Imamku

Imamku
Senjata baru.


__ADS_3

Malampun tiba, Lula masih meratapi kardus yang berisi harta berharganya itu. Dia sangat kesal dan marah terhadap suami alimnya itu, bagaimans bisa dia seceroboh ini?.


Masakan ustad Ilham telah matang, dia berniat memangil istrinya untuk makan malam, tapi ia tahu kalau istrinya itu sedang marah kepadanya. Dengan menguatkan dirinya, ustad Ilham memanggil Lula untuk makan malam. Ustad Ilham pergi ke kamar Lula.


Tok Tok.


''Dek, makan malam sudah siap. Ayo kita makan!'' Ucap ustad Ilham.


Tidak ada jawaban dari Lula.


''Dek…" Panggil ustad Ilham sekali lagi.


BAK.


Lula melempar sesuatu kearah pintu.


Sontak ustad Ilham terkejut, tapi ia tidak menyerah. Ia akan terus membujuk Lula agar mau makan.


''Saya minta maaf ya, saya salah. Tapi kamu harus makan! Saya janji, saya akan melakukan sesuatu agar kamu bisa mendapat tasmu lagi.'' Ucap ustad Ilham.


Tiba-tiba Lula membuka pintu kamarnya dan menatap tajam kearah ustad Ilham.


''Minggir!" Bentak Lula.


Lula berjalan menuju ruang makan. Di meja makan tersedia nasi, sayur dan ayam goreng. Lula mengambil nasi serta lauk dan mulai memakanya.


Ustad Ilham menghampiri Lula dan duduk di depanya.


''Saya kemasjid dulu ya, ada acara disana. Emm jika ada yang mengetuk pintu dan itu laki-laki, jangan kamu ajak dia masuk karna saya tidak disini, takut timbul fitnah. Dan jangan buka pintunya jika kamu berpakaian seperti itu! kamu mengertikan?'' Jelas ustad Ilham dengan lembut.


Lula memutar malas bola matanya. Dia tak menjawab ucapan ustad Ilham.


''Yawes, saya pergi dulu. Asalamualaikum.'' Ucap ustad Ilham.


Lula juga tidak menjawab salam ustad Ilham, ia berpura-pura fokus dengan makananya.


Ustad Ilham pergi menuju masjid ponpes, ia merasa sedikit khawatir kepada istrinya. Tapi ia yakin Lula akan baik-baik saja.


Di rumah ustad Zaki.


''Umi?'' pangil ustad Zaki.


''Nggeh abi.'' Jawab umi Lihah.


''Abi bisa minta tolong? Umi bisa kerumah ustad Ilham? Kasihan istrinya, sendirian disana. Dia baru pindah kesini, mungkin dia merasa kesepian.'' Ucap ustad Zaki.


''Nggeh abi, mangkeh umi sama Hanifah kesana.'' Ucap umi Lihah.


( Mangkeh : nanti ).


''Yawes, abi berangkat dulu. Asalamualaikum.'' Ucap ustad Zaki.


''Waalaikumsalam.'' Ucap umi Lihah.


''Hanifah! Nak, kemari!'' Panggil umi Lihah.


''Nggeh umi. Ada apa?'' Ucap Hanifah.

__ADS_1


''Kita di minta abi untuk menemani istri ustad Ilham, pasti dia kesepian. Ayo!" Ucap umi Lihah.


Mereka pergi menuju rumah ustad Ilham, jarak rumah mereka tidak begitu jauh hanya berjarak 100 meter.


Di rumah ustad Ilham.


Lula tengah membongkar isi kopernya. Ia benar-benar heran, mamanya begitu bersungguh-sungguh ingin dia menjadi wanita yang tertutup. Dari sekian banyak pakaian yang mama Ira masukan, tidak ada satupun pakaian tidur sexynya. Untung saja Lula telah membawa beberapa pakaian tidur.


''Mama keterlaluan banget si, masa dari sekian banyak baju kagak ada baju tidur gua. Untung aja gua bawa, kalo engak? Ckck kagak bakal bisa tidur nyenyak gua.'' Ucap Lula.


Model baju tidur Lula.



Tok Tok.


''Asalamualaikum mbak Lula.'' Salam umi.


''Waalaikumsalam, siapa ya?'' Ucap Lula.


''Ini umi Lihah dan Hanifah, mbak.'' Ucap umi Lihah.


''Apa umi dan Hanifah saja? tidak ada yang lain kan?'' Tanya Lula.


''Nggeh mbak.'' Jawab umi Lihah.


''Dia larang gua buka pintu saat pakai baju ini, tapi apa gua akan nurut? Tentu tidak. Dan pas banget ada Hanifah. Sekali tepuk dua lalat tertangkap.'' Ucap Lula dengan senyuman licik.


'' Masuk aja umi, gak di kunci kok!'' Ucap Lula.


''Umi masuk ya! Asalamualaikum.'' Ucap umi Lihah.


