Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 44


__ADS_3

Di sebuah kamar hotel


Ranjang di penuhi dengan taburan bunga berbentuk love, bunga mawar merah, aroma wanginya mengisi seluruh ruangan, cantik sekali. Di sebelah ranjang terdapat meja dan dua kursi yang juga tidak kalah cantik, hidangan makan malam sudah tersedia diatas meja, meja yang dihiasi lilin serta bunga yang sangat cantik. Tirai tertiup angin karena jendelanya sengaja dibuka. Untung saja anginnya tidak begitu kencang sehingga lilinnya tidak mati. Disebelah kanan dan kiri juga bertaburan bunga dan lilin, suasana yang begitu romantis. Author aja klepek klepek. Tapi tidak bagi seseorang.


Setelah pintu kamar terbuka, Andi dan Citra memasuki kamar yang telah disiapkan oleh petugas hotel. Andi tersenyum senang melihat kamar yang dihias begitu indah. Pelayanan hotel yang sangat memuaskan, aku akan merekomendasikannya pada teman - temanku batin Andi. Tapi berbeda dengan seorang wanita disebelah nya. Setelah memasuki kamar dan berjalan beberapa langkah ia menghentikan langkahnya, karena ia mencium aroma yang menyengat, dia pun memperhatikan sekeliling, betapa terkejutnya ketika ia melihat banyak bunga diranjang, dilantai, dimana dimana. Satu yang ia pikirkan, kuburan.


"Aku gak mau tidur di kamar ini" ucap Citra yang membuat Andi menoleh heran kepadanya.


"Kenapa? Apa kurang bagus dekorasinya, kau ingin ganti bunga sayang?"


"Sayang sayang, ini seperti kuburan saja, aku gak mau tidur di kuburan, aku belum mati, aku mau pulang saja" melangkah keluar.


Kuburan. Yang benar saja, mereka menghias kamar ini dengan penuh tenaga, dan dia bilang kuburan. Oh...


"Sayang, kau tak suka bunga" Andi mengejar Citra yang sudah keluar dari kamar hotel.


"Aku suka, tapi aku takut melihat bunga bertaburan seperti itu, kesannya seperti kuburan saja" ucap Risa kesal


"Oke, kita pulang saja, nanti kalau kita bulan madu, tidak akan ada lagi bunga yang bertaburan, maaf aku belum mengetahuinya" bujuk Andi yang membuat Citra tersentuh mendengar apa yang dikatakan Andi.


"Maaf mengecewakan usahamu" Citra merasa sedikit bersalah


"Tidak apa - apa" membelai rambut panjang Citra.


Kembali ke taman


Setelah membuat janji untuk nonton, kedua pemuda tadi pamit pergi, karena mereka masih ada urusan.


"Ris, coba lihat tuh, masak iya olahraga pakek piyama" Bella menunjuk tiga pria yang membelakanginya.


"Males nyuci kali" jawab Risa sekenanya.


"Tapi kok kyaknya gak asing ya, bukankah itu.... Evan" tebak Bella meskipun dari belakang, ia sangat mengenali postur tubuh Evan.


"Benarkah, berarti dia bersama.... "


"Tomi dan Andre. Jangan bilang mereka menguntit kita" ucap Bella curiga.


"Mana mungkin, mereka orang sibuk, tidak mungkin juga mereka melakukan hal yang tidak penting"


"Ayo kita buktikan" Bella tersenyum smirk.


"Kau memang jahil, aku setuju" Mereka berdiri kemudian berjalan kearah mereka sembari mengobrol.


"Sepertinya aku harus move on, dengan cinta yang baru, pemuda tadi sangat tampan" ucap Bella keras agar terdengar di telinga ke tiga pria itu.


"Aku juga gak mau jomblo lagi"

__ADS_1


"Ayo kita berkencan" ucap mereka bersamaan sembari tersenyum jahil.


"Haruskah kita beli baju, agar kelihatan seumuran?"


"Good idea" jawab Risa, mereka telah melewati Evan dan sahabatnya. Setelah agak jauh barulah mereka melepas tawa mereka.


"Benar kan, apa kataku, mereka Evan Andre dan Tomi" Bella mendadak sendu.


Apa yang kau lakukan, bolehkah aku berprasangka baik, kau disini untukku. Tidak.. tidak... kita sudah berakhir.


Bell maaf, entah kenapa aku berharap kau berbaikan dengan Evan, karena aku tahu dia adalah kebahagianmu. Bolehkah aku membuat kalian bersatu.


