Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 42


__ADS_3

Masih di dalam restoran. Banyak pelanggan yang berdatangan, ada pula yang sudah pergi meninggalkan restoran. Tapi dua manusia yang sedang berhadapan masih enggan untuk membuka pembicaraan lagi. Hening itulah yang terjadi. Sampai akhirnya Bella yang membuka pembicaraan.


"Sudah hampir gelap, aku harus menyusul Risa, aku akan menemaninya, aku... aku pergi dulu" hendak melangkah pergi tapi langkahnya terhenti.


"Masih ada yang ingin aku katakan, ikutlah bersamaku" ucap Evan datar.


"Aku... " Evan langsung berdiri melewatinya, tanpa menunggu persetujuan Bella.


Isshhh, dia selalu seenaknya. Huft, baiklah ini terakhir kalinya aku menurutimu.


Evan masuk kedalam sebuah ruangan VIP yang masih ada di restoran itu, membuka pintu lebar agar Bella bisa masuk, sepertinya dia sudah membooking tempat itu. Bella melangkah masuk, memperhatikan sekeliling, dekorasi ruangan yang unik, dimeja dekat sofa sudah tertata berbagai hidangan, ternyata Evan sudah menyiapkan semuanya.


"Apa yang... " ucapannya terpotong karena ada gerakan seseorang dibelakang tubuhnya.


Bugh


Ada tangan yang melingkar di perutnya, Bella tertegun sejenak, Evan memeluknya dari belakang. Pelukan ini, sudah lama aku tidak merasakannya, pikir Bella. Ia terbuai, ia menikmati pelukan Evan, ia juga merindukan pelukan ini. Tapi seketika ia tersadar, ia dipeluk oleh suami orang.


"Jangan seperti ini" Ucap Bella pelan yang masih mampu di dengar Evan.


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu" bisik Evan ke telinga Bella.


"Jangan lakukan ini padaku, aku sudah ikhlas melepasmu, mari kita jalani hidup kita masing - masing" ucap Bella sambil melepaskan tangan Evan yang melingkar diperutnya. Bella berbalik menatap Evan. Laki - laki yang berdiri dihadapannya kini sudah berbeda, semakin sulit untuk ia jangkau.


"Bell,, sebenarnya wanita itu bukan istriku, bayi itu juga bukan anakku"


"Apa maksudmu?" Bella terkejut dengan apa yang dikatakan Evan. Apa dia pikir ini lelucon.


"Iya.. itu yang sebenarnya, aku tidak pernah menghianatimu, dia istri dan anak sahabatku" Evan mulai menceritakan dari awal bagaimana kisah itu terjadi, tanpa dikurangi sedikit pun. Ia merasa lega setelah menceritakan semuanya, ia berharap bisa bersama Bella kembali.


"Kau membohongiku? Apa kau tahu apa yang sekarang aku rasakan? Dulu kau menyakitiku, dan sekarang kau membuatku seperti orang bodoh? Kau tahu apa artinya itu? Kau tidak mempercayaiku?"


"Bell... aku.. "

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan? aku akan cemburu, aku tidak akan membiarkan kau membantu sahabatmu, apa kau pikir aku setega itu, membiarkan istri dan anak sahabatmu dalam bahaya, meskipun mereka bukan sahabatku, benar itu yang kau pikirkan? "


"Aku... "


"Apa kau pikir aku seegois itu?" Bella terisak, semakin lama isakannya semakin keras, ia menangis sejadi jadinya. Bella terduduk dilantai. Evan duduk dihadapannya. Menghapus air mata Bella.


"Maafkan aku"


"Kau tahu betapa hancurnya aku waktu itu, sakit. aku menyesal, seandainya saja aku tidak mendatangimu waktu itu, setelah membuka amplop yang berisi fotomu, mungkin aku masih bisa bersamamu, tapi nasi sudah menjadi bubur, aku sudah tahu semuanya, sehingga aku kehilanganmu waktu itu" mengambil nafas.


"Aku ingin egois, aku ingin merebutmu darinya, tapi bayi dalam gendonganmu menghentikan ku, aku ingin marah, aku merasa tak adil, merasa terkhianati, aku ingin bertanya kenapa? Tapi apa gunanya, semuanya tak berguna karena ada anak diantara kalian. Aku tidak mau ada seorang anak yang akan merasakan memiliki keluarga yang tak utuh karena aku" ucap Bella disela tangisannya. Evan sedih melihat wanitanya menangis seperti itu, bagaimana dulu saat ia menyakitinya, apa wanitanya juga menangis seperti ini.


"Maaf,, maafkan aku, marahlah padaku, pukul aku" Bella tertawa dalam tangisannya.


