
Ustad Ilham mengeliat dalam pelukan Lula, karena ia mencium aroma yang harum di ujung hidungnya. Perlahan Ustad Ilham membuka matanya, ia terkejut saat menyadari bahwa dirinya tidur di dalam pelukan sang istri. Tiba-tiba Lula mendekap tubuh Ustad Ilham agar lebih dalam masuk kedalam dekapannya.
''Us Us, lo tidurnya yang tenang dong! Gua juga mau tidur ni,'' ucap Lula.
Ustad Ilham tak mengubris ucapan Lula, pikiranya kosong, ia menatap lurus kearah leher yang tak sengaja ia cium. Lama ia terdiam dan hanya menatap leher Lula.
''Apa aku boleh memeluknya tanpa ijin darinya?'' batin Ustad Ilham. Entah darimana pertanyaan itu datang, mungkin karena pelukan yang Lula berikan terasa nyaman dan Ustad Ilham ingin membalasnya.
Perlahan tangan Ustad Ilham melingkar di pinggang ramping Lula, ia perlahan membalas dekapan itu. Ustad Ilham tampak nyaman dan menikmati pelukan itu.
Adzan subuh mulai berkumandang, Ustad Ilham terbangun dari tidurnya, ia berniat membangunkan Lula untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Saat akan akan bangun, ia merasa kepalanya sangat sakit, karena merasa tidak kuat, Ustad Ilham membaringkan kepalanya lagi di atas lengan Lula. Lula terbangun karena merasa ada pergerakan di atas lengannya.
''Em, lo kenapa? Sakit kepala?'' tanya Lula.
Ustad Ilham mengangguk.
''Ya sudah, lanjutin tidurnya!" ucap Lula.
"Tapi ini sudah subuh,'' ucap Ustad Ilham.
''Ya udah, solatnya tiduran aja dan wudhunya ganti tayamum aja!" ucap Lula.
"Ndak Dek, aku bisa kok ambil air wudhu di kamar mandi,'' ucap Ustad Ilham.
''Huff, terserah lo aja,'' ucap Lula.
''Emm by the way, nyaman banget yak tidur di lengen gua?'' ucap Lula.
Ustad Ilham bergegas untuk bangun.
''Aduh, ya Allah,'' ucap Ustad Ilham.
Karena di paksa untuk bangun, kepala Ustad Ilham semakin sakit. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
''Kepala lo … Aaaa au badan gua, tangan gua kesemutan … Aw,'' ucap Lula.
Lula duduk bersandar di sebelah Ustad Ilham.
''Gila, ini kasur apa batu si? Keras banget,'' ucap Lula.
Ustad Ilham tidak menjawab perkataan Lula, pandangannya terasa berputar-putar. Walaupun terasa sakit, tapi ia merasa sanggup untuk berwudhu.
Perlahan-lahan Ustad Ilham berdiri, seketika pandanganya menjadi kabur, karena tidak mendapatkan pegangan, tubuh Ustad Ilham ambruk menimpa Lula yang kebetulan duduk tetap di belakang Ustad Ilham.
'' Akh,'' suara Lula saat Ustad Ilham menimpanya.
Ustad Ilham bergegas bangun dari atas tubuh Lula dan duduk di sampingnya. Lula menatap langit-langit kamar, ia merasa tubuhnya remuk.
''Dek, kamu ndak papa, kan?" tanya Ustad Ilham. Ia tampak khawatir dengan keadaan sang istri, ia tahu pasti itu rasanya sakit, mengingat tubuhnya yang lumayan besar.
__ADS_1
''Dek?" ucap Ustad Ilham.
"Ancur sudah, Remuk, patah … Akhh, angkat gua!" ucap Lula.
Ustad Ilham membantu Lula duduk, ia sedikit memijat punggung Lula. Setelah di rasa cukup, Ustad Ilham meminta tolong kepada Lula, agar membantunya pergi kekamar mandi.
''Dek, bantu papah aku ya!" ucap Ustad Ilham.
"Lo yakin bakal kuat sampai kamar mandi? Gua gak mau ya, di tengah jalan lo jatuh terus nimpa badan gua, sakit tau!" ucap Lula.
"Insya Allah, ndak kok,'' ucap Ustad Ilham.
''Ya udah, ayo,'' ucap Lula.
Lula memapah Ustad Ilham perlahan-lahan agar tidak terjatuh, Lula merasakan bahwa tubuh Ustad Ilham masih sangat panas. Sesampainya di kamar mandi, Ustad Ilham meminta Lula menunggu di luar.
''Dek, kamu tunggu di luar ya, aku mau buang air kecil!" ucap Ustad Ilham.
