
Keesokan paginya, sekitar jam 5 pagi, Ustad Ilham telah siap untuk jalan-jalan dengan sang Istri. Ia sangat bahagia, ini seperti mimpi baginya.
Dengan semangat, Ustad Ilham mengetuk pintu kamar Lula.
Tok Tok
''Dek, apa kamu sudah bangun?'' tanyanya di depan pintu kamar Lula.
Seperti biasa, tidak ada jawaban dari Lula.
''Dek, saya masuk ya?'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham masuk kedalam kamar Lula. Ia melihat tubuh Lula yang masih terbungkus selimut tebal.
''Dek Ula, ayo bangun,'' Ucap Ustad Ilham.
Lula masih damai di alam mimpinya.
Ustad Ilham berjalan mendekati Lula. Ia memberanikah diri mengoyang-goyangkan kaki Lula.
''Dek, ayo bangun,'' ucap Ustad Ilham.
Lula hanya mengeliat dan semakin erat memeluk gulingnya. Sekali lagi Ustad Ilham mengoyangkan kaki Lula lebih keras lagi.
''Dek,'' ucapnya.
''Ahh, apa si? ganggu banget!'' ucap Lula seraya duduk di bersandar di dinding.
''Kan hari ini kita mau jalan-jalan, kamu ndak lupa kan?'' ucap Ustad Ilham.
''Emm bukanya sore?'' ucap Lula dengan mata tertutup.
''Endak, Dek. Kita jalan-jalanya sekarang,'' ucap Ustad Ilham.
''Lo gila ya, pagi-pagi buta ngajak jalan. Ntar
sore aja deh,'' ucap Lula seraya membaringkan kembali tubuhnya.
''Ndak bisa, kalo nanti sore kita jalan-jalanya pake sepeda. Apa kamu mau?'' ucap Ustad Ilham.
''Aisshh, nyebeli banget si! Gua masih ngantuk Om, ntar sore aja ya?'' mohon Lula.
Lula menutupi seluruh badanya dengan selimut, tapi Ustad Ilham selalu menganggunya dan menyuruhnya untuk bergegas bangun.
''Ayo, Dek! Saya mohon,'' ucap Ustad Ilham.
''Emhh nanti aja Om, masih ngantuk lo,'' ucap Lula di balik selimut.
''Nanti mataharinya keburu muncul, Dek,'' ucap Ustad Ilham.
__ADS_1
''Ishh,'' eluhnya.
Mau tak mau Lula terpaksa bangun, ia menyibakan selimunya terlihat ****** ***** Lula. Sontak hal itu membuat Ustad Ilham terkejut dan mengalihkan pandanganya.
''Ck, masih kaku aja,'' ucapnya pelan tapi masih bisa terdengar oleh Ustad Ilham.
''Ngapain masih di sini? Mau liat gua ganti baju?'' ucapnya.
Ustad Ilham bergegas keluar dari kamar Lula, bayang-bayangan kejadian tadi selalu berputar-putar di kepala Ustad Ilham.
''Astagfirullah ya Allah, Astagfirullah,'' ucap Ustad Ilham.
Tak selang lama, Lula keluar kamar. Ustad Ilham keluar rumah di Ikuti oleh Lula. Lula terkejut melihat motor bebek yang akan ia gunakan untuk keliling kampung.
''Hah, kita pake ini?'' tanya Lula.
''Iya, ini milik Ustad Adam. Saya meminjamnya,'' jawab Ustad Ilham.
''Gua gak mau, kalo mogok tengah jalan gimana?'' tanya Lula.
''Insya Allah tidak akan mogok, Dek. Saya sering memakai ini,'' ucap Lula.
''Awas kalo mogok!'' ucap Lula.
Ustad Ilham dan Lula mulai melajukan motornya. Saat melewati rumah Ustad Zaki, terlihat Umi Lihah dan Hanifah tengah membersihkan halaman rumah. Ustad Ilham berhenti untuk menyapa mereka.
''Asalamualaikum Umi, Hanifah,'' sapa Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam, mau kemana Ustad?'' ucap Umi Lihah.
