
Sudah satu bulan lebih Lula tinggal di Ponpes tersebut, Lula sudah mulai nyaman dengan keadaan dan situasi di tempat ini, termasuk kondisi pernikahanya dengan Ustad Ilham, ia sudah mulai menerima Ustad Ilham sebagai suaminya dan belajar bersikap lebih baik kepadanya. Dan, Ustad Ilham juga mulai memberanikan diri bersikap romantis terhadap Lula.
Saat ini, Lula sangat menikmati kesibuknya menjadi pengurus Ponpes, sedangkan Ustad Ilham, kini sudah mulai menerima tawaran berdakwah di luar lingkungan Pondok Pesantren. Sebelum menikah dengan Lula, ia lumayan sering menerima tawaran berdakwah di sekitaran Magelang bahkan sampai keluar kota, tapi karena ia tak tenang meninggalkan istrinya seorang diri, maka dari itu, Ustad Ilham membatasi jadwal dakwahnya.
Hari ini, tepatnya ba'da isya, Ustad Ilham mendapatkan tawaran mengisi cerawah di Masjid kampung sebelah. Ia sudah mulai tenang meninggalkan Lula sendirian di rumah karena kelakuan Lula yang mulai bisa di atur dan sudah mulai sedikit menuruti apa kata Ustad Ilham.
''Dek, aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik, jangan keluar rumah, jika ada laki-laki ingin bertamu, jangan di suruh masuk! Ingat ya!'' ucap Ustad Ilham.
''Iya bawel,'' ucap Lula.
Ustad Ilham tidak marah dengan ucapan Lula, tapi ia malah gemas dan mengacak-acak rambut Lula.
''Ihh berantakan ni!'' ucap Lula seraya cemberut.
Ustad Ilham tersenyum bahagia.
''Asalamualaikum,'' salam Ustad Ilham seraya menyodorkan tangannya.
''Waalaikumsalam,'' ucap Lula seraya mencium tangan sang suami.
Ustad Ilham berangkat mengunakan sepedanya menuju Masjid di kampung sebelah.
****
Jam menunjukan hampir tengah malam, Ustad Ilham baru keluar dari Masjid di karenakan Pak RW kampung sebelah mengajaknya mengobrol dan kebetulan tadi di luar juga gerimis.
''Mau saya antar Ustad?'' tawar Pak RW.
''Ndak usah repot-repot Pak, saya pulang sendiri saja,'' ucap Ustad Ilham.
''Oh yawes, makasih ya Ustad,'' ucap Pak RW.
Pak Rw memberikan amplop berisi uang kepada Ustad Ilham.
''Aduh, ndak usah Pak. Wong sama tetangga sendiri kok, saya ikhlas Pak,'' ucap Ustad Ilham.
''Wong ini juga amanah warga, kalo Ustad nolak, saya yang ndak enak sama warga sini,'' ucap Pak RW seraya menyodorkan amplop itu.
''Mohon di terima Ustad, rezeki ini loh, ndak boleh di tolak!" ucap Pak RW.
__ADS_1
"Yawes, saya terima nggeh. Matur suwun sanget nggeh Pak RW,'' ucap Ustad Ilham.
(Terima kasih banyak ya Pak RW)
"Nggeh Ustad, sami-sami,'' ucap Pak RW.
(Sama-sama)
''Kalo begitu, saya permisi Pak. Asalamualaikum,'' pamit Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam,'' jawab Pak RW.
Ustad Ilham menggayuh sepedanya di tengah kampung yang nampak sepi. Ia mengambil jalan pintas untuk cepat sampai di Pondok, jalanan ini tembus tepat di belakang Pondok Pesantern. Jalanan ini melewati hamparan sawah dan kebun yang sepi dan tidak ada satu rumahpun di sana. Ustad Ilham sama sekali tidak takut, ia nampak tenang melewati jalan itu. Dan tiba-tiba terdengan suara tangisan bayi.
''Mungkin salah dengar,'' batin Ustad Ilham.
Namun, suara tangisan itu kembali muncul, tapi tak sekeras yang pertama. Ustad Ilham mengurangi laju sepedanya, ia menajamkan telinganya agar lebih jelas mendengar suara tersebut. Suara itu terus terdengar, tetapi semakin kecil. Ustad Ilham menengok kiri dan kanan, mencari asal suara tersebut. Ustad Ilham melihat sebuah kardus yang mencurigakan, ia turun dari sepedanya dan berjalan menuju kardus itu. Dengan mantap ia membuka kardus tersebut, dan betapa terkejutnya Ustad Ilham, ada seorang bayi laki-laki dengan hanya menggunakan kain tipis yang menutupi badannya di dalam kardus itu.
