
Pagi ini begitu cerah, matahari mulai memperlihatkan cahanya. Cahaya yang memberikan banyak manfaat pada semua makhluk yang ada di bumi.
Kreeekkk. Tarikan tirai seakan mengijinkan cahaya matahari untuk masuk.
ehhmmmmm.... membuat seorang wanita yang masih setia dibawah selimut merasa terganggu dengan cahaya matahari. Siapa yang membuka tirainya, mengganggu saja.
"Kau sudah bangun" terdengar suara yang tidak asing di telinganya. Wanita itu menggeliat lagi kemudian membuka matanya.
Evan. sudah kembali. apa aku bermimpi.
"Kau tidak bermimpi, bangunlah" bagaimana dia bisa membaca pikiranku. Bella bangun masih dalam posisi duduk, ia menatap Evan sambil tersenyum.
"Kapan kau datang? kenapa tidak mengabariku? " Tanya Bella dengan suara seraknya khas orang bangun tidur yang masih terlihat mengantuk.
"Kau malas sekali, ini sudah siang, cepat bangunlah dan bersihkan dirimu" Bukannya menjawab malah bicara yang lain. melangkah mendekati Bella dan duduk dihadapannya.
"Sayang... " memeluk Evan.
"Kau bau, sana mandi! " Bella semakin mengeratkan pelukannya, Evan tersenyum melihat kelakuan kekasihnya ini.
"Biar saja, agar kau selalu ingat bauku, agar kau selalu merindukanku dan tak mau jauh dariku" Evan tersenyum sendu.
"Sepertinya kau sudah berhasil aku gelisah saat jauh darimu. Tapi aku tidak mau merindukan baumu ini" Evan tambah mengeratkan pelukannya, dia sungguh merindukan Bella. Ia juga tidak tahu, apakah nanti ia bisa memeluk Bella seperti ini lagi, mengganggu tidurnya.
"Kau malah semakin erat memelukku" goda Bella pada laki laki yang sudah mengisi penuh hatinya.
Setelah sedikit melepas rindu. Bella beranjak dari kasur untuk membersihkan diri, sementara Evan menunggunya diluar kamar sambil memesan makanan untuk sarapan. Entah apa yang mengganggu pikirannya, saat asik melamun ia tidak menyadari kedatangan Bella. Bella menghampiri Evan alih alih duduk disebelahnya ia malah duduk dipangkuannya.
"Apa yang kau lamunkan hemm? apa ada masalah? " Evan terkejut dengan kelakuan kekasihnya yang tiba tiba duduk dipangkuannya.
" Kau semakin nakal ya" Evan memeluk Bella. "Aku sangat sangat merindukanmu" ucap Evan bahagia sekaligus terlihat ada guratan kesedihan di wajah tampannya.
"Sayang kau nampak berbeda, siapa yang berani mengganggumu" melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Evan, menatapnya dalam seakan ia tahu ada sesuatu di dalam sana. Evan tersenyum sambil memegang tangan Bella yang ada di pipinya, menariknya kemudian mengecup kedua tangannya.
"Apakah kau percaya kalau aku sangat mencintaimu, aku ingin memilikimu" ucap Evan dengan tatapan sendu. Wajah Bella merona mendengar ungkapan cinta pria di depannya ini. Apa yang sebenarnya terjadi padamu Van.
"Tentu, aku percaya padamu" jawab Bella tegas.
"Bisakah kau tidak percaya dengan apa yang kau lihat nanti bahkan jika itu juga harus keluar dari mulutku" ucap Evan yang tentu saja membuat Bella bingung. Mengerutkan keningnya, bukankah tadi dia ingin aku percaya padanya dan sekarang dia menyuruhku agar tidak mempercayainya batin Bella.
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti"
__ADS_1
"Seandainya ada orang yang berusaha untuk memisahkan kita siapapun itu dan apapun itu, apakah kau akan tetap beesamaku? Apakah kau akan memperjuangkanku? memperjuangkan cinta kita"
"Sayang sebenarnya ada apa? jangan membuatku takut? siapa yang akan memisahkan kita?"tanya Bella yang mulai merasa cemas. ia yakin telah terjadi sesuatu pada kekasihnya.
" Jawablah! "
"Jika kau masih menginginkanku maka aku akan selalu bersamamu, sebesar apapun badai itu aku akan bertahan di sisimu, aku berjanji akan memperjuangkanmu, aku akan memperjuangkan cinta kita seperti pahlawan yang memperjuangkan tanah air" Evan tersenyum mendengarnya. "Kau puas? "
"Hemm.. aku berharap padamu"
"Kau.. kenapa seakan akan kau jadi wanitanya dan aku prianya, bukankah seharusnya pria yang memperjuangkan wanita, yah sepertinya dunia sudah terbalik, tapi untukmu aku bisa melakukan apapun" Evan mengecup bibir Bella sekilas.