"Bahkan aku merasa tidak berhak untuk marah, aku berusaha untuk ikhlas" Bella menghapus air matanya kemudian ia berdiri yang juga diikuti Evan. " Terima kasih sudah baik padaku selama ini, Terima kasih sudah pernah melamar ku, setidaknya aku pernah merasakan dilamar oleh laki - laki yang aku cintai, bahkan mengajakku menikah. Aku tidak akan melupakan kenangan kita" Evan menggeleng pelan mendengarkan ucapan Bella. "Mungkin itu cara Tuhan untuk memisahkan kita, mungkin kita tidak berjodoh"


"Bell, beri aku kesempatan"


"Semoga kau selalu sehat dan bahagia, selamat tinggal" Bella berjalan keluar ruangan, Evan hendak meraihnya tapi Bella menghindar.


"Kita sudah berpisah, hiduplah dengan baik, jangan mengejarku, biarkan aku pergi" ucap Bella tanpa menoleh kebelakang. Bella pergi meninggalkan restoran. Setelah sampai diluar ia langsung masuk kedalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan restoran itu. Ia menangis kembali di dalam taksi, setelah mengatakan tujuannya pada sopir taksi.


Kembali ke restoran.


Evan terjatuh ke lantai setelah kepergian Bella. Kali ini ia merasa benar benar kehilangan Bella. Bella masih hidup, ia kembali tapi ia pergi lagi.


"Aaagghhhh... " Evan menjerit, menangis. Putus asa itu yang ia rasakan. Berkali kali handphonennya berbunyi namun tak ia hiraukan.


Benarkah ini takdir kita. Tidak... Aku yang akan meminta pada Tuhan agar kau ditakdirkan untukku.


Seketika Evan berdiri, berjalan keluar mengejar Bella, tapi dia tak melihat Bella dimanapun, ia malah menemukan Riki didepan restoran.


"Dimana dia?" tanya Evan pada Riki dalam keputusasaannya. Dia melihat kesana kemari, melihat ke jalan.

__ADS_1


"Nona Bella sudah pergi bos" jawab Riki yang tadi sempat melihat Bella keluar dari restoran yang kemudian masuk ke taksi.


"Aagghhh" menyugar rambutnya kebelakang dengan kedua tangannya.


"Bos, lebih baik bos pulang dulu" menatap Riki kemudian masuk ke dalam mobil.


Di cafe Andi


Hari sudah gelap. Ia baru saja sampai di cafe Andi dan segera menuju kamar yang ada dibelakang cafe. Dia segera melaksanakan tugasnya sebagai muslim, meskipun ia bukan ahli ibadah, setidaknya ia tidak pernah meninggalkan kewajibannya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Dia meminta kunci cadangan kepada petugas yang kebetulan belum pulang, karena ia belum melihat Risa. Entah kemana anak itu. Padahal tadi pulang lebih dulu.


Kamar dicafe itu lumayan luas dan sederhana, terdapat satu lemari, satu sofa panjang, satu ranjang berukuran besar cukup untuk dua orang, meja rias, kamar mandi, cukup nyaman. Tepat jam 7 malam Risa kembali. Ia terlihat lesu.


"Kau baik baik saja" memperhatikan gerak gerik Risa.


Risa mendudukkan bokongnya disofa sebelah Bella. Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar.


"Sepertinya aku akan jomblo lagi, nasib percintaanku buruk" keluhnya.


"Aku baru tahu kamu punya kekasih, apa kau dicampakkan untuk yang kedua kalinya" sindir Bella.


"Bukankah kita bernasib sama dengan cerita yang berbeda" Risa tertawa miris mengingat kisah cinta mereka.


"Dia membohongiku, mereka bukan anak dan istrinya" ucap Bella sambil memakan cemilan yang barusan Risa bawa.


"Apa maksudmu?"


"Ya, mereka istri dan anak sahabatnya, dia bilang tidak berdaya untuk berkata jujur, karena itu juga bisa membahayakan keselamatanku jika aku terlibat, alasan yang membuatku ingin sekali menamparnya. Yang jelas kami sudah berakhir" Risa memeluk Bella, mengelus punggungnya.


"Aku yakin kamu bisa, kamu kuat, hemmm... "


"Aku harap begitu" tersenyum manis, berharap semuanya akan baik baik saja. "O ya aku akan kembali besok, tidak apa apa kan aku tinggal"


"Isshhh, kau tega sekali,, tunggulah sampai aku pindah ke apartemen, besok aku akan pindah, ayolah bantu aku beberes, akan sangat rugi sekali kalau ada teman tidak dimanfaatkan" ucap Risa sambil tertawa.

__ADS_1


"Kau menyebalkan, tapi aku tak bisa menolak, kau harus memberiku makan yang banyak"


"Tenang saja, kalau urusan perut kita numpang disini" hahahahaha mereka tertawa bersama. Seakan akan hari ini tidak terjadi apa apa.


__ADS_2