
Sudah beberapa hari ini Devid sangat sulit di hubungi. Entah apa yang terjadi dengannya?. Karna sangat sulit untuk di hubungi, akhirnya Lula memutuskan pergi ke rumah Devid.
Sesampainya di rumah Devid, Lula bertanya kepada satpam rumah Devid.
''Maaf pak, apa Devid di rumah?'' Tanya Lula.
''Mas Devid sudah 2 hari gak pulang ke rumah mbak. Mungkin dia ada di apartemen, mbak Lula bisa cari disana!" Kata satpam.
"Ohh ya udah pak, makasih ya.'' Kata Lula seraya menyalakan mobilnya.
Lula melajukan mobilnya menuju apartemen Devid, jaraknya lumayan jauh dari rumah Devid. Setelah hampir 45 menit menyetir, akhirnya Lula sampai di apartemen. Dia memarkirkan mobilnya dan langsung pergi menuju apartemen sang kekesih. Sesampainya di depan pintu, Lula masuk secara diam-diam. Ia bermaksud untuk memberi kejutan kepada pacarnya itu. Saat Lula melangkah menuju kamar Devid, samar-samar ia mendengar percakapan dua orang.
''Aku tidak bisa! aku tidak sanggup mengatakan itu kepadanya." Kata Devid.
"Aku tau ini berat, tapi kita tidak bisa terus menyembunyi hal ini dari Lula.'' Suara seorang wanita.
''Apa yang aku tidak tau? dan sepertinya itu suara Nindi. Tapi kenapa dia bertemu Devid?'' Batin Lula.
''Untuk saat ini aku tidak bisa, beri aku waktu!'' Kata Devid.
''Tapi mau sampai kapan? sampai anak ini lahir!'' Kata Nindi.
''Anak?'' Bak di sambar petir, tubuh Lula terasa lemas.
Lual membuka pintu itu dengan keras, sontak Devid dan Nindi terkejut dengan kedatangan Lula.
''Lula!'' Ucap mereka bersamaan.
''Jelaskan apa maksud semua ini?'' Kata Lula dengan nada datar.
''Sayang, kapan kamu datang? ayo duduk!'' Devid mengalihkan topik.
''Iya La, ayo duduk. gua buatin minum ya?'' Kata Nindi. Dia takut Lula akan mengamuk.
''Lo hamil Nin?'' Kata Lula dengan tatapan tajam.
__ADS_1
''Emm gua bisa jelasin La!'' Kata Nindi.
''Ya udah jelasin!'' Kata Lula.
**Flashback on.
Di Bar**.
Devid melihat Nindi duduk sendirian, ia menghampiri Nindi.
''Hai, kok sendirian aja? mana yang lain?'' Tanya Devid.
''Elo! mereka gak ikut. Gua lagi pengen sendirian aja.'' Ucap Nindi.
''Kalo gua temenin boleh gak?'' Kata Devid.
''Boleh dong.'' Kata Nindi.
Devid duduk di depan Nindi, mereka mengobrol dan juga minum. Karna terlalu banyak minum, akhirnya mereka mabuk. Devid melihat Nindi seperti melihat Lula, tanpa basa-basi dia membawa Nindi kedalam kamar. Dia mendorong Nindi ke atas ranjang dan menindihinya. Nindi sempat sadar dan mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Devid. Tapi karna sudah terlalu mabuk, Nindi hanya bisa memukul lengan Devid.
''Lepasin gua!" Kata Nindi dengan nada rendah.
Flashback off.
''Setelah itu, gua gak inget apa-apa La. Maafin gua La!'' Kata Nindi seraya menangis.
''Maaf sayang. Maafin aku!'' Kata Devid seraya bersujud di depan Lula.
Lula hanya menatap kosong kearah depan, dia tidak menangis ataupun bersuara. Lula bergegas pergi dari apartemen Devid. Devid terus mengejar Lula, tapi tidak ia hiraukan.
''Sayang, jangan gini dong.'' Kata Devid.
''Stop La!'' Teriak Nindi.
Lula berhenti dan menarap Devid dan Nindi.
__ADS_1
''Jangan ikuti gua! atau kalian akan tau akibatnya!'' Ancam Lula.
Devid dan Nindi tidak mengikuti Lula lagi.
Lula pergi menuju mabilnya, dia bergegas menyalakan mobilnya dan pergi dari sana. Sesampainya di apartemen, Lula mengamuk sejadi-jadinya.
Bruk prang ( suara benda pecah ).
''HAAAAAAA BAJINGAN LO DEV.'' Teriak Lula seraya memencahkan barang-barang di apartemenya.
''Haaahh gua lakuin semuanya buat lo. Gua jual harga diri gua cuma buat lo, Dev. Gua cinta sama lo, cinta banget. Gua terima semua sifat buruk lo. Tapi kenapa lo giniin gua? KENAPA? Haahh.'' Kata Lula seraya menangis dan memukul kaca dengan tangannya.
Lula benar-benar kacau. Orang yang menjadi alasannya melakukan semua ini, telah menghiyanatinya. Dia benar-benar hancur.
Tak terasa malampun tiba, Lula duduk di depan jendela menatap bulan purnama. Dengan baju dan rambut yang berantakan serta tangan yang berdarah karna terkena pecahan kaca. Lula sama sekali tidak merasakan sakit di tanganya, karna luka di hatinya jauh lebih sakit. Kata-kata Nindi selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Dia tidak pernah merasa sesakit ini.
Telfon Lula terus berbunyi, dia sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab telfon itu. Terkadang ada yang mengetuk pintu apartemennya, tapi dia sama sekali tidak tergerak untuk membukakanya.
Sudah dua hari berlalu, tapi Lula masih setia duduk di depan jendela. Dia tidak merasa lapar ataupun haus, bahkan di sekitar luka di tangan Lula sudah membengkak dn membiru. Tetapi Lula tidak perduli.
Di rumah papa Roy.
Ustad Ilham nampak khawatir, pasalnya sudah dua hari ini Lula tidak bisa di hubungi. Dia ingin pergi menemui Lula, tapi ustad Ilham tidak tau dimana apartemen tempat tinggal Lula. Jika dia bertanya kepada orang rumah, mereka pasti akan tau dimana Lula. Ustad Ilham berpikir, ia akan bertanya kepada pembantu rumah, mungkin saja mereka tau dimana apartemennya.
''Maaf bi, ada yang mau saya tanyakan!'' Ucap ustad Ilham.
''Mas Ilham mau tanya apa?''Kata rumah pembantu.
''Apa bibi tau dimana apartemen yang biasa Lula tinggali?'' Tanya ustad Ilham.
''Wahh, apartemen non Lula mah banyak mas... Oh ya, ada satu apartemen favorit non Lula. Apartemennya di daerah S.'' Tutur pembantu rumah Lula.
''Terima kasih bi.'' Kata Ustad Ilham.
-------------------------------------
__ADS_1
Terima kasih telah membaca novelku😄
Jangan lupa vote dan Like😊