
Keesokan paginya, mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi, Lula pun juga ikut bergabung.
''Kamu udah sehat kan sayang? Masih pusing gak?'' Tanya mama Ira.
''Ma, mama salah nanya soal itu, mana mungkin hal sepele seperti itu bisa buat dia lemah, kan badannya kek batu. Sama kayak hatinya.'' Ucap Anji.
''Enak aja, hati gua tu lemah lembut. Tapi kalo ngadepin orang nyebelin kayak lo, ya jadinya batu.'' Ucap Lula.
''Halah… bullshit. Kalo emang bener, kenapa lo galak banget sama suami lo? Dia kan selalu lembut sama lo.'' Ucap Anji.
''Gua gak suka aja sama dia.'' Ucap Lula dengan santainya.
Ustad Ilham yang mendengar hal itu merasa sangat sedih, ia menundukan kepalanya. Dia menjadi tidak yakin untuk membawa Lula pulang ke Magelang.
''Lula! Jangan bicara seperti itu!" Ucap mama Ira.
"Sekarang lanjutin makannya!" Perintah papa Roy.
Akhirnya mereka melanjutkan sarapannya dengan tenang. Setelah selesai mereka berkumpul di ruang keluarga. Papa Roy berniat untuk memberitahu Lula soal kepergiannya ke Magelang.
''Lula, papa mau ngomong sesuatu sama kamu.'' Ucap papa Roy.
''Ya udah, ngomong aja pa.'' Ucap Lula seraya memainkan ponselnya.
''Kamu harus ikut suami kamu pulang ke Magelang!'' Ucap papa Roy.
''What? Kenapa aku harus ikut ?… Gak, aku gak mau!'' Ucap Lula.
''Kamu harus mau! Kamu harus ikut kemanapun suami kamu pergi!" Ucap papa Roy.
"Gak mau pa!'' Ucap Lula.
Lula pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya, langkahnya terhenti saat papa Roy mengatakan sesuatu.
''Kamu harus mau! Kalau tidak. Papa yakin kamu tau apa yang papa akan lakukan.'' Kata papa Roy.
Lula kembali berjalan menuju kamarnya. Ustad Ilham sangat takut, jika Lula di paksa hasilnya tidak akan baik.
''Pa. apa tidak papa jika kita paksa Lula seperti ini?" Tanya ustad Ilham.
"Kamu tenang aja, Lula memang harus di paksa agar dia menurut.'' Ucap papa Roy.
''Kamu yakin aja sama papa!'' Ucap papa Roy.
Tiba-tiba Lula turun dengan pakaian yang sudah rapi, dia terlihat akan pergi.
''Mau kemana kamu? Kamu ingin kabur lagi? Jika kamu kabur lagi, papa gak akan pernah terima kamu lagi!'' Ucap papa Roy.
__ADS_1
''Emang aku ada pilihan buat nolak? Papa tenang aja, aku cuma mau say goodbye sama Mall.'' Ucap Lula.
''Ajak Ilham sekalian, selama disini dia tidak pernah pergi berkeliling jakarta.'' Ucap papa Roy.
''Terserah papa aja.'' Ucap Lula seraya keluar rumah.
''Sana, ikut Lula.'' Ucap papa Roy.
Ustad Ilham terlihat ragu.
''Udah sana, yakin deh sama papa.'' Ucap papa Roy.
''Nggeh, Asalamualaikum.'' Kata ustad Ilham.
''Waalaikumsalam.'' Jawab mereka.
Ustad Ilham pergi bersama dengan Lula. Sesampainya di Mall, Lula memarkirkan mobilnya. Ustad Ilham dan Lula masuk kedalam Mall. Ustad Ilham nampak takjub, memang di sana ada Mall tapi dia tidak pernah memasukinya dan jarak Mall dengan ponpesnya juga cukup jauh.
''Bawain tas gua! Jangan sampai jatoh! Ini tas mahal.'' Perintah Lula.
''Nggeh.'' Jawab ustad Ilham. Dia membawa tas itu dengan sangat hati-hati.
