
Kini mereka telah sampai di aula pertemuan, Lula duduk di sisi kursi untuk perempuan sedangkan Ustad Ilham duduk di sisi kursi laki-laki. Lula duduk tepat di samping Hanifah, ia sengaja duduk di sampingnya karena Ustad Ilham yang akan menjadi pembicara di musyawarah ini, Lula ingin melihat ekspresi Hanifah yang menurutnya menyebalkan sekaligu membuatnya senang.
''Asalamualaikum,'' salam Lula kepada Hanifah.
''Waalaikumsalam, Mbak,'' jawab Hanifah.
''Boleh duduk di sini, kan?'' tanya Lula.
''Nggeh Mbak, monggo!" ucap Hanifah.
Di depan semua orang, Ustad Ilham memulai musyawarah hari ini.
''Asalamualaikum warrahmatullahi wabbarakatuh,'' salam Ustad Ilham.
Dengan serentak semua orang menjawab salam Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam warrahmatullahi wabbarakatu,'' jawab mereka.
Ustad Ilham memulai pembicaraanya dan terlihat Hanifah sangat fokus terhadap Ustad Ilham.
''Apa ada masukan dari Ustad atau Ustadzah?'' tanya Ustad Ilham kepada para Ustad dan Ustadzah.
Hanifah mengangkat tanganya.
''Monggo, Mbak Hanifah!'' ucap Ustad Ilham.
Hanifah berdiri dari duduknya.
''Saya ada usulan Ustad, dari dulu kita selalu mengadakan lomba hanya untuk para santri. Bagaimana jika kali ini para Ustad dan Ustadzah ikut andil dalam perlombaan kali ini?'' ujar Hanifah.
Terlihat semua orang mengangguk tanda setuju atas usulan Hanifah. Yang awalnya Lula ingin membuat Hanifah kesal, tapi malah sebaliknya, ia yang di buat kesal oleh Hanifah.
''Apa para Ustad Dan Ustadzah menyetujui usulan dari Mbak Hanifah?'' tanya Ustad Ilham.
''Nggeh Ustad,'' jawab para Ustad dan Ustadzah.
Ada yang mengusulkan untuk membuat lomba khusus para pasangan suami istri dan mereka semua setuju, sontak hal itu membuat Lula bahagia.
__ADS_1
''Allah berada di pihak gua, Hanifah!" batin Lula.
Setelah beberapa saat, musyawarahpun berakhir. Lula tak langsung pulang, ia menunggu Ustad Ilham yang tengah berbincang dengan salah satu Ustad mengenai hal lain. Lula ingin sekali meninggalkan Ustad Ilham, tapi niat itu ia urungkan karena ia berpikir hal itu akan mengores sedikit image / kesan yang selama ini ia bangun.
''Kalo begitu saya pamit dulu Ustad, asalamualaikum,'' salam Ustad itu.
''Nggeh, waalaikumsalam,'' jawab Ustad Ilham.
Ustad Ilham menghampiri Lula, terlihat Lula sangat marah terhadap Ustad Ilham.
''Maaf ya,'' ucap Ustad Ilham.
Tanpa mengucap satu patah katapun, Lula berjalan meninggalkan Ustad Ilham, lantas Ustad Ilham mengejarnya.
Sesampainya di rumah, Lula langsung masuk kekamarnya. Hal itu membuat Ustad Ilham berpikir bahwa Lula tengah marah kepadanya.
Tok Tok.
''Dek, maafkan saya ya? Saya salah membuat kamu menunggu, maaf ya?'' ucap Ustad Ilham.
''Gua gak marah, cuma sebel aja. Gua keasrama putri dulu,'' ucap Lula yang langsung meninggalkan Ustad Ilham.
Ustad Ilham merasa bersalah kepada Lula.
Di asrama putri.
Lula bertanggung jawab untuk ekstra kulikuler menjahit, walaupun ia tidak bisa menjahit tapi Lula pandai dalam hal fashion dan desain.
Lula memulai kelasnya.
''Asalamualaikum warrahmatullahi wabbarakatuh,'' salam Lula.
''Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh,'' jawab para murid serentak.
Lula memulai bimbinganya, ia mengawasi murid-muridnya. Jika ada yang salah, Lula akan memperbaikinya.
Karena telah mendekati waktu sholat ashar, Lula mengakhiri kelasnya.
__ADS_1
''Baiklah anak-anak, karena waktunya sholat ashar, pertemuan hari ini saya akhiri. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,'' ucap Lula.
''Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,'' ucap para murid serentak.
Lula keluar dari ruang kelasnya, tapi ia tak langsung pulang melainkan mengontrol para santiwati terlebih dahulu. Setelah selesai dengan urusannya, Lula memutuskan untuk kembali kerumahnya. Tampak Ustad Ilham menyambut kedatangan sang istri.
''Asalamualaikum, Dek,'' salam Ustad Ilham.
Lula tak menghiraukan Ustad Ilham, ia langsung masuk kedalam rumah. Ustad Ilham mengikuti Lula.
''Dek, kita kepasar malam yuk?" ucap Ustad Ilham.
"Emang di sini ada pasar malam?'' tanya Lula.
''Ada, baru saja selesai dan malam ini sudah di buka. Pasar malamnya di mulai malam ini sampai malam minggu besok, ucap Ustad Ilham.
''Ogah ah males, lagian lo jadi Ustad harus memberikan contoh yang baik dong, masa murid-muridnya gak boleh keluar tapi Ustadnya keluyuran,'' ucap Lula.
''Kamu tenang saja, santri juga boleh pergi kesana, hanya saja bergiliran. Kita kesana ya?'' ucap Ustad Ilham.
''Gak!" ucap Lula dengan tegas.
"Dek?'' ucap Ustad Ilham.
''Engak!'' ucap Lula.
Ustad Ilham menunjukan ekspresi memelas kepada Lula seraya memegang dan mengoyang-goyangkan ujung kerudung Lula. Lula yang melihat Ustad Ilham bertingkah seperti anak kecil merasa geli, akhirnya Lula memilih untuk mengalah dan menyetujui ajakan sang suami.
''HAH, oke oke kita pergi malam ini,'' ucap Lula.
Ustad Ilham tersenyum lebar.
''Terima kasih,'' ucap Ustad Ilham.
''Kayak anak kecil aja,'' ejek Lula.
Terima kasih telah membaca novelku😊
__ADS_1