
Beberapa menit kemudian terlihat ada beberapa orang masuk ke dalam ruangan Evan. Dalam sekejap meja kerja sudah siap untuk digunakan. Bella merasa senang dengan apa yang dilihatnya.
"Cobalah" Bella melangkahkan kakinya menuju meja disebelahnya, duduk sambil memutar kursinya tangannya berpegangan pada meja. "Kau suka? "
"Ya,, sangat suka" tampak kebahagiaan berbinar di wajahnya. "Sekarang apa yang harus aku kerjakan bos" ucap Bella penuh semangat. Inilah harapannya dari dulu menjadi pekerja kantoran.
"Tidak ada, kau bisa melakukan apapun yang kau mau" jawab Evan yang sekaligus mematahkan harapannya.
Jleb
Kecewa. Tentu saja. Dasar kekasih laknat, untung cinta.
Bella cemberut, dia terdiam dan terduduk lemas. Ia tak mengucapkan satu patah katapun. Satu jam Dua jam pun berlalu. Bella tak melihat sedikitpun ke arah Evan. Dia benar benar melakukan apa yang ia mau. Diam sambil bermain HP. Evan merasa terabaikan atas tingkah kekasihnya itu. apa dia sudah keterlaluan.
"Sayang... sayang... ayolah... " Bella tak menjawab ia tetap fokus pada handphonenya. "Kau marah? Apa HPmu lebih menarik dibanding aku" Bella mendongak menatap kearahnya."Kenapa kau jadi marah, tidak semua orang berada di posisimu ini, kau bisa bekerja diruangan yang sama dengan ceo perusahaan ini tanpa melamar pekerjaan tanpa wawancara, bukankah itu sebuah keberuntungan.
Cih.. sombong sekali. keberuntungan katanya, mungkin iya, trus... ehmm... tapi bukan ini yang aku inginkan. Aku tak mau bicara.
Setengah jam kemudian. Tiba tiba muncul ide aneh. Bella melangkah menghampiri Meja Evan dan berhenti tepat dihadapannya. Menarik kursi kemudian duduk dengan santai sambil menatap Evan, tidak ada sedikitpun senyum diwajahnya, dia memasang wajah datar mungkin tertular wajah datar Evan. ia meletakkan tangannya diatas meja seperti anak Tk yang disuruh anteng jika ingin pulang lebih dulu. Siapa yang dulu sekolah Tk dan melakukan hal ini melipat tangan dimeja mulut dikunci, author salah satunya.
Evan merasa aneh dengan kelakuan kekasihnya ini.
Ia ingin tertawa tapi takut Bella akan semakin marah. Jadi dia membiarkan apapun yang akan Bella lakukan sambil berusaha menahan tawa.
Sayang kenapa kau menatapku begitu, kau ingin memakan ku. batin Evan.
Evan tetap mempertahankan sikap stay coolnya. Dia hanya melirik Bella sekilas, meskipun tatapan Bella tak pernah lepas darinya. Evan dengan santai tetap mengerjakan pekerjaanya, membolak balik dokumen, mengambilnya, meletakkan kembali. Hanya dia yang tahu bahwa dia tidak mengerjakan apapun, bagaimana bisa fokus bekerja jika di depan matanya ada wanita cantik yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
__ADS_1
Hah..Aku ingin lihat apa kau bisa bekerja dengan baik jika aku duduk di depanmu, ayo kita lihat.
Meskipun Bella memasang wajah datar tapi dihatinya ia senyum senyum sendiri melihat tingkah Evan. Ia tahu kalau Evan tidak fokus bekerja.
Setengah jam kemudian, Bella berdiri kemudian duduk diatas meja dengan posisi sedikit membungkuk, ia seperti wanita penggoda. Evan menarik nafas panjang. karena Evan tetap diam, Bella turun dari meja kemudian berjalan mengitari meja dan berhenti tepat disebelah meja Evan. Kemudian bersandar pada meja. Evan terlihat sesak menahan nafas, jantungnya berdetak tak karuan.
"Kau mengerjakan apa? " ucapannya dengan gaya sensual. Evan mendongak menatap ke arahnya
"Kau menggodaku sayang? " Tangan Bella menarik dasinya perlahan.