Lula menutup pintu kamar mandi, setelah selesai Ustad Ilham keluar dan Lula langsung memegangi tangan sang suami. Sesampainya di dalam kamar, Lula meminta Ustad Ilham sholat dengan posisi duduk.
''Lo sholatnya duduk aja, kalo …,'' ucap Lula terpotong.
''Tapi Dek, aku bisa kok,'' ucap Ustad Ilham.
''Ushh, dengerin gua, lo gak usah ngeyel! Lo bangun aja sempoyongan, apalagi berdiri lama?'' ucap Lula.
''Lo duduk dulu, gua wudhu dulu,'' ucap Lula.
Ustad Ilham mengangguk.
Lula bergegas pergi kekamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai, Lula kembali kedalam kamar, mereka menunaikan sholat subuh berjamaah dengan khusyuk. Setelah selesai, Lula membantu membaringkan tubuh Ustad Ilham di atas kasur. Lula duduk di tepi ranjang sebelah Ustad Ilham.
''Badan lo masih panas, kalo nanti sore panasnya gak turun-turun, kita kerumah sakit! Untuk sekarang, lo jangan kerja dulu!" ucap Lula seraya mengusap-usap wajah Ustad Ilham. Lula pergi kedapur untuk membuat sarapan.
Ustad Ilham membalas perkataan Lula dengan senyuman. Ia merasa sangat bahagia karena Lula sangat memperhatikannya dan ini kali pertama ada yang merawatnya saat sakit, bukan karena tidak ada yang menyayanginya atau memperhatikanya, tetapi menurutnya lebih baik menyembunyikan sakitnya daripada merepotkan orang lain.
Lula membuat bubur untuk sarapan pagi ini. Setelah selesai, ia membawa bubur itu kekamar Ustad Ilham.
''Ayo bangun!'' ucap Lula.
Ustad Ilham menurutinya. Ia bersandar di tepi ranjang dengan wajah yang masih pucat.
''Aaaa,'' ucap Lula.
''Bismillah,'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham menyantap bubur itu dengan lahab, karena kali ini bubur buatan Lula terasa enak dan pas.
''Enak ya?'' tanya Lula.
__ADS_1
''Heem,'' jawab Ustad Ilham seraya mengangguk.
''Makan yang banyak biar lo cepet sembuh. Gua gak mau ya, sampai lo sakit lagi! Gua gak bisa tidur tau, saben malam lo tu ngigo dan lebih parahnya … Lo mau tau, bagian yang paling parah?'' ucap Lula.
Ustad Ilham hanya diam, ia memikirkan apa yang Lula katakan.
''Gua kasih tau. Setiap gua lepasin pelukan gua, lo pasti langsung merengek dan lebih parahnya lagi, lo tu nyenyak banget tidur di dada gua,'' ucap Lula.
Ustad Ilham menatap Lula, seakan-akan ia tidak percaya, jika ia melakukan hal itu.
''Kena lo, gua mah cuma melebih-lebihkan aja. Emm kok gua suka ya liat ekspresi lo kalo kaget gini?'' batin Lula.
''Dih, mikir apa si lo. La?" batin Lula.
Segera Lula kembali sadar.
''Ayo lanjut makanya!" ucap Lula.
Ustad Ilham melanjutkan makanya, ia masih memikirkan perkataan Lula.
''Apa aku semanja dan selancang itu ya?'' batin Ustad Ilham.
''Maaf ya,'' ucap Ustad Ilham seraya menundukan kepalanya.
Lula tersenyum karena kejahilanya berhasil.
''Oke, gak masalah. Karena lo lagi sakit, gua gak mempermasalahkan hal itu, tapi kalo lo lakuin itu saat sadar. Uhh, jangan tanya, gua bakal cabik-cabik badan lo!'' ucap Lula.
Ustad Ilham hanya menunduk tak berani menatap Lula, ia malu atas perbuatanya itu.
''Udah gak usah malu, kita lupain hal itu. Sekarang lo minum obatnya, gua bakal telfon Ustad Zaki, kasih tau soal kondisi lo,'' ucap Lula.
''Dimana ponsel lo?" tanya Lula.
"Di dalam laci,'' jawab Ustad Ilham.
Lula membuka laci itu dan menemukan ponsel Ustad Ilham. Lula tampak binggung, ia belum pernah mengunakan ponsel jadul seperti ini.
''Gimana cara gunainnya?'' tany Lula.
''Kemari, aku ajarin cara mengunakanya!" jawab Ustad Ilham.
Lula menghampiri Ustad Ilham, ia duduk di sampingnya. Ustad Ilham mengajari Lula, cara memakai ponsel jadul itu.
''Ohh gitu, gampang baget,'' ucap Lula.
**Terima kasih telah membaca novelku😊
Maaf ya udah berminggu-minggu gak up**.
__ADS_1