Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 40


__ADS_3

Waktu menunjukkan jam satu siang. Acara resepsi akan segera dimulai. Pasangan pengantin sudah siap menyambut tamu dipelaminan. Tamu mulai berdatangan, tempat acara semakin ramai, tampak Andre dan Tomi juga hadir dalam acara pernikahan itu. Risa pun sudah hadir, ia tampak cantik dengan balutan dress dibawah lutut dengan warna soft pink membuatnya terlihat semakin manis dengan rambutnya yang diikat tinggi menampakkan leher jenjangnya.


"Sayang, selamat ya" Risa memeluk Citra. "Semoga segera dapat momongan ya, aku merindukanmu" mereka berpelukan kembali kemudian Risa juga menyalami pengantin pria" Selamat ya kak, semoga sahabatku ini tidak membuat kakak darah tinggi" Citra melotot kearah Risa. "Aku tak menyangka diantara kita kau yang menikah lebih dulu"


Terdengar suara Mc. Perhatian semua orang teralihkan ke arah Mc.


"Permisi sebentar, ada permintaan dari seorang tamu yang ingin memberikan kejutan yang sangat spesial untuk kedua pasangan pengantin, untuk tamu yang sangat cantik ini waktu dan tempat kami persilahkan"


"Semoga selalu bahagia" Terdengar suara dari belakang panggung, yang semakin lama semakin jelas. "Di hari spesial ini aku ingin menyanyikan sebuah lagu tapi.... " wanita itu mulai muncul. "Tapi suaraku tak sebagus penyanyi, jadi aku ingin.... "


Bugh....


Citra berlari dari pelaminan menuju panggung untuk hiburan, ia memeluk wanita yang sedang memegang microphone. Wanita itu sampai terjengkal kebelakang karena pelukan Citra.


"Bella.....Kau.... kau..... kau... datang" ucap Citra terbata. "Kau... hidup... kau masih hidup. " Memeluk lebih erat sambil terisak. Jangan ditanya make up, Citra sudah seperti hantu.


"Selamat ya, ternyata kak Andi jodohmu"


"Kau...bagaimana kau bisa selamat, kenapa tak mengabariku? kau harus menjelaskan semuanya nanti" bukannya menjawab Citra malah membalas dengan pertanyaan.


"Iya... iya lepaskan dulu pelukanmu, aku bisa mati sekarang" Citra melepaskan pelukannya. "Kau jelek sekali"


"Biarkan saja, Ini gara gara dirimu, aku jelek dihari pernikahanku, kau menyebalkan, kau tahu, aku merindukanmu" memeluk Bella kembali.


"Aku juga merindukanmu, sudah sana kembali, banyak tamu yang ingin memberimu selamat, dan jangan lupa perbaiki dulu make upmu itu"


"Kau jangan pergi dulu, tunggu sampai aku selesai, kau harus janji dulu"


"Ya aku janji, aku akan menunggumu, sudah sana, pengantin priamu sudah menunggu" Bella sedikit mendorong Citra agar kembali, akhirnya Citra berjalan kembali menuju pelaminan. Kemudian Bella juga turun dari panggung berjalan menghampiri Risa yang telah menunggunya dibawah.


Disaat yang bersamaan seseorang mengabadikan kejadian barusan.


"Kau sudah menghubunginya?" tanya Andre pada Tomy yang duduk disebelahnya.


"Sudah, bahkan sudah 10 kali, tapi dia tak kunjung mengangkat telponku. Awas saja dia, semenjak jadi gila kerja, dia melupakan sahabatnya ini" gerutu Tomi.

__ADS_1


Di perusahaan.


Seseorang mengetuk pintu ruangan, yang kemudian pintu ruangan terbuka, masuklah asisten Riki.


"Bos, tuan Tomi sudah berkali kali menghubungi anda, apa anda tidak berminat untuk menerima panggilannya, tuan Tomi berpesan ini sangat penting jika anda tidak ingin menyesal segeralah angkat telpon dari tuan Tomi" Evan menatapnya tajam. "Itu pesan dari tuan Tomi bos" Riki mengeluarkan HP dari saku jasnya kemudian segera mengangkatnya di depan Evan.


"Hallo, tuan"


"...... "


"Baiklah" Riki melangkah maju dan memberikan HPnya kepada Evan. "Maaf bos, tuan Tomi memaksa" menyerahkan hpnya kepada Evan. ia terpaksa menerimanya, karena dia malas diganggu terus, meskipun itu sahabatnya sendiri.


"Ada apa?"


"Kau.... brengsek, kalau saja kau bukan sahabatku, aku sudah menendang bokongmi itu" jawab Tomi kesal.


