Imamku

Imamku
Menjadi pengurus Ponpes.


__ADS_3

Sudah satu minggu lebih Lula tinggal bersama Ustad Ilham, ia hanya tinggal di rumah dan bersantai riya di kamarnya. Ustad Ilham menyarankan agar Lula ikut membantu mengurus ponpes.


''Dek, kamu bosen ndak di rumah terus?'' tanya Ustad Ilham.


''Bosenlah! Pake tanya lagi,'' ketus Lula.


''Emm kalo gitu, gimana kalo kamu ikut urusin ponpes? Saya yakin kamu akan suka itu,'' ucap Ustad Ilham.


''What! Ogah ah males,'' ucap Lula.


''Tapi saya ndak enak sama Ustad dan Ustadzah yang lain. Mau ya, saya mohon!'' ucap Ustad Ilham.


"Gak!" ucap Lula.


Lula masuk kembali kedalam kamarnya. Ustad Ilham hanya bisa menghela nafas panjang, ia tidak bisa terlalu memaksa istrinya itu. Ustad Ilham berpamitan kepada Lula karena ada acara malam di ponpes.


''Dek, saya pergi dulu ya. Asalamualaikum,'' ucap Ustad Ilham.


Di dalam kamar Lula.


''Gila ya, masa gua harus ikut ngurus pondok, males banget. Gua aja sholat kagak pernah, ini lagi harus uber-uber anak buat sholat,'' oceh Lula.


Lula merebahkan tubuhnya di atas kasur seraya memainkan ponselnya, lama kelamaan ia mulai merasa bosan.


''Ih gak jelas banget semua kontenya, gak bermutu banget. Ahh ngebosenin banget si hidup gua, saben hari cuma di kamar, makan, main ponsel ampe sepet ni mata. Seandainya gua di Jakarta, pasti hidup gua penuh dengan warna,'' keluh Lula.


Tiba-tiba Lula memikirkan tentang usulan Ustad Ilham.


''Apa gua terima aja ya usulan si Om, gua juga bisa manfaatin bocah-bocah itu, mereka bisa gua suruh ini itu. Ahh ya ya gua terima aja kerjaan ini, ya gua yakin pasti gak di gaji, tapi gak papa deh,'' pikir Lula.


Lula memutuskan untuk pergi tidur karena tidak ada yang bisa ia lakukan.


Ba'da subuh Ustad Ilham baru pulang, ia langsung memasak sarapan untuknya dan sang istri. Setelah selesai memasak, Ustad Ilham mengambil pakaian dan akan pergi mandi. Saat membuka pintu, Ustad Ilham terkejut karena Lula berdiri tepat di depanya.


''Astagfirullahaladzim,'' ucap Ustad Ilham.


''Alay, minggir!'' perintah Lula.


Ustad Ilham keluar dari kamar mandi, dan menyiapkan makanan untuk Lula. Lula keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di kursinya, ia langsung memakan masakan Ustad Ilham.


Lula teringat akan keinginanya tadi malam.


''Gua terima tawaran Lo,'' ucap Lula seraya mengunyah.


''Tawaran apa, ya?'' tanya Ustad Ilham yang tak paham maksud Lula.

__ADS_1


''Bener-bener dah tua bangka, tawaran lo tadi malem soal gua ikut urusin pondok,'' ketus Lula.


''Ohh yang itu, apa kamu serius?'' ucap Ustad Ilham.


''Ya, gua serius,'' ucap Lula.


''Alhamdulillah kalo seperti itu,'' ucap Ustad Ilham kegirangan.


Setelah selesai sarapan, Lula bergegas bersiap-siap. Setelah selesai, Ustad Ilham mengantar Lula kerumah Ustad Zaki. Di tengah perjalanan, Lula selalu mengandeng tangan Ustad Ilham, hanya saat di luar rumah saja Ustad Ilham benar-benar merasa bahwa Lula adalah istrinya.


Sesampainya di depan rumah Ustad Zaki, terlihat Hanifah keluar dari rumah.