"Kau merindukannya?"


"Kau ini bicara apa.. Ayo kita kembali, bukankah hari ini kau akan ke apartemen, ayo kita bersih bersih"


"Jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat, hemat ongkos"


"Sekalian saja bungkus untuk makan siang" ucap Bella sambil tertawa.


"Bolehlah"


Merekapun kembali ke cafe, bersiap siap untuk ke apartemen. Setelah sarapan dan membawa dua bungkus bekal mereka pergi ke apartemen.


Sampai di apartemen mereka langsung bersih bersih, karena hari ini juga Risa akan tinggal di apartemen.


Di dalam mobil. Hening. Mereka terdiam dengan pikiran masing masing. Hanya Tomi yang menatap kesal pada dua sahabatnya itu. Dasar bucin batinnya.


Apa katanya, mau move on, cinta yang baru, berkencan. Tidak akan aku biarkan. Baiklah mari berkencan. Evan


Apa aku sangat menyakitinya. kenapa dia tidak pernah melihatku lagi. Andre


Mereka yang jatuh cinta, aku yang sengsara. Tomi


Terlihat Evan sedang mengetik pesan dan mengirimkannya pada seseorang. Setelah lama terdiam akhirnya Evan mengemudikan mobilnya ke kediaman Tomi, ia harus mengantarkan sahabatnya dulu, sebelum kedua sahabatnya mengeluarkan tanduk, baru ia akan pulang ke apartemen untuk siap siap bertemu dengan seseorang.


Di apartemen Risa.


"Bell, nanti aku pergi dulu ya, kita ketemuan di mall saja, aku ada janji sama teman" ucap Risa setelah mendapat pesan dari seseorang.


"Teman siapa?"


"Teman lama"


"Aku ikut aja dah"


"Kami mau membahas pekerjaan, ta...takutnya lama" ucap Risa gugup. Ia tak punya alasan lain.

__ADS_1


"Kau sudah dapat pekerjaan?"


"Belum, tapi akan"


"Baiklah, semoga kau segera mendapatkan pekerjaan, semangat"


"Terima kasih. Aku harap kau juga tinggal disini"


"Aku tidak mau meninggalkan keluargaku lagi, aku bekerja dikampung saja, huft"


"Bagaimana kalau mereka mengijinkan kau bekerja dan tinggal disini"


"Itu tidak mungkin, sudahlah sana siap siap, jemput rezekimu" Risa menatap Bella seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya terasa kelu, dia hanya berharap bahwa apa yang akan dilakukannya, adalah yang terbaik untuk Bella.


Setelah satu jam.


"Bell, aku pergi ya, ingat nanti kita ketemuan di mall, kita tidak boleh melewatkan kencan kali ini"


"Ya.. iya pergilah, hati hati" Risa pun menutup apartemen. Setelah sampai di depan ia pun memberhentikan taksi, menuju ke tempat seseorang yang telah lama menunggunya.


"Hai... kau sudah datang?"


"Kau terlalu lama"


"Isssh, kau ini, hari ini aku pindahan, sudah tidak membantu malah marah - marah, aku tidak akan bersikap baik padamu, untuk apa kau menghubungiku? jangan bilang kau membutuhkan bantuan ku, aku tidak akan membantumu, kau menyebalkan" ucap Risa nggas.


Yach, dia tidak berhenti mengoceh. Aku harus bisa mengambil hatinya, agar dia mau membantuku.


"Kau benar, aku membutuhkan bantuanmu, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan"


"Apapun? "


"Iya"


"Termasuk menjadi kekasihmu?" Evan menatapnya tajam. "Jangan melotot, Aku hanya bercanda"


"Aku bisa membantumu untuk bersama Andre"


"Aku tidak butuh. Cepat katakan apa yang kau inginkan"


Evan menjelaskan rencananya secara detail.


"Baiklah, aku akan melakukannya, demi kebahagiaan sahabatku, ingat itu. Tapi.... tawaranmu masih berlaku kan?"


"Tentu, apa yang kau inginkan?"


"Aku baru pindah lagi kesini, aku tinggal disini dengan menyewa apartemen, biayanya mahal, makan disini pun mahal, aku.... "

__ADS_1


"Kau butuh pekerjaan, datanglah ke kantorku besok" potong Evan karena Risa terlalu bertele tele. Sedangkan Risa tersenyum bahagia mendengar perkataan Evan.


__ADS_2