
Hari ini Ustad Ilham sudah di perbolehkan untuk pulang, Lula memasukan barang-barang Ustad Ilham kedalam tas. Ustad Ilham memandangi Lula yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya.
"Kenapa sih liatin aku mulu? Mau bantu?" ucap Lula.
Ustad Ilham tersenyum lebar, kemudian ia turun dari ranjang Rumah sakit untuk membantu Lula.
"Eh jangan! Biar aku aja, kamu duduk manis aja di sofa!" ucap Lula.
"Ndak pa-pa kok, kan ini mudah," ucap Ustad Ilham.
Karena Ustad Ilham tidak mau mendengar kata Lula, lantas Lula menarik tangan Ustad Ilham untuk duduk di sofa.
"Jangan bandel! Duduk manis di sini, ngerti!" ucap Lula.
Lagi-lagi Ustad Ilham hanya tersenyum lebar.
Saat Lula sedang membereskan barang-barang Ustad Ilham, tiba-tiba Polisi masuk kedalam ruangan mereka.
"Selamat siang, Bapak dan Ibu,'' ucap Polisi.
"Siang Pak," ucap Lula dan Ustad Ilham berbarengan.
"Kami dari pihak Kepolisian mendapat laporan dari warga mengenai perampokan yang Bapak dan Ibu alami, Dan kami datang kesini ingin meminta keterangan dari Bapak dan Ibu atas kejadian perampokan yang menimpa Bapak dan Ibu beberapa hari yang lalu," ucap salah satu Polisi.
"Nggeh Pak," ucap Ustad Ilham yang masih dalam keadaan binggung.
Ustad Ilham dan Lula menceritakan kejadian yang mereka alami.
"Baik, terima kasih atas keterangan Bapak dan Ibu. Kami permisi dulu dan semoga Bapak cepat sembuh," ucap Polisi dan langsung pergi.
"Terima kasih, waalaikumsalam," ucap Ustad Ilham.
Lula melanjutkan membereskan pakaian mereka, setelah selesai memberaskan pakaian, Lula dan Ustad Ilham keluar dari Rumah Sakit dan masuk kedalam mobil yang sebelumnya sudah Lula pesan.
"Sayang, motor kita bakal balik gak ya?" ucap Lula.
"Kalau motor itu masih rezeki kita, insyaallah motor itu akan kembali kepada kita," ucap Ustad Ilham.
"Iya, tapi aku harap motor itu bakal balik," ucap Lula.
"Kita berdoa dan pasrahkan semua kepada Allah," ucap Ustad Ilham seraya menggengam tangan Lula.
**
Mereka turun tepat di depan rumah Ustad Ilham. Banyak orang yang menyambut kedatangan mereka.
"Asalamualaikum," salam Ustad Ilham dan Lula.
"Waalaikumsalam," jawab serentak orang-orang itu.
"Silahkan masuk semua," ucap Lula.
"Nggeh, monggo," ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham dan Lula mempersilahkan semua orang untuk masuk kedalam rumahnya, Lula membantu Ustad Ilham duduk. Lula masuk kedapur untuk membuatkan mereka minum, setelah selesai Lula kembali keruang tamu.
"Silahkan di minum!" ucap Lula.
"Aduh, jadi merepotkan. Terima kasih Mbak," ucap salah satu orang-orang itu.
Hanifah datang dengan membawa Ali.
"Asalamualaikum," salam Hanifah.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
__ADS_1
Hanifah berjalan mendekati Lula.
"Ali," ucap Lula.
Hanifah memberikan Ali kepada Lula. Lula menggendong Ali.
"Ayo, kita bicara di belakang saja Hanifah," ucap Lula.
"Iya, Mbak," Ucap Hanifah.
"Permisi semua," ucap Lula.
Lula mengajak Hanifah ke belakang rumah.
"Apa Ali merepotkan kamu?" tanya Lula.
"Alhamdulillah, ndak Mbak. Ali anak yang baik, dia ndak merepotkan sama sekali," ucap Hanifah.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya, kamu sudah menjaga Ali," ucap Lula.
"Sama-sama," ucap Hanifah.
Lama mereka berbincang, dan akhirnya pamit pulang. Setelah mengantar mereka pulang, Lula dan Ustad Ilham masuk kedalam kamar, mereka duduk dan bersandar di tepi ranjang.
"Ali, sayang. Ali kangen Mama gak?" ucap Lula seraya menciumi Ali.
Ali tertawa dan mencoba mengigit wajah Lula yang terus menciuminya. Ustad Ilham tersenyum melihat interaksi mereka berdua.
"Ali bobok siang ya sayang. Kamu juga, istirahat ya," ucap Lula.
"Sayangnya mana?" ucap Ustad Ilham tiba-tiba.
"Hah, maksudnya?" ucap Lula.
"Iya, aku janji. So?" ucap Lula yang masih tidak peka dengan maksud ucapan Ustad Ilham.