''Mau ajak Dek Ula jalan-jalan liat matahari terbit Umi,'' ucap Ustad Ilham.
''Aduh-aduh, hati-hati ya!'' ucap Umi Lihah.
''Nggeh, Umi. Asalamualaikum,'' ucap Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam,'' jawab Umi Lihah.
Baru beberapa meter jalan, Ustad Ilham kembali berhenti dan menyapa setiap orang yang berpapasan dengan mereka. Ustad Ilham kembali menghentika motornya, ini sudah yang ke 9 kalinya Ustad Ilham berhenti untuk menyapa.
Lula turun dari motornya.
''Lo niat kan ajakin gua liat sunrise? Kalo lo berhenti mulu, kapan kita sampai?'' ucap Lula pelan tapi menohok.
''Maaf, Dek. Ayo naik lagi,'' ucap Ustad Ilham.
Lula kembali duduk menyerong di motor Ustad Ilham. Setelah keluar dari gerbang Ponpes, Ustad Ilham melajukan motornya di jalan desa, udara yang sejuk serta cara mengendarai motor ala Ustad Ilham yang lamban, bahkan lebih lamban dari seekor siput, membuat Lula mengantuk. Karna sangking mengantuknya, Lula menyenderkan kepalanya kepunggung Ustad Ilham dan melingkarkan tanganya keperut Ustad Ilham. Sontak Itu membuat Ustad Ilham kaget dan menghentikan motornya secara tiba-tiba. Hal itu membuat Lula marah.
''Kalo gak bisa bawa motor tu ngomong! Turun! Cepat turun!'' ucap Lula.
__ADS_1
Ustad Ilham turun, sekarang Lula yang akan membawa motornya.
''Dimana tempatnya?'' tanya Lula.
''Tinggal lurus, ada perempatan belok kanan,'' ujar Ustad Ilham.
''Oke,'' ucap Lula.
''Naik!'' perintah Lula.
Ustad Ilham duduk di belakang Lula.
''Dek kamu yak….'' Kata ustad Ilham terpotong karena Lula langsung menjalankan motornya dengan sangat cepat.
''Aaaa Astagfirullah, Dek. Pelan-pelan,'' teriak Ustad Ilham.
Bukanya memerlambat laju motornya, Lula melah mempercepat lajunya. Sangking cepatnya, Ustad Ilham memeluk Lula dengan erat. Saat akan sampai di perempatan, Lula menambah lagi kecepatanya. Lula menikung dengan sangat epik.
Sesampainya di tempat yang di tuju, Lula menghentikan motornya. Ustad Ilham masih sangat ketakutan, dia masih memeluk Lula dengan erat. Lula bisa merasakan kalau tubuh suaminya itu bergetar.
''Peluk aja terus!'' ucap Lula.
Ustad Ilham tidak mendengarkan Lula, ia masih ketakutan dan tubuhnya masih gemeteran.
Lula melepaskan pelukan Ustad Ilham, ia melihat jika Ustad Ilham sangat ketakutan.
''Turun!'' ucap Lula.
Ustad Ilham turun dari motor dengan bergetar, ia terduduk lemas di tanah.
''Dek, ja…ngan lakukan itu la…gi!'' ucap Ustad Ilham dengan nada bergetar.
''Cemen banget si, ini masih kecepatan standar. Tadi gua masih pake kecepatan angin, belum peke kecepatan cahaya. Jadi gak usah lebay deh!'' ucap Lula.
Ustad Ilham nampak sesak nafas.
''Lo gak papa kan?'' tanya Lula.
Ustad Ilham hanya mengeleng, tapi dia nampak tak bisa bernafas dengan benar.
''Lo punya penyakit asma?'' tanya Lula.
''Iya,'' jawab Ustad Ilham.
Ustad Ilham masih terlihat sesak nafas.
''Ya sudah, kita kerumah sakit! Gua yang bawa motornya, gua gak akan ngebut,'' ucap Lula.
''Kita pulang saja,'' ucap Ustad Ilham.
__ADS_1
Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali keponpes.
Terima kasih telah membaca novelku😊