"Aku mencintaimu"
"Tapi.... " mereka saling menatap, Bella menghela nafas panjang. " Tapi jika... kau membuangku maka aku tidak bisa memperjuangkanmu" Bella menekan kata membuangku dengan lebih jelas. " Aku akan pergi"
Deg
Ini yang aku takutkan. Apa ini akan bener bener terjadi, dia akan pergi meninggalkanku jika ia tahu semuanya. Sanggupkah aku hidup tanpamu Bella. Dengan tiba tiba Evan mencium Bella ********** lembut seakan ia ingin mengatakan jangan pergi apapun yang terjadi, jangan tinggalkan aku, tanpa terasa Evan meneteskan air mata.
"Sayang kau menangis? apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Bella setelah Evan melepaskan bibirnya. Bella membelai pipinya, Evan terdiam untuk beberapa saat, lidahnya terasa kelu, ia tidak bisa menceritakan pada Bella, karena ia yakin Bella tidak akan setuju dan ia juga takut membahayakan Bella.
Apakah sudah terjadi sesuatu yang tak bisa kau ceritakan padaku, kau membuatku kawatir sayang
Bel berbunyi. Membuat tatapa mereka terputus. Evan melangkah untuk membuka pintu, pesanan makanan mereka datang. Setelah menerima makanan Evan menutup kembali pintu apartemen.
"Ayo sarapan" Bella dengan gerak cepat mengambil piring ke dapur .
"Kapan kau memesannya, sayangku ini pengertian sekali"
"Apa kau sudah lapar" Bella mengangguk senang. hanya diberi makanan saja kau sudah sesenang ini, bagaimana bisa aku kehilanganmu batin Evan.
Dengan cepat Bella membuka bungkus makanan untuknya dan juga untuk Evan.
"Makan makan... " Ucapnya riang. " Semenjak bersamamu berat badan ku naik, kau selalu memberiku makan enak, kalau berpisah denganmu mungkin aku akan langsung kurus" ucap Bella santai tanpa ia tahu kata kata terakhirnya membuat pria di depannya menjatuhkan sendoknya.
Ting.
Bella mendongak menatapnya tanpa bicara tapi dari tatapannya seakan ia bertanya kenapa? mulutnya penuh dengan makanan. Evan mengedikkan bahunya seakan ia juga mengerti arti tatapan Bella. Kemudian mereka melanjutkan sarapannya.
"Sayang aku sudah lulus kuliah, aku akan bosan kalau di apartemen terus, aku ingin bekerja" Ucap Bella yang saat ini mereka duduk santai di depan TV.
__ADS_1
"Besok ikutlah aku ke kantor"
"Apa aku akan bekerja di kantormu? " tanya Bella sudah mulai senang.
"Tidak, hanya menemaniku? "
"Sayang bukan itu yang aku inginkan, aku benar benar ingin bekerja, aku punya meja kerja dan ada laptop di depanku" ucap Bella masih dengan keinginannya untuk bekerja.
Aku harus merayunya, agar dia mengijinkan ku untuk bekerja. Aku harus bisa. semangat.
"Sayang... " Bella memulai aksinya, mengeluarkan jurusnya dengan memasang wajah super imut.
"Baiklah.. kau mendapatkannya"
"Benarkah? "
"Ehmm... "
"Terima kasih sayang, kau memang yang terbaik" Bella memeluk Evan erat. Kebahagiaan berpihak lah padaku batin Evan.
Keesokan harinya
Mereka berangkat bersama ke kantor karena tadi malam Evan menginap. Meskipun berkali kali diusir ia tak sedikitpun menanggapinya. Sampai di perusahaan banyak mata yang menatapnya. Siapa gerangan wanita yang bersama bosnya, karena baru kali ini bosnya membawa wanita ke perusahaan, apalagi mereka terlihat mesra.
Setelah sampai diruangan, Evan langsung duduk dikursi kebesarannya.
"Kemarilah" Panggilnya sambil menepuk pahanya. Bella menghampiri Evan.
"Apa begini caranya kau memperlakukan karyawan baru? " Tanya Bella dengan senyum menggoda.
"Kau karyawan istimewa" menarik tangan Bella kemudian mendudukkannya dipangkuannya. sedetik kemudian bibir mereka bertautan bersamaan dengan pintu yang terbuka.
"Ehmm... maaf bos" ucap Riki gelagapan. pagi pagi sudah melihat adegan tidak senonoh bosnya. nasib.
"Kau lupa dimana pintunya? "
"Maaf.. bos, saya tidak tahu kalau ada nona Bella disini" jawabnya gugup.
"Ada apa? " ucap Evan dingin.
"Dia..dia kembali bos" Evan terdiam tatapannya semakin dingin, ia tidak peduli dengan informasi yang diberikan asistennya itu.
__ADS_1
"Siapkan satu lagi meja kerja di ruangan ini" Riki menunduk kemudian berlalu pergi. Apa bosnya akan bekerja diruangan yang sama dengan nona Bella. Sepertinya akan menambah pekerjaanku.
MOHON LIKENYA ya kak, Terima kasih Kak.