
Ustad Ilham dan Lula berkeliling mencari baju dan perlengkapan bayi. Suasana pasar yang panas dan ramai membuat Lula tidak nyaman.
"Ihh panas banget si! Mana ramai banget lagi, kepala gua pusing banget ni,'' ucap Lula.
''kepala kamu pusing? Em kita cari tempat duduk dulu ya?" ucap Ustad Ilham.
"Em gak usah deh, nanti malah makin siang makin rame lagi,'' ucap Lula.
"Yawes, biar Ali sama aku,'' ucap Ustad Ilham.
Lula menyerahkan Ali kepada Ustad Ilham.
''Ayo!'' ucap Ustad Ilham seraya menggandeng tangan Lula.
Karena tidak tau dimana harus mencari toko perlengkapan bayi, Ustad Ilham dan Lula hanya berputar-putar di pasar.
''Ih sebenarnya lo tau gak si dimana toko perlengkapan bayi?'' tanya Lula.
Ustad Ilham mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia juga tidak tau dimana toko perlengkapan bayi.
''Emm sebenarnya aku juga tidak tau Dek,'' ucap Ustad Ilham.
''Haa, lo gak tau? Ahh percuma dong kita muter-muter pasar,'' ucap Lula.
''Maaf ya,'' ucap Ustad Ilham.
Lula terlihat sangat marah kepada Ustad Ilham, ia duduk di depan toko dan ia tidak mau lagi pergi mencari baju bayi.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil nama Ustad Ilham.
''Ustad Ilham?'' suara seseorang.
Ustad Ilham menoleh kesana-kemari mencari asal suara tersebut.
''Ustad!'' panggil orang itu.
Ustad Ilham melihat kearah Ibu-Ibu yang memanggilnya dan tersenyum kepadanya.
"Mampir dulu!'' ucap Ibu itu.
Ustad Ilham mengandeng tangan Lula dan mengajaknya menghampiri ibu itu.
''Asalamualaikum Bu Aminah,'' salam Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam Ustad, lama ndak kesini, tak pikir Ustad kenapa-kenapa?'' ucap Bu Aminah.
"Alhamdulillah saya sehat Bu, terima kasih atas perhatiannya," ucap Ustad Ilham.
Bu Aminah adalah seorang pedagang baju langganan Ustad Ilham.
Bu Aminah memandangi Lula dengan pandangan menyelidik, Ustad Ilham yang sadar akan hal itu, ia langsung memperkenalkan Lula kepada Bu Aminah.
__ADS_1
"Perkenalkan Bu, ini Istri saya dan ini anak saya,'' ucap Ustad Ilham.
Lula mengulurkan tangannya dan mencium tangan Bu Aminah.
''Kok nikah ndak undang Ibu si?'' tanya Bu Aminah.
"Majelis pernikahan sederhana Bu, cuma ijab saja dan memang ndak mengundang siapa-siapa. Maaf nggeh Bu,'' ucap Ustad Ilham.
"Ya sudah, ndak pa-pa. Ibu berdoa semoga keluarga kalian jadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah,'' ucap Bu Aminah.
"Amin ya Allah. Terima kasih doanya Bu,'' ucap Ustad Ilham.
"Oh ya, namanya siapa?" tanya Bu Aminah.
"Nama saya Lula Bu,'' ucap Lula.
"Masya Allah nama yang cantik, secantik wajahnya. Pintar Ustad cari istri,'' puji Bu Aminah.
"Alhamdulillah Bu,'' ucap Ustad Ilham.
"Dia mah Alhamdulillah, nah gua?'' batin Lula.
Lula tersenyum.
"Ngomong-ngomong tadi Ibu perhatikan kalian dari tadi cuma muter-muter saja, kalian cari apa?" tanya Bu Aminah.
"Kami sedang cari baju dan perlengkapan bayi Bu. Dari tadi cari-cari ndak ketemu-ketemu,'' ucap Ustad Ilham.
"Alhamdulillah, nggeh Bu,'' ucap Ustad Ilham.
"Ayo-ayo masuk, pilih-pilihnya di dalam saja, di sini panas!" ucap Bu Aminah.
Ustad Ilham dan Lula masuk kedalam toko Bu Aminah. Bu Aminah mengeluarkan semua perlengkapan bayi dari mulai baju, celana, selimut dan lain-lain. Ustad Ilham dan Lula tengah fokus memilih-milih barang-barang untuk Ali. Bu Aminah membuka obrolan.
"Bayi yang cantik ini namanya siapa?" tanya Bu Aminah.
Ustad Ilham dan Lula saling tersenyum.
"Namanya Ali," ucap Lula.
