
Tiba-tiba pintu terbuka, Ustad Ilham pulang dengan keadaan basah kuyup.
''Asalamualaikum,'' ucap Ustad Ilham dengan nada lirih.
Lula tak menghiraukan salam Ustad Ilham, ia malah fokus kepada tetesan air yang menetes dari pakaian Ustad Ilham dan membasahi lantai.
''Eh tu airnya pada netes kelantai, lo harus pel! Gua gak mau ya, nanti gua jatuh gara-gara air lo itu,'' ucap Lula.
Ustad Ilham tak menjawab ucapan Lula, ia menatap Lula dengan tatapan sendu.
''Apa kamu ndak khawatir, Dek?'' batin Ustad Ilham.
Bergegas ia masuk kedalam kamarnya untuk mengambil pakaian, setelah mengambil pakaian, Ustad Ilham berjalan menuju kamar mandi untuk mandi agar ia tidak demam.
Setelah selesai, lantas Ustad Ilham mengepel lantai yang basah seperti kata Lula tadi. Setelah selesai ia kembali kedapur. Tiba-tiba saja perutnya terasa sangat sakit.
''Ahh Ya Allah, kok rasanya sakit sekali. Tadi cuma perih tapi kenapa sekarang sakit sekali,'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham teringat kalau dia sedari pagi tidak makan apapun, lantas ia membuka tudung saji, Ustad Ilham mencicipi masakannya yang ia buat untuk sarapan pagi tadi.
''Semuanya sudah basi, ahh,'' ucap Ustad Ilham.
Ia merasakan perutnya semakin sakit, Ustad Ilham berjalan tertatih-tatih seraya memegangi perutnya, ia mengambil panci dan mengisinya dengan air. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan sakit. Ustad Ilham terjatuh di lantai, ia merasakan seluruh badanya terasa sakit.
''Dek? Dek?'' ucap Ustad Ilham lirih.
Ustad Ilham terus memanggil Lula, ia tahu Lula tidak akan mendengarnya. Badanya benar-benar lemah, untuk berteriak saja Ustad Ilham tak mampu.
Di sisi lain, tiba-tiba Lula merasa hatinya gelisah, ia memegangi dadanya yang tiba-tiba saja berdenyut.
''Ahh, kok perasaan gua gak enak ya?'' ucap Lula.
Tiba-tiba saja ia memikirkan Ustad Ilham.
''Om? Om, lo denger gua gak?'' ucap Lula.
Karena tidak ada jawaban dari Ustad Ilham, Lula pergi menghampirinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat Ustad Ilham tergeletak di lantai dengan tubuh bergetar.
''Ya Allah, lo kenapa? Ah panas benget badan lo,'' ucap Lula.
Lula melihat nafas Ustad Ilham terpotong-potong dan berbunyi.
''Aduh, pasti kambuh lagi asmanya,'' ucap Lula.
Bergegas ia kekamar Ustad Ilham untuk mengambil inhaler. Setelah menemukan barang yang di cari, bergegas Lula kembali kedapur.
''Om, ayo bangun! Om!" panggil Lula.
Ustad Ilham tidak menjawab panggilan Lula, ia terus meracau memanggil Lula.
''Iya, ini gua. Ayo bangun, ini perintah!'' ucap Lula agar Ustad Ilham terbangun.
Ustad Ilham membuka sedikit matanya.
''Dek?'' ucap Ustad Ilham dengan lemah.
Uhuk uhuk.
__ADS_1
Ustad Ilham terbatuk-batuk karena penyakitnya.
''Ayo duduk!'' ucap Lula.
''Perutku sakit, dadaku juga sakit'' ucap Ustad Ilham dengan lirih.
''Iya, gua tau. Sekarang lo duduk, gua bantu!'' ucap Lula.
Lula mengunakan kakinya untuk menopang tubuh Ustad Ilham dan tangannya merangkul pundak Ustad Ilham. Ustad Ilham mengunakan inhalernya sedangkan Lula melepas kancing atas baju koko sang suami.
''Habis,'' ucap Ustad Ilham.
''Apa?'' ucap Lula.
Tanpa basa basi Lula menyandarkan Ustad Ilham di dinding, setelah itu ia mengambil inhaler di kamarnya. Setelah menemukanya, bergegas Lula menghampiri Ustad Ilham. Lula membantu Ustad Ilham mengunakan inhalernya. Setelah di rasa membaik, Lula mengajak Ustad Ilham untuk masuk kedalam kamar.
''Kita kekamar ya, gua bakal bantu lo,'' ucap Lula dengan lembut.
Jujur Lula merasa kasihan melihat Ustad Ilham kesakitan seperti itu, sebenarnya ia ingin memarahi Ustad Ilham soal Hanifah, tapi ia urungkan niatnya itu.
Lula membantu Ustad Ilham berdiri, karena terlalu pusing, Ustad Ilham hampir terjatuh, tapi untung saja Lula bisa menopangnya.
''Maaf,'' bisik Ustad Ilham.
''Kita kekamar,'' ajak Lula.
Saat berjalan, Ustad Ilham selalu meringis kesakitan. Dengan penuh perjuangan dan kesakitan, akhirnya mereka masuk kedalam kamar Ustad Ilham. Lula membantu Ustad Ilham membaringkan badanya di atas kasur. Bergegas Lula mengambil obat maag yang sengaja ia beli untuk berjaga-jaga. Setelah mendapatkan obatnya, Lula langsung memberikan obat itu kepada Ustad Ilham.
''Ayo, makan obatnya!" ucap Lula.
"Gak papa, obat ini aman di konsumsi sebelum makan. Lo gak percaya ya sama gua, hem?'' ucap Lula.
