Imamku

Imamku
Apakah ustad Ilham akan setuju?


__ADS_3

Setelah selesai pemakaman pak Rahmat, semua orang kembali kerumahnya masing-masing. Tinggalah papa Roy, ustad Zaki, karyo dan istad Ilham, serta disisi lain ada mama Ira, ustazah Lihah dan Hanifah.


"Jika ustad Ilham ingin lebih lama tinggal disini, itu tidak masalah." Kata ustad Zaki.


"Terima kasih ustad." Kata ustad Ilham.


"Nggeh, sama-sama." Kata ustad Zaki.


Ustad Zaki melihat papa Roy dan mengajaknya berkenalan.


"Panjenengan rencange Almarhum?" Tanya ustad Zaki.


( Rencang : teman ).


"Nggeh pak, kulo rencange Almarhum." Kata papa Roy.


Karna waktu sudah sore ustad Zaki dan keluarga berpamitan untuk pulang.


"Kami pamit pulang dulu ustad, ini sudah hampir surup." Kata ustad Zaki.


( Surup : matahari yang hampir tenggelam ).


"Nggeh ustad, monggo." Kata ustad Ilham.


"Pak, wangsol riyen njeh." Pamit ustad Zaki.


( Wangsol : pulang / riyen : dulu ).


"Nggeh pak, hati-hati dijalan!" Kata papa Roy.


"Nggeh, suwun." Kata ustad Zaki.


"Pamit riyen nggeh ustad." Kata ustazah Lihah.


"Nggeh ustazah." Jawab ustad Ilham.


Dan Hanifah hanya membungkukan sedikit badannya.


"Asalamualaikum." Kata keluarga ustad Zaki bersamaan.


"Waalaikumsalam." Jawab Ilham, papa Roy, mama Ira dan karyo.

__ADS_1


Setelah keluarga ustad Zaki pulang, karyo juga berpamitan akan pulang.


"Ham, aku tak muleh sek ya wes pak maghrib iki." Kata karyo.


( muleh : pulang ).


"Nggeh mas, suwun." Kata ustad Ilham.


Setelah mereka semua pulang tinggalah papa Roy, mama Ira dan ustad Ilham.


"Ilham, papa.. mama kedapur dulu ya, mau masak buat makan malam." Kata mama Ira.


"Ndak usah buk, biar saya saja." kata ustad Ilham.


"Gak papa, Ilham ngobrol-ngobrol aja dulu sama papa, ya" Kata mama Ira dengan lembut.


"Iya, kamu disini saja, ada yang mau aku tanyakan." Tutur papa Roy.


Mama Ira pergi meninggalkan mereka berdua.


Papa Roy membuka pembicaraan.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, apa masih sedih?" Tanya papa Roy.


"Kemaren sebelum aku datang kesini, aku sempat bertanya pada Rahmat. Apa sakitnya sudah membaik? Dan dia bilang kalo penyakitnya sudah sembuh, tapi ternyata dia berbohong." Kata papa Roy.


"Maaf nak Ilham bukanya akumau pamrih, tapi aku selalu kirim uang untuk dia berobat tapi kenapa dia tidak berobat?" Lanjut papa Roy.


"Bapak kirim uang untuk bapak saya?" Tanya ustad Ilham terkejut.


"Iya, setiap bulan." Jawab papa Roy.


"Apa nama bapak Roy Purnomo?" Tanya ustad Ilham.


"Iya, aku Roy.. aku pikir kamu sudah tau." Kata papa Roy.


"Ya Allah pak, maafkan saya.. saya tidak sopan dengan bapak." Kata ustad Ilham seraya mencium tangan papa Roy.


"Tidak papa." Kata papa Roy.


"Terima kasih banyak pak, bapak selalu menolong kami." Kata ustad Ilham.

__ADS_1


"Sudahlah, kalian itu sudah aku angap keluarga sendiri. Jadi tidak perlu berterima kasih. Ngomong-ngomong selain mengajar apa lagi yang kamu kerjakan?" Tanya papa Roy.


"Mengisi ceramah, mengurus ponpes serta mengurus sawah milik ponpes pak." Tutur ustad Ilham.


"Wah bagus dong." Kata papa Roy.


"Nggeh." Jawab ustad Ilham.


"Ngomong-ngomong apa yang Rahmat katakan kekamu tadi?" Tanya papa Roy.


"Bapak tadi bilang agar aku.. menikahi Lula dan menjaganya untuk bapak." Kata ustad Ilham.


Papa Roy terkejut mendengar kata terakhir sang sahabat, yang masih memikirkannya.


"Rahmat." Mata papa Roy berkaca-kaca.


"Bapak tidak papa?" tanya ustad Ilham.


"Lula.. dia putriku." Kata papa Roy membuat ustad Ilham terkejut.


"Dulu kami punya perjanjian bahwa kami akan menjodohkan anak-anak kami, tapi karna umurmu dan putriku terpaut cukup jauh, jadi Rahmat membatalkannya." Kata papa Roy.


"Tadi niatku datang kemari untuk meminta Rahmat menjodohkan kembali kamu dengan putriku, putriku.. dia.. aku tidak tau harus membicarakannya bagaimana." kata papa Roy.


"Tidak papa, bapak bicara saja." kata ustad Ilham.


"Aku telah salah mendidiknya, dia menjadi gadis yang nakal, tidak bisa diatur dan selalu bertindak sesuka hatinnya. Aku sudah melakukan segalannya, bahkan aku pernah memasukannya kepesantren sebanyak 3 kali dan dia selalau kabur. setiap pulang dari pesantren dia akan menjadi semakin nakal, sekarang dia mempunyai kekasih yang buruk akhlaqnya, aku dan istriku takut jika dia memilih pasangan yang salah. Istriku selalu menangis jika memikirkan masa depan putrinya, maka dari itu aku memintamu untuk mempertimbangkan perjodohan ini nak. Tapi jika kamu tidak mau, tidak papa..kami tidak mau memaksa." Jelas papa Roy.


Ilham tampak berpikir.


"Beri saya waktu pak, untuk memutuskannya." kata ustad Ilham.


"Baiklah, kamu tidak perlu terburu-buru memutuskannya, pikirkan ini baik-baik karna ini demi masa depanmu juga." Kata papa Roy.


"Nggeh pak." Jawab usta Ilham.


 


----------------------------------------


Terima kasih sudah membaca novelku😊

__ADS_1


Jangan lupa komen dan like ya😊😊


__ADS_2