''By the way, lo bisa naik eskalator kan?'' Tanya Lula.
''Nggeh, saya bisa.'' Jawab ustad Ilham.
''Inget! Jangan injek garis kuning!'' Ucap Lula.
''Nggeh.'' Jawab ustad Ilham.
''Hai. Kemana aja? Lama gak ketemu.'' Sapa sang manager.
''Lagi banyak urusan. By the way, ada yang baru gak ni?" Ucap Lula.
"Pasti ada, ayo aku tunjukin!" Kata maneger.
''Ngomong-ngomong, siapa dia?'' Tanya meneger saat melihat ustad Ilham.
''Bukan siapa-siapa. Ayo." Ucap Lula.
Hati ustad Ilham benar-benar sakit, saat dirinya tidak di akui oleh istrinya sendiri. Tapi dia hanya bisa bersabar dan berdoa, dan dia yakin jika suatu saat nanti ia akan di cintai oleh sang istri.
Maneger menunjukan sebuah tas kecil dari salah satu brand terkenal.
"Ini baru keluar kemaren, gimana bagus kan?'' Ucap sang maneger.
''Bagus banget. Gua ambil ini.'' Ucap Lula.
__ADS_1
Mereka pergi kekasir untuk membayar tas itu.
''Bungkusin yang rapi!'' Perintah sang maneger kepada pegawainya.
Setelah selesai waktunya membayar.
''Totalnya 280 juta.'' Kata maneger.
''Oke.'' Ucap Lula seraya memberikan kredit card nya kepada manager.
Ustad Ilham terkejut melihat harga sebuah tas kecil itu. Dia rasa Lula terlalu menghambur-hamburkan uangnya.
Setelah selesai membayar mereka pergi dari toko itu.
''Jangan sampai jatoh!'' Ucap Lula seraya memberikan paper bag itu.
''Bukankah itu terlalu menghambur-hamburkan uang?'' Kata ustad Ilham.
Entah darimana datangnya keberanian untuk mengkritik Lula. Saat melihat harga tas itu, ia langsung teringat dengan Reno dan Anji. Mereka pasti berusaha dengan keras sampai perusahaan keluarga Purnomo bisa sesukses ini.
''Lo diem aja, gak usah banyak omong!'' Ucap Lula seraya melotot kepada ustad Ilham.
Saat sedang berkeliling, Lula melihat Nindi dan Devid berjalan bergandengan tangan. Mereka berpapasan tapi Lula berpura-pura tidak mengenalnya.
''Hai, La?'' Sapa Nindi.
Tapi Lula tidak menjawab bahkan menengokpun tidak. Tapi berbeda dengan ustad Ilham, ia berhenti sebentar dan memberi salam kepada Nindi dan Devid.
''Asalamualaikum.'' Salam ustad Ilham.
''Waalaikumsalam.'' Jawab Nindi.
Lula yang melihat itu, menjadi sangat marah. Lula memelototi ustad Ilham dan pergi begitu saja. Ustad Ilham mengejar Lula, Dia tahu jika istrinya sedang sangat marah. Lula pergi menuju mobilnya, tapi dia lupa jika tas nya di bawa oleh ustad Ilham. Saat ustad Ilham tiba, Lula langsung merebut tas darinya.
Lula mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, sehingga membuat ustad Ilham ketakutan dan cemas.
''Lula, jangan ngebut-ngebut. Ini berbahaya.'' Ucap ustad Ilham.
Bukanya mengurangi kecepatan mobilnya, Lula malah semakin menambah kecepatanya.
''Lula, saya mohon pelankan mobilnya. Nanti kita bisa celaka.'' Ucap ustad Ilham.
''LO BISA DIEM GAK!'' Bentak Lula.
''Maaf, maafkan saya. Saya salah, saya minta maaf. Saya mohon pelankan mobilnya.'' Ucap ustad Ilham.
__ADS_1
Terima kasih telah membaca novelku😊
Jangan lupa vote dan like ya😄