Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 15


__ADS_3

Ternyata benar, jika sedang berdua maka yang ketiga syaiton.


"Entah kenapa? rasanya aku ingin mengecup bibir itu. Batin Evan.


Kenapa Evan menatapku seperti itu, ah jadi grogi kan. Batin Bella.


" Ehem... aku sedang mencari pekerjaaan, apa kau butuh karyawan baru" tanyaku agar tidak semakin gugup. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menghela nafas berat kemudian menatapku intens"


"Apa keahlianmu? aku tidak menerima karyawan sembarangan" tanyanya tegas. seperti sedang wawancara saja.


"Aku... aku... " ditanya begitu aku jadi gugup, apa ya keahlianku. "Sepertinya aku tidak punya keahlian"


Dia berdiri dari kursi, kemudian memutari meja makan dan berhenti disampingku, satu tangannya menyentuh dagu seraya berpikir, kemudian melihatku dari atas ke bawah.


"Tinggi standart, wajah juga biasa" ucapnya.


Apa wajah biasa?? tenang tenang,, aku harus dapat pekerjaan, aku tidak mau merepotkan paman dan bibi.


Aku memberikan senyum termanis ku. Aku berdiri dan


Degh


Belum sempat aku bicara ada sesuatu yang kenyal menyentuh bibirku. Aku terkejut, sedikitpun aku tidak bergerak, meskipun aku tidak membalas ciumannya tapi dia tetap ******* nya, gak mungkin kan aku membalas ciumannya. Tapi ini ciuman pertamaku.


Ciuman pun terlepas,, mereka berdua semakin kikuk.


"Maaf" Ucapnya. Aku bingung mau jawab apa.


"Aku harus pulang" jawabku salah tingkah


Kemudian dia mengantarku, tidak ada pembicaraan diantara kami, hening. setelah sampai dikosan mobil pun berhenti.


"Jika kau ingin pekerjaan datanglah besok malam Ke apartemenku, kita bahas pekerjaan apa yang cocok untukmu" ucapnya


"Baiklah, aku akan datang" meski sikapku biasa saja sebenarnya aku bersorak di dalam hatiku, pekerjaan akhirnya dapat.


Mobil pun melaju setelah aku turun dari mobil sambil melambaikan tangan,, dadada. Bergegas aku memasuki kamar kos, langsung ku rebahkan tubuh ini diatas kasur.


Ya Allah,, apa yang terjadi hari ini kami berciuman, oh bukan,, tapi dia mencium ku. Tapi apa hubungan kami, kekasih, kekasih pura pura, atau hanya teman sesaat. Kenapa aku malah menikmati ciumannya, seharusnya kan aku menolaknya ahh.. apa dia akan berpikir aku murahan, sudahlah semuanya sudah terjadi, lebih baik aku tidur saja


Pov Evan


Dia bertanya tentang pekerjaan, aku pun mulai merencanakan sesuatu, aku bertanya keahliannya, tapi dia bingung harus menjawab apa, akhirnya dia bilang tidak punya keahlian,, lucu menurutku.. Aku pura pura menilainya, aku memperhatikan tubuhnya wajahnya, cantik, tapi aku bilang biasa saja. Dia tersenyum, senyumannya membuat jantungku berdetak cepat, aku sudah tak dapat menahannya.


Dia berdiri hendak mengatakan sesuatu, aku menarik tangannya, kemudian cup, aku menciumnya, dia diam saja, aku mulai ******* bibirnya, mungkin dia terkejut dengan perbuatanku. Maaf. kata itu yang keluar dari mulutku, membuat kami salah tingkah.


Pov end


Di kampus


"Dimana Risa" tanya Bella.


"Entahlah, akhir akhir ini dia jarang ke kampus" jawab Citra.

__ADS_1


"Kamu ngrasa ada yang aneh gak? " lanjut Bella. "Apa dia punya pacar? "


"Mungkin.. " jawab Citra ragu.


"Coba telpon aja" Bella mengambil ponsel di dalam tasnya. Memghubungi Risa. Tut Tit Tut..


"Halo,, Assalamualaikum" jawab Risa disebrang sana.


"Waalaikumsalam,, kamu gak ke kampus hari ini? " tanya Bella.


"Ehmm.. hari ini aku gak masuk, aku ada keperluan sedikit" jawab Risa gugup karena dia sudah berbohong, bukan maunya untuk berbohong, tapi keadaan yang memaksa, mungkin suatu hari nanti dia akan jujur pada kedua sahabatnya sebelum mereka tahu dari orang lain.


