sampai tidak menyadari bahwa Lula telah pergi dan ustad Ilham masih mematung di depan pintu. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan Lula akan memeluknya dengan sadar. Ia merasa jantungnya hampir copot dan wajahnya menghangat.


Lula melajukan mobilnya di keheningan kota, dia terus memikirkan, apa reaksi papanya jika tau dia pergi dari rumah?. Apa semua kartu kreditnya akan di blokir oleh papanya, atau bahkan dia akan di coret dari daftar ahli waris. Tapi untuk saat ini, itu tidak terlalu penting. Yang terpenting sekarang dia harus menghubungi Devid.


''Apa dia masih marah?'' batin Lula.


Lula meletakan handphonenya dan fokus menyetir. Sesampainya di apartemen, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah merasa enakan dia mengambil hp nya untuk menelfon Devid kembali, tapi hasilnya sama, dia tidak menjawab pangilan Lula.


''Apa dia sedang sibuk ya? atau sedang tidur? ahh ya sudahlah, lebih baik gua tidur aja.'' kata Lula.

__ADS_1


Saat Lula tertidur, tiba-tiba ada telfon masuk. Dengan mata terpejam Lula mengangkat telfonnya.


''Hallo.'' ucap Lula dengan suara serak khas bangun tidur.


''Asalamualaikum Lula, apa kamu sudah sampai di apartemen?'' tanya ustad Ilham yang cemas dengan keadaan Lula.


''Hem lo? gua udah sampai dari tadi dan lo telfon disaat yang gak tepat. Udah ah gua mau lanjut tidur.'' kata Lula yang langsung menutup telfonnya.


Keesokan paginya di kediaman papa Roy. Mereka mendapat laporan kalau Lula tadi malam pergi dari rumah.


''Rupanya anak itu kabur lagi, dia benar-benar menguji kesabaranku.'' ucap papa Roy.


''Tenang pa, jangan marah-marah gitu.'' mama Ira mencoba menenagkan papa Roy.


''Lula sekarang ada di apartemen, security tadi telfon aku.'' ucap Reno.


''Ayo kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan tanpa uang keluarganya?'' ucap papa Roy


Aku mau tanya.

__ADS_1


kalian lebih suka konflik yang ringan atau konflik yang berat?


Soalnya aku rasa novelku agak membosankan. Dan akhir-akhir ini aku juga gak bersemangat buat nulis karna aku ngerasa seperti aku buat novel untuk aku baca sendiri. Gak ada saran atau curhatan hati kalian. Maaf ya kalo emang novelku gak menarik😔


__ADS_2