Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 12


__ADS_3

Di kampus


"Benarkah kau tidak salah lihat? " pekik Citra.


"Aku tidak mungkin salah lihat, dia benar benar Anggita, Artis yang lagi booming, cantik sekali" jawab Bella sendu.


"Sainganmu sungguh berat Bell" ucap Risa. "Sekarang apa rencanamu? "


"Entahlah.. " jawab Bella lesu, tidak mungkin ia melawan Anggita meskipun itu hanya sandiwara.


Waktu pun berlalu.


Tepat jam 4 sore terlihat seorang wanita yang berjalan kesana kemari untuk mengantar berbagai pesanan pelanggan. Beberapa menit kemudian dua wanita cantik memasuki cafe dan memilih tempat duduk. Bella menghampiri meja yang diduduki pelanggan baru yang tak lain dua wanita tadi.


"Silahkan nona" Bella menyerahkan buku menu.


"Jadi kau kekasih Evan? Apa benar kau kekasihnya? Kenapa? tidak bisa menjawab" tanya Anggita, Bella tidak menanggapinya karena tamu adalah raja.


"Silahkan nona di pesan" lanjut Bella dengan sabar


"Aku tahu kau hanya pura pura menjadi kekasihnya, berapa dia membayarmu? Aku akan memberikan berapapun yang kau minta tapi... " Anggita menjeda ucapannya. " Tinggalkan Evan, berhentilah bersandiwara"


Semua orang kaya sama. Ternyata hanya di TV saja ia terlihat ramah. batin Bella.

__ADS_1


"E.. Evan. . " ucap Anggita, entah sejak kapan Evan berada di dekat mereka. Apakah dia mendengar yang aku katakan tadi.


Bella mengangkat wajahnya dan melihat kearah pandang Anggita, Evan, ucapnya dalam hati. Tak sepatah kata pun ia ucapkan, diam seribu bahasa yang ia lakukan, ia ingin tahu apa yang akan Evan lakukan.


Dan ternyata. Evan melewatinya begitu saja.


Ah. benar benar si muka datar. Bukannya membela ku, dia malah pergi begitu saja. Dasar. batin Bella.


Dia tidak marah, mungkin dia tidak mendengar apa yang aku katakan. Syukurlah.


"Ayo kita pergi, aku tak berselera makan disini" ucap Anggita kemudian berlalu dari sana.


huft. Bella menghela nafas kasar. Apa yang dia lakukan disini sambil menatap Evan.


Beberapa jam pun berlalu. Waktunya pulang. Lelah sekali, aku merindukan kasur ku. Di depan cafe.


Evan. Dia menungguku. Aku harus bagaimana, pura pura tidak lihat kali ya.


Bella melangkah perlahan, melihat ke kanan ke kiri seakan akan Evan tidak ada. Anggap aja dia bayangan tak kasat mata. Di saat Bella melewatinya beberapa langkah.


"Jangan berpura pura tidak melihatku, dasar bodoh" ucap Evan. Bella menghentikan langkahnya.


"Bodoh? Siapa yang kau bilang bodoh? Aku mahasiswa berprestasi , buktinya aku bisa kuliah di tempatmu kuliah karena beasiswa dan itu tidak mudah, banyak saingannya" ucap Bella marah. "seenaknya saja mengataiku bodoh, awas saja" gumam Bella yang masih di dengar Evan.

__ADS_1


"Kau bisa teriak, suaramu masih ada, tapi kenapa tadi kau hanya diam saja dihina wanita itu" ucap Evan merasa geram, ya tadi ia mendengar semuanya dengan jelas.


"Dia tidak menghinaku, yang dia hina adalah kekasihmu sedangkan aku bukanlah kekasihmu" sahut Bella.


"Kau pintar berkilah rupanya"


"Terima kasih atas pujiannya dan selamat malam, sangat tidak baik malam malam begini berdebat denganmu.. bye" kemudian melangkah pergi.


"Bagaimana dengan tawaran ku, kau tidak amnesia kan?" langkah Bella terhenti dan ia membalikkan badan untuk kedua kalinya.


" Maaf aku tidak berminat, cari wanita lain saja dan aku tidak menginginkan apapun darimu" jawab Bella.


"Kau kabur seperti pengecut, apa kau takut? Kau merasa kecil hati? Kau merasa tak pantas"


*Hah, apa yang dia katakan. Tentu saja aku merasa kecil hati, memangnya aku siapa harus melawan wanita itu, biar saja, lebih baik kalian bersama. Lagi pula kalian cocok. Yang satu cantik dan yang satu tampan.


Pantas? Tentu saja aku juga merasa tak pantas, aku bukan Cinderella, ini dunia nyata. Evan ayolah kamu bukan orang bodoh. Batin Bella*.


"Terserah kau saja, mau bilang apapun aku tak peduli, ini hidupku bukan hidupmu dan aku makan pun tak meminta padamu, jadi berhentilah"


"kau.... " Evan merasa geram dengan apa yang dikatakan Bella.


"Apa? sudahlah bye.. " Bella melambaikan tangan sambil melangkah meninggalkan Evan yang terpaku melihatnya.

__ADS_1


Berani sekali dia, lihat saja. Apa kau masih bisa sekasar itu nanti.


Setelahnya Evan menghubungi seseorang. "Buat wanita itu kehilangan pekerjaannya" kemudian handphone pun dimatikan setelah terdengar jawaban dari orang sebelah.


__ADS_2