
Jalanan kota masih ramai dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, mulai banyak toko yang tutup. karena memang jam kerjanya sudah habis tapi masih ada beberapa pengunjung yang masih ingin berkunjung, Mungkin mereka tidak menyadari bahwa yang ditunggu karyawan itu adalah waktu pulang kerja, waktu selesainya pekerjaan, karena mereka juga ingin beristirahat membuang rasa lelah.
Pov Evan.
Setelah sampai di apartemen, aku mendapatkan kabar yang mengejutkan, bahwa perusahaan di kota S sedang bermasalah dan mengharuskanku untuk terbang kesana. Sebenarnya ini masih tanggung jawab Ayah tapi karena beliau masih berada di luar negeri maka aku sebagai putranya yang harus turun langsung. Hampir satu bulan disana dan akhirnya masalah itu bisa diatasi.
Aku tidak menyangka bisa sangat merindukannya, selama dikota S aku tidak punya waktu untuk menghubunginya, aku juga takut jika menghubunginya akan semakin merindukannya. Aku harus lebih cepat menyelesaikan urusan disini. Setelah kebersamaan kami waktu itu aku belum menghubunginya sama sekali, aku yakin dia pasti berpikir yang tidak tidak.
Hari ini aku akan kembali. Keadaan perusahaan sudah normal. Sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Pov End
"Apa dia masih bekerja" tanya Evan pada Riki asistennya.
"Ya bos, biasanya toko akan tutup jam 9 malam" melirik jam. "Apa bos mau langsung kesana untuk menemuinya? " tanya Riki.
" hemm.. " beberapa menit kemudian sampailah di depan toko tempat Bella bekerja.
Terlihat Bella sedang melayani pelanggan, dia sangat sabar dan ramah ketika melayani pelanggan, senyuman pun selalu terukir di bibir manisnya. Evan masih setia memperhatikan gerak gerik Bella dari dalam mobil. Pengunjung mulai berkurang, tepat jam 9 toko akan segera tutup, tapi karena masih ada pelanggan yang membayar dikasir toko belum di tutup sepenuhnya. Evan keluar dari dalam mobil, berjalan menuju pintu toko yang masih sedikit terbuka.
"Maaf toko sudah tutup" Ucapnya tanpa memperhatikan siapa yang berdiri dihadapannya. Sedetik kemudian, Bella mendongak menatap ke arah pengunjung yang datang.
Deg
Evan...
Tanpa babibu, Evan langsung memeluk Bella, rasa rindu membuatnya tidak memperhatikan sekitar, banyak mata yang sedang memperhatikan keduanya. Bella pun terkejut dengan kejadian ini, Evan masih memeluknya malah semakin erat, sebenarnya Bella juga sangat merindukannya, tapi karena dia menyadari dimana dia sekarang dia tidak membalas memeluk Evan. "Banyak yang melihat kita" bisik Bella. Dengan perlahan Evan melepas pelukannya dengan tangannya yang masih memegang pundak Bella. "Aku tunggu diluar" Bella mengangguk patuh.
Sepuluh menit kemudian. Bella keluar dari toko, berjalan menuju mobil Evan, ia sengaja meninggalkan sepeda motornya disana karena ia tahu Evan ingin bertemu dengannya, dan tidak ingin berdebat hanya karena kendaraan. Bella membuka pintu mobil, dan langsung masuk ke dalam, ia pun tahu Evan tak sendirian karena tadi ia sempat melihat Riki asistennya.
"Apartemen" perintah Evan pada asistennya. Selama di dalam mobil, hening, keduanya terdiam malah terlihat canggung. Tidak ada yang membuka suara sampai mereka tiba di apartemen.
__ADS_1
Kenapa si bos diam saja sepertinya tadi dia terlihat begitu merindukan nona Bella. Ah mereka malu malu kucing. Sepertinya bos akan melepas status jomblo. aku berharap bos selalu bahagia meskipun dia masih muda, karena di umurnya yang masih 22 tahun si bos sudah merasakan patah hati akut. Semoga nona Bella bisa menggantikan wanita itu, wanita masa kecil bos.
Beberapa menit kemudian. Mobil berhenti di depan lobi apartemen. Evan dan Bella keluar dari mobil. Dengan gerakan cepat Evan menarik tangan Bella dan membawanya ke atas. Sampai di apartemen dengan tergesa Evan membuka pintu, dan langsung menutup pintu setelah keduanya masuk.
Memeluk Bella kembali. "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu" ucap Evan sembari mengeratkan pelukannya. "Kau tidak merindukanku? " tanya Evan mengendurkan pelukannya.
Bella menatapnya. "Apa aku boleh merindukanmu? " Bella berdebar menunggu jawaban Evan, karena ini penting baginya. ini akan menjadi penentu untuk hubungan mereka kedepannya.
"Tentu saja, boleh, bukankah kau kekasihku" sambil mengelus rambut panjang Bella yang berwarna hitam.
"Kita ... sepasang kekasih?" tanya Bella lagi, memastikan pendengarannya, karena kalau sudah tanggal tua kebanyakan wanita memiliki masalah dengan telinga,. kayak emak emak yang nulis ini.
"Bukankah kita memang sepasang kekasih" agak kecewa Bella mendengarnya, raut wajahnya pun berubah sendu.