''Endak,'' ucap Ustad Ilham.
''Ayo!'' ucap Lula.
Lula memberikan obat itu kepada Ustad Ilham, lantas Ustad Ilham memakannya.
''Gua buatin makan dulu. Kalo perut lo sakit banget, lo panggil gua!'' ucap Lula.
Ustad Ilham hanya mengangguk. Lula pergi kedapur untuk membuat makanan.
''Gua masak apa ya? Bubur aja kali ya? Nasi ada, santan?'' ucap Lula.
Lula membuka rak penyimpanan, ia menemukan santan instan.
''Nah, untung santannya ada. Oke, mari kita mulai!" ucap Lula.
Lula nampak binggung, bahan apa yang harus ia masukan terlebih dulu.
''Nasi apa santan dulu ya? Kalo nasi kan udah mateng, kalo santan pasti langsung menguap, kan isinya dikit. Ahh bodoh banget si, kan ada youtube. Jangan sampai lo jadi kayak suami lo itu deh, primitif!" ucap Lula.
Lula mencari tutorial memasak bubur, setelah menemukan yang ia cari, Lula langsung mengikuti seperti dalam video itu. Setelah selesai, ia letakan bubur kedalam mangkuk, Lula nampak bangga dengan hasil masakannya.
''Wow, gua benar-benar hebat, baru pertama kali bikin bubur dan hasilnya selembut ini. Gua yakin, kalo gua ikut ajang masak-masak, pasti gua bakal menang,'' ucap Lula memberi apresiasi kepada dirinya sendiri.
''Foto ah, abis tu gua posting deh,'' ucap Lula.
__ADS_1
Lula mengambil beberapa foto dengan sudut pandang berbeda-beda, karena terlalu asik, Lula seakan-akan melupakan untuk siapa ia membuat bubur itu?. Saat Lula menatap bubur itu, ia langsung teringat dengan Ustad Ilham.
''Aduh,'' ucap Lula.
Bergegas ia membawa bubur itu kedalam kamar Ustad Ilham. Ia melihat Ustad Ilham tertidur dengan posisi meringkuk dengan tubuh bergetar dan selalu memegangi perutnya
''Kasihan banget si,'' bisik Lula.
Lula duduk di tepi ranjang, ia mengusap keringat yang ada di dahi Ustad Ilham. Moment ini terlihat seperti Lula sangat menyayangi suaminya.
''Ustad, Ustad, ayo bangun!'' ucap Lula.
Akan tetapi Ustad Ilham tidak menjawab ataupun membuka matanya.
''Ustad, ayo bangun!'' ucap Lula seraya mengusap-usap wajah Ustad Ilham.
Ustad Ilham terbangun, ia sedikit tidak menyangka jika istrinya itu memperlakukanya dengan lembut. Lula membantu Ustad Ilham duduk, ia mulai menyuapi bubur buatanya kedalam mulut Ustad Ilham.
''Aaaa, buka mulutnya!" ucap Lula.
Dengan senang hati Ustad Ilham menerima makanan dari Lula, saat bubur itu masuk kedalam mulutnya, terasa sedikit asin dan berair.
''Gimana enak, kan? Pasti enak lah, kan gua yang bikin!" ucap Lula.
''Iya,'' ucap Ustad Ilham.
Ia berbohong agar Lula bahagia.
''Lo harusnya bangga, bubur ini tu masakan pertama gua dan lo orang pertama yang gua masakin. Jadi lo patut berbangga, ngerti!" ucap Lula dengan bangga.
Ustad Ilham hanya makan beberapa suap karena perutnya tiba-tiba mual.
''Ehh jangan muntah dong, nanti gua ikutan muntah!" ucap Lula.
"Ya udah, sekarang lo minum obatnya dulu, baru tidur,'' ucap Lula.
Lula memberikan obat dan Ustad Ilham meminumnya. Setelah itu, Lula membantu Ustad Ilham berbaring di kasur.
''Masih pusing ya?'' ucap Lula.
Ustad Ilham hanya mengangguk.
''Lo tidur, ya! Gua bakal jagain lo,'' ucap Lula.
Dengan senang dan tenang, Ustad Ilham mulai menutup matanya, Lula menyelimuti Ustad Ilham hanya dengan sarung karena ia teringat jika orang demam di anjurkan tidak memakai selimut yang terlalu tebal karena akan menghambat penguapan suhu badanya. Lama Lula menjaga Ustad Ilham, akhirnya ia lelah dan ingin tidur. Saat Lula akan meninggalkan Ustad Ilham, tiba-tiba badan Ustad Ilham menggigil dan ia mengigau memanggil nama sang istri seakan-akan ia tak mau jika Lula pergi meninggalkannya.
''Lula,'' racau Ustad Ilham.
''Kok menggigil lagi?'' ucap Lula.
''Lula, Dek,'' racau Ustad Ilham.
''Iya, gua di sini, gua gak akan kemana-mana!'' ucap Lula.
Namun, Ustad Ilham selalu meracau memanggil Lula, tubuh Ustad Ilham semakin menggigil. Lula teringat akan satu hal yang gila menurutnya. Lula naik ke atas kasur dan tidur di sebelah Ustad Ilham, ia menarik sang suami kedalam pelukanya, Lula mengelus-elus pundak Ustad Ilham dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain mengelap keringat di dahi Ustad Ilham. Merasakan ada hal yang hangat, tanpa sadar Ustad Ilham lebih merapatkan lagi dirinya. Lula terus mendekap Ustad Ilham, agar Ustad Ilham merasa hangat dan nyaman.
Terima kasih telah membaca novelku😊
__ADS_1