''Astagfirullahaladzim, ya Allah,'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham mengendong bayi itu dengan hati-hati, tubuhnya sangat panas dan nampak pucat. Tak terasa air mata Ustad Ilham menetes, ia merasa sedih melihat keadaan bayi itu.
Ustad Ilham bergegas kembali ke Pondok. Sesampainya di pintu belakang, Ustad Ilham langsung bisa membukanya di karenakan gembok pintu belakang belum di ganti.
Ustad Ilham meletakan sepedanya begitu saja dan ia bergegas menuju rumahnya. Sesampai di depan rumah, ia langsung membuka pintu rumahnya.
''Asalamualaikum, Dek,'' salam Ustad Ilham.
Ia mengetuk pintu kamar Lula.
Tok Tok
''Dek, Dek Ula buka pintunya! Dek, buka pintunya!'' ucap Ustad Ilham.
Lula membuka pintu dengan wajah marah, ia bersiap-siap untuk meremukan tulang sang suami karena telah menggangu tidurnya.
''Lo…,'' ucapan Lula terhenti saat melihat bayi di gendongan Ustad Ilham.
''Ehh bayi siapa yang lo bawa, haa? Wah parah, lo nyolong ya?'' ucap Lula.
__ADS_1
''Astagfirullah, Dek. Aku ndak nyolong bayi ini kok,'' ucap Ustad Ilham.
''Terus dapet bayi ini darimana?" tanya Lula.
"Nanti aku jelasin, tapi tolongin bayi ini dulu, badannya panas banget, aku ndak ngrti harus bagaimana,'' ucap Ustad Ilham.
''Ya gua juga gak tau lah, punya anak aja belom. Yang bawa bayi itu kesini kan lo, ya lo sendiri lah yang urus bayi itu dan jangan ngerepotin gua! Gua mau tidur,'' ucap Lula seraya menutup pintu kamarnya.
''Astagfirullah Dek, kamu ndak boleh bersikap seperti ini Dek,'' ucap Ustad Ilham.
Lula tak menjawab sama sekali. Tanpa membuang-buang waktu, Ustad Ilham membawa bayi itu ke dalam kamarnya. Ustad Ilham meletakan bayi itu di atas kasurnya, ia binggung harus bagaimana, tapi yang pasti, ia harus membuat bayi itu hangat. Ustad Ilham membedong asal-asalan bayi itu dengan selimutnya, bayi itu tampak menangis tapi tidak bersuara, ia binggung harus melakukan apa?.
Di sisi lain, Lula nampak tak tenang. Lula menjadi tidak bisa tidur karena memikirkan bayi itu.
''Dia bisa gak si ngurus bayi itu?'' ucap Lula.
Dari luar Ustad Ilham memanggil Lula. Lula keluar dari kamarnya, ia terkejut melihat, apa yang sudah suaminya lakukan dengan bayi itu?.
''Ya Allah Ustad, ini mah bukan nolongin tapi ngebunuh,'' ucap Lula.
''Sini bayinya!'' ucapLula.
Ustad Ilham hanya terdiam setelah mendengar ucapan Lula. Lula yang tidak sabar, mengambil bayi itu dari tangan Ustad Ilham.
''Kebiasaan,'' ucap Lula.
Lula membawa bayi itu masuk kedalam kamarnya, di ikuti Ustad Ilham yang telah kembali sadar.
''Tolong dia Dek,'' ucap Ustad Ilham.
''Iya iya, ini juga mau gua tolongin,'' ucap Lula.
Lula membuka selimut yang menutupi bayi itu, ia melihat tali pusarnya sudah hampir mengering.
''Bawain gua air hangat, cepet!'' ucap Lula.
Ustad Ilham bergegas membawakan air hangat kedalam kamar Lula, ia mengambil handuk kecil untuk membasuh badan bayi itu. Lula dengan telaten dan cepat membersihkan setiap sisi yang kotor di badan bayi itu, sedangkan Ustad Ilham hanya melihat setiap gerak-gerik sang istri.
Terima kasih telah membaca novelku😊
__ADS_1