''Asalamualaikum,'' salam Ustad Ilham.


''Asalamualaikum,'' salam Lula.


''Waalaikumsalam,'' jawab Hanifah.


''Ustad Zaki ada?'' tanya Ustad Ilham.


''Nggeh, ada Ustad. Monggo masuk dulu,'' icap Hanifah.


Mereka masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu. Tak selang lama, Ustad Zaki datang bersama Umi Lihah.


''Asalamualaikum,'' salam Ustad Zaki dan Umi Lihah bersamaan.


''Ada yang bisa saya bantu?'' ucap Ustad Zaki.


''Ini Ustad, istri saya, dia ingin membantu mengurus Pondok Pesantren ini Ustad. Apa di perbolehkan?'' ucap Ustad Ilham.


''Masya Allah tentu saja boleh Ustad,'' ucap Ustad Zaki.


''Alhamdulillah jika mbak Lula ikut andil di dalam Ponpes ini,'' ucap Umi Lihah.


''Alhamdulillah,'' ucap Ustad Ilham.


''Kalo begitu mbak Lula ikut saja dengan Hanifah, dia juga akan ke asrama putri,'' ucap Umi Lihah.


''Hanifah, Nak,'' panggil Umi Lihah.


''Nggeh Umi,'' ucap Hanifah.


''Ajak mbak Lula berkeliling asrama putri ya, mbak Lula akan bantu-bantu di sana,'' ucap Umi Lihah.


''Nggeh Umi, mari mbak,'' ucap Hanifah.

__ADS_1


Hanifah mencium tangan Umi dan Abinya, lalu Lula mencium tangan Umi Lihah dan bergantian mencium tangan Ustad Ilham.


''Aku pergi dulu ya,'' ucap Lula kepada Ustad Ilham.


''Iya,'' jawab Ustad Ilham.


Hanifah yang melihat itu masih merasa sedikit sedih, pasalnya dari dulu dia sudah mencintai Ustad Ilham.


''Asalamualikum,'' salam Lula.


''Asalamualikum,'' salam Hanifah.


Di perjalanan mereka tak saling mengobrol, Lula yang merasa tidak nyaman memulai membuka pembicaraan dengan Hanifah.


''Anak-anak di sini bandel-bandel gak?'' tanya Lula.


''Ndak mbak, mereka anak yang baik,'' ucap Hanifah.


''Kira-kira ada berapa orang di asrama putri?'' tanya Lula.


''Sekita 200 orang lebih mbak,'' ucap Hanifah.


''Ohh lumayan ya,'' jawab Lula.


''Sial ni cewek, nyebelin juga ya dia. Gua udah berbuat baik malah dia kayak gitu, cari topik kek atau apa gitu, gak langsung mutus obrolan,'' batin Lula.


Sesampainya di asrama putri, Lula di sambut dengan ramah oleh anak-anak disana.


''Asalamualikum, Ustadzah,'' salam salah satu santiwati.


''Asalamualikum, Ustadzah,'' salam beberapa santriwati bersamaan.


''Waalaikumsalam,'' jawab Lula dan Hanifah bersamaan.


Mereka mencium tangan Lula.


''Jangan panggil aku Ustadzah ya, panggil aja mbak Lula,'' ucap Lula.


''Kenapa Ustadzah?'' tanya salah satu santiwati.


''Ya karena aku bukan Ustadzah,'' jawab Lula.


''Baik mbak Lula,'' ucap salah satu santriwati.


Mereka melanjutkan perjalanan mengelilingi asrama putri, Hanifah menunjukan dan menjelaskan satu per satu ruangan di asrama itu. Santriwati nampak senang melihat Lula, mereka menyapa dengan sopan dan gembira, tapi ada salah satu santiwati yang menatap tajam ke arah Lula.

__ADS_1


Terima kasih telah membaca novelku😊


Maaf ya, karena lama gak up sebab HP-ku kena musibah jadi lagi agak-agak ngelag.


__ADS_2