"Cepat katakan aku tidak punya banyak waktu"


"Kau.... heh aku tak yakin setelah ini kau akan berkata seperti itu, lihatlah video yang ku kirimkan, sampai jumpa beberapa menit lagi, bye" Tomi langsung mematikan HPnya.


Aku merindukanmu. Aku lelah.


Dret dreet.... Hanphonenya berbunyi kembali, seketika ia membuka matanya dan melirik hanphone yang ada di atas meja. Ia mengambilnya, membukanya, pesan masuk lagi dari Tomi, ia membaca pesan yang paling atas, yang baru saja dikirim Tomi.


'Kau benar benar melewatkan kesempatan. Aku sudah memberitahumu. Jangan pernah menyesal' isi pesan dari Tomi


Apalagi yang bisa membuatku menyesal selain Bella. Memangnya Video apa yang dia kirimkan. Evan.


Merasa penasaran dengan video apa yang sahabatnya itu kirim, kenapa sepertinya penting sekali, Evan membuka sebagian pesannya, terdapat puluhan panggilan tak terjawab dari Tomi dan juga beberapa pesan. Evan langsung menggeser ke arah video kemudian membukanya.


Deg...


Seketika jantungnya bergemuruh hebat, tangannya bergetar, matanya berkaca kaca. Ia diam mematung, saat tersadar ia langsung berlari keluar dari ruangan, dengan tidak sabar ia membuka pintu lift. Tomi yang hendak keruangan bosnya dibuat bingung dengan kelakuan bosnya.


Tadi saja masih bersikap dingin, sekarang seperti orang kebakaran jenggot, apa yang terjadi padamu bos.

__ADS_1


Evan segera masuk ke dalam ketika lift sudah terbuka, Riki hendak mengejarnya tapi pintu lift sudah tertutup, ia menggunakan lift lainnya untuk mengejar bosnya itu. Sampai di loby, Evan berlari sekencang mungkin menuju parkiran kemudian memerintahkan sopir untuk mengantarnya. Setelah masuk kedalam mobil, ia baru tersadar dimana tempat acara pernikahan itu. Mengeluarkan Handphone dalam sakunya kemudian menghubungi seseorang,


"Hal..... "


"Dimana tempat pernikahannya? sahabat Bella" ucap Evan cepat memotong ucapan asistennya.


"Di Hotel Xx bos, tapi acaranya.... " sudah selesai bos lanjutnya yang tak mampu didengar oleh Evan, karena dia sudah mematikan handphonenya.


Dua puluh menit kemudian mobil yang ditumpangi Evan sampai di lobi hotel XX, Evan turun dengan berburu - Buru, ia langsung menuju ballroom hotel tanpa bertanya pada resepsionis, karena ia sudah tahu tata letak hotel, ia pernah menghadiri beberapa jamuan dihotel itu. Setelah sampai di ballroom hotel kakinya mendadak lemas, tidak ada siapapun disana, pasangan pengantin ataupun tamu sudah tidak ada, yang ada hanya beberapa petugas kebersihan, yang sedang membersihkan sisa pesta.


Apakah acaranya sudah selesai. Sayang kau pergi kemana lagi, beri aku petunjuk. Beri aku kesempatan.


Evan bersandar pada dinding. Seketika ia teringat Tomi, ia menekan nomer Tomi. Satu panggilan dua panggilan, Tomi tak kunjung mengangkatnya . Baru setelah panggilan ketiga, Tomi mengangkat telpon darinya.


"Hallo,, kau baru melihatnya, cihhh"


"Dimana dia?"


"Carilah sendiri, aku sudah memberitahumu"


"Kau dimana?"


"Untuk apa kau bertanya keberadaanku?"


"Kau bersamanya?" hening. " Katakan"


"Aku tidak yakin dia mau bertemu denganmu, sepertinya dia sudah melupakanmu"


"Katakan"


"Baiklah, di restoran yang sering kita kunjungi" Segera Evan mematikan sambungan telphonenya. Ia berlari dari ballroom hotel menuju lobi, segera memasuki mobil yang sudah terparkir di depan.


"Ke Restoran biasa, cepat" perintah Evan pada sopirnya.


Kurang dari lima belas menit, mobil sampai di depan restoran. Dari luar ia dapat melihat wajah pujaan hatinya. Restoran itu berkaca bening jadi bisa terlihat dengan jelas. Ia belum turun dari mobil, ia masih setia menatap wanitanya, tanpa sadar ia menyunggingkan senyumnya, bahagia. Tentu saja, kekasihnya kembali kali ini tidak akan ia lepaskan lagi, apapun resikonya, ia akan berterus terang kepada Bella, agar tidak lagi ada kesalahpahaman. Ia akan jujur apapun itu. Tunggu aku sayang.

__ADS_1


__ADS_2