"Apa ada masalah Ris? jangan sungkan untuk memberitahu kami, kami selalu ada untukmu" ucap Bella.


"Sungguh,, aku tidak apa apa, ya sudah aku mau pergi dulu ya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Bella kemudian panggilanpun berakhir.


"Sepertinya Risa menyembunyikan sesuatu, entah apa itu? "


"Ya,, aku juga merasakannya, aku harap dia baik baik saja"


"Kita do'akan yang terbaik" jawab Bella.


Maaf Citra, aku juga belum bisa cerita tentang ehmm ciuman pertamaku.


"Oh ya,, aku tidak lagi bekerja di cafe, aku dipecat"


"Pemilik cafe yang baru ingin aku berhenti, mungkin dia tidak menyukaiku? " jawab Bella sendu.


"Apa kau mengenalnya? " aku menggeleng lagi.


"Bahkan aku tidak tahu siapa pemilik cafe yang baru"


"Apa ini ada hubungannya dengan Evan" Citra curiga.


"Entahlah"


Waktu berlalu tak terasa sudah malam. Dengan mengendarai sepeda motor Bella melaju membelah keramaian kota. Apalagi ini malam minggu, banyak sekali muda mudi menikmati weekend.


Apa ini waktunya kencan. ah sepertinya aku terlalu berharap. Yang penting bahagia. Hidup udah susah jadi jangan dibuat susah.


Tak terasa sudah sampai di basement apartemen. Bella melangkah memasuki loby setelah memarkirkan sepeda motornya. Lift membawanya menuju lantai apartemen Evan.


ting tong


Pintu apartemen terbuka. Dengan memakai kaos oblong dan celana pendek Evan berdiri di depan pintu. Jangan ditanya bagaimana keadaan Bella, hampir netes karena pesona Evan yang mematikan.


Tampan sekali. Aku menyerah sepertinya aku sudah jatuh, sejatuh jatuhnya. Kalau takdir masih berbaik hati aku harap kaulah jodohku. Bolehkan?


Evan melambaikan tangannya di depan wajahku.


"Kau melamun?"

__ADS_1


"Ehmm ya, aku hanya terpesona melihat kau setampan ini, kenapa kau begitu tampan? " tanyaku polos.


"Ck... masuklah" untuk kedua kalinya aku memasuki apartemen ini, Evan menutup pintu setelah aku masuk. Lalu menjatuhkan dirinya ke sofa di depanku.


Hening untuk sesaat. Keduanya masih diam membisu.


"Ehem.. " Evan berdehem untuk memecah kesunyian. "Kau butuh pekerjaan? " aku mengangguk.


"Kau bisa menjadi asisten pribadiku, mengurus keperluanku, membersihkan apartemen ini setiap hari, Bagaimana? "


"Maksudmu aku menjadi pembantu?"


"Bukan, tapi asisten pribadiku"


"Apa bedanya? sama saja" jawabannya membuatku lemas, aku pikir bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, kerja kantoran misalnya.


"Tentu berbeda, Asisten pribadi jauh lebih terhormat dari pada pembantu"


"Pekerjaannya sama saja" aku bersandar pada sandaran sofa. menghela nafas berat.


"Kalau aku menerima pekerjaan ini, berarti hubungan kita pembantu dan majikan, aku tidak mau"


"Kenapa? memangnya hubungan apa yang kau inginkan? menjadi kekasihku? " Evan tersenyum tipis.


"Aku hanya tidak mau, nantinya kita terlibat fair, masak iya seperti di novel novel majikan menikahi pembantu? " aku tertawa terbahak setelah mengatakannya . Evan melotot ke arahku.


Wanita ini benar-benar berani.


"Aku kerja di kantormu saja ya, kamu hebat banget masih muda, kuliah juga belum lulus, tapi sudah punya perusahaan"


"Perusahaanku tidak menerima karyawan yang belum lulus kuliah" Ucapnya tegas.


"Ya sudah, aku cari pekerjaan lain saja" aku bersiap untuk pergi. Sebelum pergi aku berpamitan pada Evan.


"Aku pergi dulu" ucapku.


"Mau kemana? "


"Mau kencan, ini kan malam minggu, sayang kalau dilewatkan begitu saja"


"Tunggu sebentar" langsung berdiri menuju kamar.


Hah, apa katanya tadi, tunggu, tapi kok masuk kamar, apa iya dia mau memberiku uang saku..


"Ayo! " ucap Evan. Tidak ada uang saku ternyata.


"Kemana? "


"Kencan"


"Ha! "


Kencan. Kita berdua. Benarkah? Batin Bella senang.

__ADS_1


__ADS_2