
Di ruang makan
Sudah tiga piring kotor tergeletak di meja makan. Dengan langkah gontai ia meletakkan ketiga piring kotor itu ke dalam cucian. Ia lelah, sudah tiga kali ia memasak makanan yang diinginkan wanitanya, spageti. Semuanya habis tak bersisa, serakus apa calon anaknya yang bisa menghabiskan tiga porsi spageti. Ia nampak berpikir akan segendut apa nanti anaknya.
"Sayang aku masih haus, aku mau nambah jus jeruk satu gelas lagi" Teriak wanitanya dari meja makan.
"Ah lagi... Ini sudah gelas ke empat" Lirihnya, calon anaknya sungguh ingin menyiksanya, apa ini balasanmu pada daddy boy.
"Baiklah sayang, tunggu sebentar,aku akan buatkan untukmu" Teriaknya juga dari dapur. Dengan segera ia membuat jus jeruk untuk wanita yang sangat ia cintai.
Setelah selesai ia segera memberikannya pada wanitanya.
"Sayang ini jusmu, cepatlah minum setelah itu istirahatlah" Ucap Evan pada wanitanya.
"Tapi aku ingin jalan -jalan, aku ingin makan jajanan anak SD "
Lagi, makan lagi. Apa iya di otak orang hamil itu hanya makanan.
"Apa belum kenyang sayang? "
"Sekarang aku sudah kenyang, tapi nanti aku lapar lagi"
"Istirahat dulu ya, nanti kalau sudah lapar baru kita beli"
"Aku ingin sekarang, kau keberatan membelikan anakmu ini makanan? "
"Tentu saja tidak sayang, apapun yang kau inginkan"
Hampir saja salah.
"Kalau begitu ayo kita berangkat? "
"Habiskan dulu jusmu"
"Sudah habis"
Hah!! Kapan ia menghabiskannya.
"Ok, ayo kita berangkat" Sungguh aku lelah lanjutnya dalam hati.
"Tapi kau terlihat lelah sayang"
"Tidak sayang, aku tidak lelah"
"Kau terlihat kurang ikhlas"
"Aku senang melakukannya sayang"
"Aku tidak percaya"
"Apa kita akan berangkat sekarang? " Ucap Evan sambil menahan kesal dengan tetap mengembangkan senyumnya.
"Aku mau tidur saja, aku mengantuk" Beranjak dari ruang makan, berjalan masuk ke dalam kamar.
"Hah... . . Salah lagi. Emosi ibu hamil sangat menyiksa, begini salah begitu salah" Mengacak - ngacak rambutnya dengan kedua tangannya.
*
*
Di tempat yang lain.
"Sayang ayo kita ke rumah sakit, apapun hasilnya kita pasrahkan sama Allah"
__ADS_1
"Tapi aku takut kecewa"
"Tidak usah dipikirkan, periksa aja dulu"
Setelah berdebat akhirnya Citra mau mengikuti saran suaminya untuk kerumah sakit tepatnya ke poli kandungan.
Setelah mengantri cukup lama akhirnya namanya di panggil juga.
"Apa ada keluhan ibu? "
"Tidak ada dok"
"Saya periksa dulu ya" beberapa menit kemudian. "Tidak ada, belum ada perkembangan janin, apa ibu sudah melakukan tes kehamilan"
"Belum dok"
"Apa ada gejala mual pusing atau tidak nafsu makan? "
"Tidak ada dok, malah saya makan lebih banyak"
"Baiklah, ada beberapa pasien, disaat awal hamil itu tidak kelihatan, lebih baik ibu melakukan tes kehamilan dulu, bulan depan kita kontrol lagi, semoga bulan depan sudah kelihatan janinnya"
"Bagaimana kalau tetap tidak ada dok" Andi ikut bersuara.
"Ya bapaknya harus lebih berusaha lagi dong"
Jleb
"Dokter bisa saja, baiklah dok saya akan berusaha malam ini"
Di dalam mobil.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, Allah sudah mengaturnya, mungkin kita harus berusaha lebih keras lagi" mengedipkan matanya ke arah istrinya.
"Sssstttt... " menyentuh bibir istrinya dengan jari telunjuknya. "Ayo kita buat sekarang juga" langsung ******* bibir istrinya, bagian atasnya susah terbuka sedikit, setelah kehabisan nafas baru ia lepaskan.
"Jangan di sini, ini masih diparkiran rumah sakit, jangan sampai mereka melihat mobil kita bergoyang" Andi tertawa lepas, tidak lucu juga kalau mereka melakukannya dirumah sakit batinnya.
"Ayo kita pulang, kita lanjutkan dirumah" Citra tersenyum malu malu. suaminya semakin mesum.
