
Waktu begitu cepat berlalu, setahun dua tahun sudah mereka menjalin hubungan. Selama ini hubungan mereka baik baik saja, orang tua Evan tidak menentang tidak juga merestui, selama ini pula Bella belum memperkenalkan Evan pada keluarganya, begitu juga Evan, Bella selalu menolak untuk di ajak ke rumah orang tuanya, dia beralasan karena masih kuliah jadi keluarga tidak perlu tahu lebih dulu, mungkin nanti setelah lulus kuliah, Bella akan memperkenalkan Evan pada keluarganya, dan juga mau bertemu dengan orang tua Evan.
Selama dua tahun ini masih banyak penggemar Evan yang menjelekkannya, banyak juga yang bermuka dua, mendekatinya hanya untuk mendekati Evan, tapi Bella tidak mau ambil pusing, biarlah mereka mau bilang apa, karena sebagian perkataan mereka juga benar, siapa yang akan percaya kalau aku bukan wanita gila harta, secara saat ini aku tinggal di apartemen mewah, penampilanku juga sedikit berubah setidaknya tidak membuat Evan malu, dan jangan lupa satu lagi aku punya kartu sakti yang bisa membeli apa saja. Evan juga memberiku mobil sebagai hadiah ulang tahun, bukannya aku tidak mau menolak tapi itu kan rezeky, ya gak? ditolak pun percuma karena dia akan melakukan segala cara agar aku menerimanya, dia bilang masak iya kekasih Evan menggunakan sepeda motor butut, kalau dipikir ya benar juga, jadi dengan sangat terpaksa dan juga senang sekaligus aku menerima semuanya.
Bahkan lemariku penuh dengan tas, baju, sepatu, jam tangan yang semuanya barang mewah barang branded. Tapi tak satupun dari semua barang itu aku beli sendiri, semuanya Evan yang membelikannya, setiap keluar kota ataupun ke luar negeri dia selalu memberiku hadiah barang barang mewah. Kalau aku sih mana mungkin beli barang semahal itu meskipun aku punya uang yang cukup, aku tak kan membelinya.
kring kring.
"Halo.. Assalamualaikum sayang" Bella langsung mengangkatnya setelah tahu siapa yang menghubunginya.
"Waalaikumsalam, sayang aku merindukanmu, kau sudah siap, cantik" mereka melakukan video call sehingga Evan bisa dengan jelas melihat penampilan Bella.
"Aku tidak mau bilang rindu, aku ingin kau cepat kembali, sebenarnya aku masih ingin kau bisa hadir, ini hari wisuda kita, aku ingin berfoto berdua dengan seragam wisuda" jawab Bella cemberut. ia merasa kesal disaat wisuda malah Evan harus keluar kota hingga dia tidak bisa hadir. Entah pekerjaan seperti apa yang tidak bisa ia tinggalkan.
"Nanti kita akan melakukannya, berfoto berdua dengan seragam wisuda?" Ucap Evan membujuk Bella, ia suka dengan sikap Bella yang manja.
"Kapan kembali? Sebenarnya aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku, hari ini mereka akan datang" ucap Bella manja.
"Benarkah? kau sudah siap mengenalkanku pada keluargamu? "Bella pun mengangguk. " Kau tahu itu artinya apa" Bella mengangguk lagi. "Itu artinya hubungan kita serius, apa kau siap untuk apa yang akan terjadi kedepannya?" Bella mengangguk dengan wajah yang merona, ia mengerti apa yang dimaksud Evan.
"Baiklah aku harus berangkat, ehhmm apakah keluargaku boleh menginap disini" tanya Bella ragu.
"Kenapa kau masih bertanya, lakukan apapun yang kau inginkan sayang, ajaklah mereka juga jalan jalan, nanti aku transfer"
__ADS_1
"Terima kasih sayang, tidak perlu memberiku uang lagi, uangku masih banyak, aku kesulitan untuk menghabiskannya" jawab Bella senang, karena Evan juga baik pada keluarganya.
"Baiklah,, hati hati dan semoga wisudanya lancar"
"Iya... aku merindukanmu, aku berangkat dulu ya, bye bye.. " Bella melambaikan tangannya, Evan tersenyum melihat wajah kekasih yang sudah sangat ia rindukan itu . Tapi entah kenapa hatinya merasa gelisah, ia merasa akan terjadi sesuatu, karena ia disini bukan untuk pekerjaan, seseorang menghubunginya.