Mereka masuk kedalam rumah ustad Ilham.


''Hanifah? Tolong tutup pintunya ya!'' Ucap Lula dari arah dapur.


''Nggeh mbak.'' Ucap Hanifah seraya menutup pintu.


Lula keluar dengan baju tidur sexynya, sontak umi Lihah dan Hanifah terkejut.


''Maaf ya, sebentar.'' Ucap Lula seraya pergi kekamarnya.


Sangking terkejutnya, umi Lihah dan Hanifah tidak menjawab ucapan Lula.


Lula keluar dengan mengenakan kain yang ia gunakan untuk menutupi pundaknya, tetapi Lula masih mengenakan baju tidur itu.


Lula duduk di kursi samping umi Lihah.


''Aduh maaf ya umi…Hanifah. Sebenarnya aku sedang merapikan pakaian, setelah itu mau tidur. Jadi aku pakai pakaian kaya gini.'' Ucap Lula.


''Iya ndak papa mbak.'' Ucap umi.


''Oh iya, aku buatin minum dulu.'' Ucap Lula.


Lula pergi kedapur, dia membuat teh untuk umi Lihah dan Hanifah. Setelah selesai membuat teh, Lula kembali ke ruang tamu.


''Ini tehnya. Ayo di minum!'' Ucap Lula.

__ADS_1


''Nggeh, terima kasih.'' Ucap umi Lihah.


''Emm ngomong-ngomong, ada apa ya umi dan Hanifah kemari?'' Ucap Lula.


''Ustad Zaki meminta kita menemani kamu, beliau berkata acara ini sampai larut malam.'' Ucap umi Lihah.


''Oh oke. By the way, aku boleh tanya sesuatu ke umi?'' Ucap Lula.


''Iya, silahkan?'' Ucap umi Lihah.


''Umi dan sekeluarga pasti dekat dengan ustad Ilham. Aku mau tanya, ustad Ilham mondok di sini dari umur berapa?" Tanya Lula.


"Ustad Ilham mondok di sini sejak umur 5 tahun, karena ibunya telah meninggal sejak saat dia masih kecil.'' Jelas umi Lihah.


''Oh iya umi. Ngomong- ngomong, apa tidak ada yang mengajukan taaruf untuk ustad Ilham? Maksud aku, dia pria baik, sabar, lembut, soleh, dewasa dan aku pikir pasti banyak perempuan yang menyukainya.'' Ucap Lula.


"Ihh geli banget gua muji-muji dia, bisa pait ni mulut.'' Batin Lula.


Umi Lihah menatap Hanifah. Lula yang melihat itu kini dia mengerti, apa yang sebenarnya terjadi?.


''Emm ada tapi mungkin dia bukan jodoh ustad Ilham, melainkan kamu.'' Jelas umi Lihah.


''Iya umi, aku bersyukur banget bisa menjadi istrinya. Dia sangat baik, aku sering buat dia marah tapi ustad Ilham tidak pernah memarahiku. Dia juga sangan manis, aku sangat bahagia bersamanya.'' Ucap Lula.


''Itu semua adalah kebohongan.'' Batin Lula.


''Alhamdulillah jika mbak Lula bahagia dengan pernikahanya. Semoga sakinah mawaddah warahmah.'' Ucap umi Lihah.


''Amin umi.'' Ucap Lula.


Mereka mengobrol hingga jam 20:30, karna sudah larut mereka memutuskan untuk pulang.


''Kami permisi dulu mbak Lula, salam untuk ustad Ilham. Asalamualaikum.'' Salam umi Lihah.


''Asalamualaikum mbak.'' Salam Hanifah.


''Waalaikumsalam, maaf ya tidak bisa mengantar kedepan rumah.'' Ucap Lula.


''Ndak papa mbak.'' Ucap umi Lihah.


Di dalam perjalanan, Hanifah nampak murung. Dia selalu memikirkan ucapan Lula. Hanifah melihat betapa bahagianya mereka hidup bersama.


''Hanifah, nak. Lupakan dia ya, dia sudah bahagia dengan istrinya. Umi yakin jodoh Hanifah juga akan membuat kamu bahagia.'' Ucap umi Lihah.


''Nggeh umi. Hanifah terus mencoba, mungkin butuh waktu.'' Ucap Hanifah.


''Umi tau sayang, ndak papa.'' Ucap Umi Lihah.


Di rumah ustad Ilham.


Lula nampak bahagia, selama ini kecurigaanya terbukti benar.


''Sekarang gua bisa gunain ini buat nyakitin hati om ustad itu, dan kalau dia udah gak kuat sama kelakuan gua, dia pasti cerein gua.'' Ucap Lula dengan gembira.


''Dan si Hanifah itu, pasti dia iri banget sama gua. Ck, kasian sekali.'' Ucap Lula.


----------------------------------------

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novelku😊


Jangan lupa vote dan like ya😊


__ADS_2