*
*
Beberapa bulan kemudian
Setelah melewati masa ngidam yang membuat suaminya pusing tujuh keliling. Malam ini Bella tidak bisa tidur karena perutnya semakin membesar, ia meminta suaminya untuk memijat kakinya.
"Ini sudah jam 12 sayang, aku istirahat dulu ya" karena setelah selesai makan malam Bella memintanya untuk memijat kakinya, sampi jam 12 malam ia belum tertidur juga.
"Tapi kakiku sakit sayang, dan akan lebih baik kalau ada yang memijat"
"Aku capek sayang, tanganku sepertinya kaku"
"Aduh perutku, perutku sakit"
"Sakit, mana? mana? yang sakit? "
"Perutku"
"Apa kau akan melahirkan"
"Aku tidak tahu, ah.... sakit sekali"
__ADS_1
Dengan tergesa ia mengambil kunci mobil dan ponselnya, lalu ia kembali ke ranjang menggendong Bella untuk membawanya ke rumah sakit, semenjak hamil besar ia tinggal dirumah orangtuanya.
Sampai di mobil ia baru teringat kalau ada sopir pribadi di rumahnya, dengan berteriak ia memanggil pak sopir. Teriakannya membuat semua orang terbangun, , termasuk kedua orangtuanya.
"Ada apa kau teriak - teriak" tanya mama yang melihat Evan menggendong istrinya
"Istriku akan melahirkan ma"
"Melahirkan?"
"Auuuu... sakit... sakit sekali" Bella bersuara dalam gendongan Evan.
"Sayangku... cepat cepat.. " segera masuk kedalam mobil. "jalankan mobilnya"
Orangtuanya juga langsung kerumah sakit dengan mobil yang lain.
Bella langsung ditangani tim medis setelah sampai dirumah sakit.
"Dok istri saya..."
"Tenanglah, istri anda baik baik saja"
"Tapi dok istri saya kesakitan"
"Pasien yang mau melahirkan memang akan merasa kesakitan, masuklah ke dalam temani istri anda"
"Saya juga ikut melahirkan dok"
"Tidak, hanya menemaninya saja"
"Baiklah dok" masuk kedalam kamar bersalin. Melihat istrinya tersenyum seperti tidak terjadi apa - apa. "Sayang apa tidak sakit lagi"
"Tidak, sakitnya sebentar hilang sebentar datang, tenanglah jangan panik, aku yang akan melahirkan"
"Jangan panik? " Bagaimana tidak panik melihatnya kesakitan seperti tadi lanjutnya dalam hati. Tangannya menggenggam tangan istrinya. "Baik.... "
"Auuuuuwww" tangannya diremas. "Sakit..... sakit"
"Sayang, sayang, dok.... dok... dokter"
Muncul dokter dari balik tirai. "Tenanglah pak, istri anda akan melahirkan, buatlah istri anda tenang"
Setelah setengah jam terdengar tangisan bayi.
Hoek..... hoek.... hoek
"Alhamdulillah,,,, sayang anak kita sudah lahir, Terima kasih" Mengusap peluh yang bercucuran diwajah istrinya, mengecup kening istrinya penuh haru. Melihat perjuangan istrinya untuk melahirkan bayi mereka secara normal membuatnya terharu, sampai ia meneteskan air mata melihat istrinya yang begitu kesakitan, berjuang mengeluarkan bayinya sendiri.
Bella pun menangis bahagia.
"Ini putra bapak, bayi laki laki yang lucu, bayinya sehat pak. Silahkan di adzani dulu" salah satu perawat memberikannya pada Evan. dengan ragu ia mengambil bayinya itu. "Sayang anak daddy" memberikannya kembali ke perawat setelah di adzani.
Evan keluar dari ruangan yang sudah disambut oleh keluarganya, sedangkan keluarga Bella masih dalam perjalanan.
"Mama, Evan sudah jadi daddy ma" ucap Evan bahagia pada orangtuanya.
"Dan mama akan menjadi oma" ucap mama tak kalah bahagia.
"Papa akan di panggil opa" papa tidak mau kalah.
Kebahagiaan kadang datang dengan cara yang sederhana. Bertambahnya satu anggota keluarga merupakan kebahagiaan yang tak ternilai. Jadi syukurilah seberapa besar maupun kecilnya kebahagiaan itu datang, karena Allah akan menambah nikmatNya bagi orang yang pandai bersyukur.
Tamat.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novel yang jauh dari kata sempurna ini, Terima kasih atas dukungannya, Terima kasih like and komennya, Terima kasih hadiah dan votenya, kalian sangat berharga. Sampai jumpa di novel selanjutnya.