"Owalah laki-laki toh, tak kirain cewek, habisnya cantik banget si. Em Ibu boleh gendong?" ucap Bu Aminah.
Ustad Ilham menyerahkan Ali kepada Lula dan Lula menyerahkan Ali kepada Bu Aminah.
"Aduh-aduh gantengnya," ucap Bu Aminah.
Ustad Ilham hanya tersenyum melihat interaksi antara Ali dan Bu Aminah.
"Eh, kalau di lihat-lihat Ali mirip ya sama kalian. Lihat, alisnya, hidungnya mirip sama Ustad Ilham, sedangkan mata dan bibir sangat mirip dengan Uminya," ucap Bu Aminah.
Ustad Ilham dan Lula saling memandang setelah mendengarkan ucapan Bu Aminah. Lula bergantian memandang Ali, ia mencari kebenaran atas ucapan Bu Aminah.
__ADS_1
"Kalau di liat-liat bener juga ya, Ali memang mirip gua dan Ustad Ilham. Ihh kok bisa ya, pertanda apa ini?" batin Lula.
Setelah selesai membeli perlengkapan bayi, Ustad Ilham dan Lula kembali melanjutkan perjalananya menuju klinik anak.
Setelah selesai memeriksakan kondisi Ali dan keadaanya baik-baik saja, mereka langsung pulang kembali ke Pondok Pesantren.
"Asalamualaikum," salam Ustad Ilham.
Ustad Ilham menyandarkan tubuhnya di kursi ruang tamu, sedangkan Lula masuk kedalam kamar untuk menidurkan Ali yang sedari tadi sudah tertidur. Setelah menidurkan Ali, Ustad Ilham dan Lula melaksanakan sholat berjamaah, setelah sholat Lula merebahkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Dek, hari ini kamu mau makan apa?" ucap Ustad Ilham.
"Tumben tanya gua mau makan apa? Biasanya juga masak seadanya," ucap Lula.
"Hari ini kamu pasti lelah, jadi aku pengen masakin makanan yang kamu suka," ucap Ustad Ilham.
"Gua lagi gak pengen apa-apa," ucap Lula seraya bangun dan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang sembari memijat-mijat pundaknya.
"Ah pegel banget," Lula memberi kode kepada Ustad Ilham agar ia mau memijat Lula.
"Habis makan nanti aku pijit. Aku masak dulu ya," ucap Ustad Ilham.
Setelah makan siang selesai, kini Ustad Ilham tengah memijat badan Lula.
"Kamu masih ingat kan kata Dokter tadi?" tanya Ustad Ilham.
"Iya, gua masih ingat jelas kok," ucap Lula.
"Kita harus benar-benar menjaga Ali agar dia selalu hangat!" ucap Ustad Ilham.
Tampak raut wajah sedih terpancar jelas di wajah Ustad Ilham.
"Kasihan dia 'kan? Apapun masalah yang mereka hadapi, tidak seharusnya mereka membuang darah dagingnya sendiri. Jika mereka tidak sanggup merawat anak, mereka bisa menitipkannya kepada Panti asuhan atau Yayasan sosial, tidak membuangnya begitu saja tanpa memikirkan kondisi sang bayi," sambung Ustad Ilham.
Lula bangun dan duduk di depan Ustad Ilham, ia tersenyum dan mengelus-elus lengan Ustad Ilham.
"Sekarang kan ada lo, gua yakin lo pasti bisa jadi Abi yang baik untuk Ali," ucap Lula.
"Dan kamu akan jadi Umi yang terbaik untuk Ali," ucap Ustad Ilham.
"Lo bercanda. Gua bukan wanita solehah yang taat, perilaku gua juga buruk. ck, jadi istri aja gua kagak becus, apa lagi ini jadi Ibu?" ucap Lula.
Ustad Ilham tersenyum dan memegang tangan Lula.
"Aku juga bukan laki-laki yang sangat taat kepada Allah SWT, tidak ada satupun manusia yang sempurna, karena sejatinya manusia adalah tempatnya salah dan dosa, tapi jika kita bisa memperbaiki diri kita menjadi hamba yang lebih baik lagi, Allah akan sangat senang dan bangga dengan hamba-NYA. Dan menurutku kamu adalah istri terbaik di dunia dan aku sangat bersyukur memiliki kamu, dan aku yakin kamu juga akan menjadi Ibu terbaik di dunia," ucap Ustad Ilham.
"Haha, kalau mau bohong jangan terlalu mencolok dong, biasa aja. Huft, aku masih gak yakin,'' ucap Lula.
Ustad Ilham memperet genggamanya.
"Aku yakin kamu pasti bisa!" ucap Ustad Ilham.
__ADS_1
Terima Kasih telah membaca novelku.