Di kampus
"Paman Bibi, Alexa kau juga datang" Bella menyalami keluarganya satu persatu dan juga memeluk mereka melepaskan rasa rindu.
"Ya kak, aku merindukanmu, dan aku juga ingin melihat keindahan kota M , kakak harus membawaku jalan jalan" jawab Alexa penuh semangat, ia merengek pada Ayah Ibunya untuk diijinkan ikut menghadiri acara Wisuda kakak sepupu satu satunya. Alexa sangat menyayangi Bella meskipun mereka bukan saudara kandung, tapi Alexa menganggap Bella seperti saudara kandungnya sendiri. Bella pun sangat menyayangi Alexa.
"Baiklah, aku akan mengajakmu jalan jalan sepuasnya, sampai kau tak ingin pulang" jawab Bella dengan tingkah lucu sambil merangkul Alexa.
"Alhamdulillah sayang kami sehat, kami senang melihatmu sampai di wisuda, akhirnya impianmu terwujud" Jawab Bibi Bella hangat, terpancar kebahagiaan yang tulus dari tatapannya.
"Dan ini semua berkat kalian, tanpa kalian mungkin aku tidak bisa sampai disini" jawab Bella dengan mata yang berkaca kaca.
"Sudah sudah... kok malah sedih, acaranya belum dimulai nanti malah make up nya rusak, bibimu tidak bisa merias wajahmu" Paman melihat keponakannya ini akan menangis, dia turut bahagia dengan keberhasilan Bella, lihatlah kak putrimu bisa sampai kuliah tanpa biaya dariku dan sekarang putrimu sudah lulus kuliah, putrimu sangat hebat.
Acaranya pun dimulai, semua mahasiswa dan mahasiswi memasuki aula, tampak kebahagiaan terpancar dari semua orang yang ada di aula, karena inilah yang mereka tunggu setelah 4 tahun lamanya menempuh pendidikan.
Waktu berlalu, acara wisuda pun selesai, mereka melakukan berbagai sesi foto sebelum meninggalkan tempat wisuda.
__ADS_1
"Rasanya ada yang kurang ya, Risa membawa pergi separuh kebahagiaan kita" ucap Bella sendu, dia sedih saat sahabatnya Risa memutuskan untuk pindah kuliah, mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan, entah apa yang terjadi padanya, dia tetap bersikeras pindah meskipun kami sudah membujuknya.
"Iya dia tega sekali" jawab Citra sendu, mengingat sahabatnya yang selalu heboh
"Kenapa kita jadi tidak semangat gini ya"
kring kring. Bella langsung mengangkat panggilan teleponnya penuh semangat yang ternyata video call dari Risa
"Hallo baby... " ucap Risa dengan senang tapi ia bingung melihat kedua sahabatnya yang terlihat sedih dilayar hpnya. "Ada apa dengan wajah kalian? Jangan bilang kalian habis di bully" Bella dan Citra malah menangis ditanya seperti itu tanpa lagi memperhatikan riasan nya toh acara sudah selesai.
"Kami sangat merindukanmu" sahut Bella ditengah isakannya.
"Kenapa kau tinggalkan kami, kami sedih tanpamu" lanjut Citra.
"Ihh... kalian melow sekali, aku pergi bukan untuk mati, tapi kalian sudah menangis seperti itu" jawab Risa.
"Kau menyebalkan" jawab Bella dan Citra bersamaan.
"Aku senang kalian sudah wisuda, aku merindukan kalian, aku ingin menghadiri acara kalian hari ini tapi aku..... aaaaaa" Eh Risa juga ikutan menangis. tapi aku takut bertemu dengannya, aku belum siap, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku lanjut Risa dalam hati.
"Eh.. kenapa kau ikutan nangis, dasar cengeng"
"Melihat kalian menangis aku juga ingin menangis, bukankah saat suka duka kita harus tetap bersama, jika kalian mengeluarkan air mata maka aku juga harus mengeluarkan air mata" jawab Risa membela diri, padahal sebenarnya dia benar benar sedih mengingat sahabatnya, mengingat seseorang yang pernah ada dihatinya. Kemudian mereka tertawa bersama sebelum video call dimatikan. Tanpa ada yang menyadari seseorang disana mendengar semua obrolan mereka, yang seketika membuat hatinya gelisah. Ada rasa yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata kata.
__ADS_1
Hi sahabat pembaca.. jangan lupa like and komennya ya...... like kalian sangat berarti untuk novel ku ini.