"Kekasih pura pura" lanjutnya sendu.
" Bukan, kita benar benar sepasang kekasih, aku kekasihmu dan kau kekasihku"
"Hem.. aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak, yang pasti aku nyaman saat bersamamu, aku senang bersamamu, aku rindu disaat kita jauh, kau selalu ada dalam pikiranku, apa untuk saat ini itu cukup untuk menjadikanmu kekasihku? " tanya Evan.
"Iya itu cukup dan iya aku bersedia menjadi kekasihmu sebelum kau bertanya aku jawab dulu saja.. " Mereka berdua kembali berpelukan sambil tertawa. Setelah lama berpelukan mereka melangkah menuju sofa.
"Aku capek berdiri terus" ucap Bella. Evan menatapnya gemas.
"Ayo duduk" Evan merebahkan kepalanya di paha Bella setelah mereka duduk di sofa.
"Biarkan seperti ini sebentar saja, aku sangat lelah. Kau tahu? " ucap Evan.
"Belum, kau kan belum cerita" Evan memutar tubuhnya sehingga menatap Bella, sekarang posisinya berbaring telentang. mencubit hidung Bella gemas.
"Sejak kapan kau menggemaskan, dengarkan aku dulu, kau tahu aku baru pulang dari kota S, bahkan aku belum pulang kerumah, aku langsung menemuimu karena aku merindukanmu, hampir sebulan ini aku berada di sana, aku bekerja di sana, tapi kekasihku tak pernah menghubungiku" Evan cemberut. Rasanya lucu sekali laki laki dingin itu terlihat manja.
__ADS_1
"Kau bisa juga merajuk, aku pikir wajah datarmu ini tak kan bisa berekspresi? " aku tertawa.
"Bisa bisanya kau mengejekku dihadapanku, rasakan ini! " Evan menggelitik pinggang Bella, berkali kali. Meskipun Bella bilang ampun, tapi Evan tak menghiraukannya, Evan terus menggelitik Bella sampai posisi mereka sangat intim. Evan menghentikan gerakan tangannya ketika ia menyadari posisinya. Bella masih terengah engah karena ulah Evan dan ia belum menyadari posisinya yang berada dibawah kungkungan Evan. " Kau.... " ucap Bella setelah nafasnya normal, tapi ucapannya terhenti ketika ia menyadari posisi keduanya yang sangat intim.
Mereka terdiam dalam kecanggungan, saling menatap, Evan meneguk salivanya, tenggorokannya kering melihat bibir manis yang melambai lambai ingin disentuh, dan akhirnya Evan menggerakkan kepalanya semakin kebawah. Bella memejamkan matanya, tanda lampu hijau Evan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Bella yang berwarna pink, ******* bibir itu seperti mengulum permen, Bella pun membalasnya. Beberapa detik kemudian Ciuman itu terlepas.
Keduanya saling menatap. Kemudian saling melempar senyum.
"Menginap lah disini, aku terlalu lelah untuk mengantarmu pulang, aku juga ingin lebih lama bersamamu" ucap Evan.
"Menginap disini? Bagaimana kalau kita digrebek warga? kita akan dibawa ke kantor desa kemudian dinikahkan, aku tidak mau menikah muda, aku belum lulus kuliah, apa yang harus aku katakan pada paman dan bibiku, tidak tidak, aku mau pulang saja" jawab Bella kawatir.
Tuk. Evan menyentil kening Bella.
"Ini bukan di Desa, ini apartemen, tidak sembarang orang bisa masuk kesini, disini aman dan dijaga ketat, kau tidak lihat betapa mewahnya apartemen ku ini, itu artinya penjagaannya pun berkualitas" keluar dah sombongnya batin Bella.
"Aku tidur dimana, aku tidak mau ya tidur dikamar yang sama" ucap Bella takut.
"Kenapa apa kau takut? " Evan menggoda Bella.
"Bukan takut, hanya berusaha menjaga diri karena seperti apapun kostumnya, laki laki tetaplah serigala"
"Kau ini berlebihan sekali, sepertinya otakmu ini agak kotor dan harus dibersihkan, ayo mandi" ucap Evan sambil melangkah menuju kamarnya, karena merasa tidak ada pergerakan dibelakangnya, Evan pun menghentikan langkahnya sambil menoleh kebelakang.
"Kenapa kau berdiri disitu, kau tak ingin membersihkan badanmu?" Evan menatapnya aneh. "Oh astaga kau masih berpikiran macam macam. " sambil menepuk keningnya. "Aku mandi dikamar ini dan kau mandi dikamar itu" tunjuk Evan pada kamar sebelah kamarnya.
Ohh... aku pikir dia mengajak mandi bersama. sepertinya otakku agak konslet, kenapa dari tadi pikiranku mesum terus. Ah.. Efek gak pernah pacaran nih, sekali pacaran pikirannya nyosor terus. huf memalukan.
Bella pun melangkah menuju kamar yang ditunjuk Evan. Sedangkan Evan sudah lebih dulu memasuki kamarnya.
Hi readers,, Terima kasih sudah baca novel ku. Bolehkah minta LIKE dan KOMEN. Kalau gak sempet KOMEN gak apa apa,, LIKE aja boleh. Terima kasih.
__ADS_1