"Itu loh seperti Ali ? ... Ali bobok siang ya... Sayang!" ustad Ilham menekankan kata sayang.
"ohhh," ucap Lula singkat.
"Kok cuma, ohhh sih? Kata sayangnya mana?" wajah Ustad Ilham sedikit cemberut.
Lula yang melihat ekspresi cemberut Ustad Ilham menjadi tertawa.
"Haha, iya-iya sayang. Jangan cemberut gitu dong!... Suamiku sayang, istirahat ya, biar cepat sembuh," ucap Lula.
Seketika wajah Ustad Ilham bersinar dan merona, ia bahagia sekaligus malu.
"Iya, sayang," ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham mulai memejamkan matanya.
"Kayak ABG yang di mabuk cinta aja sih dia," bisik Lula.
Singkat waktu malampun tiba. Kini Lula tengah berada di dapur, ia ingin memasak untuk makan malam, tapi Lula merasa binggung ingin memasak apa dan bagaimana cara memasaknya. Lula hanya mematung memandangi semua peralatan memasak di depannya, ia benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana.
"Mau masak apa ya? Em bubur aja kali ya? Tapi gak ada nasi. Cara masak nasi gimana? Ah pusing," ucap Lula.
Ustad Ilham yang merasa lapar keluar dari kamar dan pergi menuju dapur, di dapur Ustad Ilham melihat Lula yang berdiri mematung di depan kompor.
"Dek," panggil Ustad Ilham.
"Hem," ucap Lula menoleh kearah Ustad Ilham.
"Kamu lagi apa sih, kok berdiri mematung di sana?" tanya Ustad Ilham.
__ADS_1
"Em, aku mau masak," ucap Lula.
Ustad Ilham sedikit terkejut.
"Hem, masak? Memang kamu bisa masak, sayang?" tanya Ustad Ilham.
Lula mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe, itu masalahnya. Aku gak bisa masak," ucap Lula.
Ustad Ilham tersenyum lebar, ia menghampiri Lula.
"Biar aku saja yah yang masak," ucap Ustad Ilham.
"Eh, jangan! Kamu 'kan lagi sakit. Udah biar aku aja yang masak, kamu istirahat di kamar aja yah!" ucap Lula.
Lula menolak saran Ustad Ilham karena Lula tidak mau jika Ustad Ilham kelelahan, kesembuhanya akan lambat.
"Begini saja. Kamu yang masak, aku yang arah-arahin. Gimana?" ucap Ustad Ilham.
"Oke, tapi sambil duduk ya!" ucap Lula.
"Iya," ucap Ustad Ilham.
Lula mulai memasak sesuai intruksi Ustad Ilham. Dari mulai memotong sayuran, memasak nasi dan meracik bumbu-bumbu, semua Lula lakukan dengan bersungguh-sungguh. Tanpa sadar ikat rambut yang Lula pakai terlepas, Ustad Ilham yang melihat itu langsung membantu mengikat rambut Lula.
"Pas?" tanya Ustad Ilham.
"Iya. Makasih, sayang," ucap Lula.
Tiba waktunya menggoreng telur, Lula takut terkena minyak panas saat menggoreng.
"Sayang, aku gorengnya gimana?" ucap Lula.
"Tinggal kamu pecahin telurnya di atas wajan, lalu taburi sedikit garam," ucap Ustad Ilham.
"Pecahin telur di atas wajan? Gak mau ah, nanti tangan aku kena minyak gimana?" ucap Lula.
"Endak, Dek. Minyaknya kan sedikit, jadi tangan kamu gak akan kena cipratan minyak," ucap Ustad Ilham.
Dengan terpaksa Lula melakukan itu, ia meanaskan wajan dengan sedikit minyak, saat akan memecahkan telur, Lula ragu.
"Gak akan kena 'kan?" ucap Lula.
"Gak akan, sayang," ucap Ustad Ilham.
Lula memecahkan telur di atas wajan, karena ragu dan takut, belum semua isi telur keluar dari cangkang, Lula langsung menarik tangannya, jadi sebagian telur tumpah ke luar wajan.
"Yah, tumpah," ucap Lula.
"Ndak pa-pa, sayang," ucap Ustad Ilham.
Lula mencicipi sop buatanya, karena tidak yakin dengan rasanya Lula meminta Ustad Ilham mencicipi sop buatanya. Lula mengambil sedikit kuah dan mendiamkannya sebentar agar tidak panas.
"Icip, sayang," ucap Lula.
Ustad Ilham mencicipi sop buatan. Ustad Ilham langsung memberikan dua jempol untuk masakan Lula.
"Enak?" ucap Lula.
"Banget, sayang," ucap Ustad Ilham.
Seketika senyum manis Lula terukir di wajah cantiknya, ia merasa bangga dengan hasil masakannya.
Maaf ya, beberapa hari ini author sakit, jadi gak bisa up.
__ADS_1