Imamku

Imamku
Part 24


__ADS_3

Setelah merasa keadaan ustad Ilham membaik, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Lula membantu ustad Ilham berjalan menuju mobil. Setelah mereka masuk kedalam mobil, Lula melajukan mobilnya menuju rumah. Dia pasrah dengan keadaan nanti, akhirnya mereka sampai dirumah papa Roy. Dengan pasrah Lula memapah ustad Ilham masuk kedalam rumah. Diruang tamu papa Roy dan mama Ira telah menunggu mereka.


''Astagfirullah Ilham, apa kamu baik-baik saja?'' tanya mama Ira yang kaget melihat keadaan menantunya.


''Ndak papa ma.'' kata ustad Ilham.


''Jelasin kepapa, kenapa kamu lakukan hal seperti ini kesuami kamu sendiri?'' ucap papa Roy.


Lula hanya terdiam, dia tidak tau harus berkata apa.


''Jawab Lula!'' perintah papa Roy.


''Baiklah kalo itu mau kamu, papa akan buat orang itu dan keluarganya menjadi gelandangan.'' kata papa Roy.


''Jangan lakuin itu pa.'' ucap Lula.


''Kamu terlalu menyepelekan papa, Lula. Apa susahnya si, kamu menerima Ilham sebagai suami kamu? kenapa kamu masih saja ingin berhubungan dengan pria tidak berguna itu?'' kata papa Roy dengan penuh penekanan.


''Susah pa, sangat susah. Devid, dia segalanya bagi aku. Dia cinta pertamaku pa, cuma dia, Nindi dan Devi yang selalu ada buat aku. Saat keluargaku sendiri selalu memaksakan kehendak mereka, tapi tidak pernah bertanya apa mau ku?. Cuma mereka bertiga yang mengerti aku, cuma mereka. Bahkan sampai sekarang pun, aku selalu menuruti apa mau kalian. Devid jauh lebih berharga daripada kalian.'' Lula menumpahkan semua keluh kesah yang selama ini dia simpan.


''Lula, jaga omongan kamu!'' ucap papa Roy yang tidak suka dengan perkataan sang putri.


''Kenapa, papa gak suka? aku jauh lebih gak suka. Apa aku salah? kalau aku pengen hidup sesuai dengan apa yang aku mau. Apa itu sebuah dosa?" kata Lula seraya menangis.


Ustad Ilham yang melihat keadaan itu hanya bisa diam dan sekarang dia mengerti, kenapa sikap Lula bisa seperti itu.


''Dan ya, ini semua rencana aku dan Devid. Karna papa melarang jika aku meminta cerai duluan, jadi akan buat dia menderita supaya dia menceraikan aku. Aku sangat benci cowok sok alim itu, AKU PERNIKAHAN INI.'' kata Lula.


PLAK.

__ADS_1


Papa Roy menampar pipi Lula, sontak semua orang kaget termasuk papa Roy sendiri.


''Papa!" teriak mama Ira.


Mama Ira menghampiri Lula.


''Sayang, mana yang sakit?'' tanya mama Ira yang khawatir kepada Lula.


Lula tidak menjawab pertanyaan mama Ira, dia menatap papa Roy dengan tatapan tajam. Lula pergi dari ruang tamu menuju kamarnya. Sebenarnya ustad Ilham ingin mengejar Lula, tapi ia pikir untuk saat ini Lula pasti ingin sendiri.


''Kenapa papa tampar Lula? Dia akan lebih memberontak lagi pa!'' kata mama Ira.


''Papa tau, papa salah. Tapi Lula masih bisa papa kendalikan, mama tenang saja.'' ucap papa Roy.


''Nak Ilham, nanti tidur di kamar sebelah dulu. Saat ini Lula sedang marah besar, dia akan jadikan kamu pelampiasan jika kamu tidur di kamarnya.'' tutur papa Roy.


''Nggeh pa.'' jawab ustad Ilham.


''Apa dia baik-baik saja?'' batin ustad Ilham.


''Apa saya buka saja pintunya? bismillah.'' ucap ustad Ilham seraya membuka pintu kamar Lula. Dia melihat Lula duduk di balkon kamarnya. Ustad Ilham perlahan mendekati Lula, Lula tampak melamun.


''Lula.'' sapanya dengan lembut.


Tapi Lula tidak menjawab sama sekali.


''Apa kamu baik-baik saja?'' tanya Ustad Ilham.


Lula masih tidak menjawab, akhirnya ustad Ilham mencoba memberanikan diri berdiri di depan Lula.

__ADS_1


''Kamu baik-baik saja kan?'' tanyanya sekali lagi.


Tiba-tiba Lula menatapnya dan menyerang ustad Ilham. Dia mencekik dan mendorong ustad Ilham sampai menabrak tembok.


''Aa Lula, istigfar!'' kata ustad Ilham.


Lula malah semakin erat mencekiknya, sampai ustad Ilham terbatuk-batuk.


''Ini semua gara-gara lo! kenapa lo harus masuk kekehidupan gua, KENAPA?'' kata Lula semakin erat mencekik ustad Ilham.


''Is..tig..far Lula ( uhuk uhuk)" kata ustad Ilham terbata-bata.


Lula melongarkan cekikanya tapi tidak melepaskannya. Lula malah merapatkan tubuhnya ketubuh ustad Ilham, dia juga berbisik di telingan ustad Ilham.


''Apa lo suka gua?'' kata Lula seraya mengigit-gigit telinga dan rahang ustad Ilham.


''Ahh Lula.'' ucap ustad Ilham.


Ustad Ilham yang tidak nyaman dengan itu langsung mendorong Lula untuk menjauh. Lula malah tertawa terbahak-bahak. Dia menyuruh ustad Ilham pergi.


''Pergi dari sini sekarang, atau.. lo mau yang lebih lagi.'' kata Lula.


Ustad Ilham langsung meninggalkan kamar Lula, ia heran kenapa Lula bisa seperti itu?. Ustad Ilham terus beristigfar dan menenagkan jantungnya yang berdetak kencang.


''Kenapa Lula seperti itu? apa dia minum alkohol?'' tanya ustad Ilham kepada dirinya sendiri.


''Tapi tadi saya tidak melihat botol alkohol di kamarnya.'' batin ustad Ilham.


--------------------------------------

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novelku😊


Jangan lupa komen dan like ya😊


__ADS_2