"Tentu saja tidak sayang, aku mana berani"
"Benarkah? " Evan menegakkan badannya agar lebih dekat dengan wanitanya, wajahnya semakin mendekat hendak mencium bibir manis itu, kurang sedikit lagi.
"Tidak semudah itu" Bella mendorong dada bidang Evan. pecahlah tawa yang ia tahan sejak tadi.
"Kau ini, emang yang paling bisa membuatku senang" kemudian tertawa. "Aku bosan sayang tidak melakukan apa apa. Aku kuliah untuk bekerja dan mencari uang, tapi setelah lulus aku malah tidak punya pekerjaan, aku pengangguran. Lalu bagaimana caranya aku mendapatkan uang" bujuk Bella.
"Apa uang dariku kurang" tanya Evan.
"Kau tahu pasti, bukan itu maksudku" Bella memanyunkan bibirnya.
"Bibirmu sudah seperti Bebek berenang" goda Evan sambil tertawa cekikikan.
"Sayang aku serius, aku ingin punya penghasilan, aku ingin punya tabungan, bagaimana kalau tiba tiba kamu ninggalin aku, aku harus menggantungkan nasibku pada siapa? " jurus terakhir yang Bella lontarkan.
"Aku akan menghidupimu, aku akan memberimu tabungan, jadi meskipun kau tak bekerja uangmu masih banyak, dan jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu" ok, misi gagal, aku tidak bisa membujuknya batin Bella.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kau mengingkari janjimu aku akan menghantuimu seumur hidupmu" ucap Bella sambil memperagakan hantu dengan mengangkat kedua tangannya. Aaaaa.
"Aku Terima kau menghantuiku seumur hidupku, kau senang? "
"Ya, aku senang .. senang .. sangat senang" melangkah menuju sofa kemudian mendudukkan bokongnya diatas sofa. "Aku mau tidur saja" gumamnya pelan yang masih bisa di dengar oleh Evan. Tak lama kemudian Bella benar benar terlelap.
Tok tok. kemudian pintu dibuka dari arah luar.
"Bos. ada nona Karina dan dia sedang menunggu anda diruang tunggu. Haruskah saya menyuruhnya kesini bos" Evan masih diam. Riki menunggu jawaban Bos nya itu dengan sabar sambil melirik ke arah sofa. Kenapa kau malah tidur disini nona Bella ucap Riki dalam hati. Bagaimana kalau mereka bertemu ya lanjutnya.
"Aku akan kesana" ucapannya membuyarkan pemikiran Riki. Evan meninggalkan ruangannya diikuti Riki dibelakangnya. Evan melihat seorang wanita yang sudah lama tidak ia temui. Wanita itu melihat kearahnya. Karina wanita masa lalunya datang menemuinya. Dia berdiri kemudian melangkah mendekati Evan merentangkan tangannya seraya ingin memeluk Evan. Evan menghindarinya sebelum tangan itu menyentuhnya.
"Ada apa? " tanyanya dingin. Biasanya ia selalu bersikap hangat pada karina tapi sekarang telah berbeda. Dihatinya sudah tidak ada nama Karina. Bella, hanya Bella dihatinya.
"Lama tidak bertemu, kau tidak menanyakan kabarku" Evan hanya menatapnya. "Kau berubah, tidak seperti dulu lagi"
"Aku sibuk. Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pergi" hendak melangkahkan kakinya.
"Tunggu, aku merindukanmu, ayo makan siang bersama, bukankah sebentar lagi waktunya makan siang"
"Maaf, aku sudah ada janji. Pergilah"
"Evan, maafkan aku, besok aku akan datang lagi, aku harap kau tidak sibuk, luangkanlah waktu untukku" ia kemudian melangkah meninggalkan Evan.
Karina adalah wanita yang sangat dicintai Evan. orang tua mereka bersahabat, mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Karena selalu bersama menimbulkan rasa cinta dihati Evan tapi tidak dengan Karina, Karina hanya menganggapnya sahabat. Ketika SMA mereka sekolah di sekolah yang sama, Evan pernah mengatakan perasaannya pada Karina, meskipun Karina menolaknya karena alasan tidak ingin kehilangan sahabat seperi Evan. Dia menerima semua itu, mungkin butuh lebih banyak waktu dan usaha untuk menggoyahkan hatinya. Evan tetap mencintainya dan selalu melakukan yang terbaik untuk Karina, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih dari pada sahabat. Banyak yang mengira mereka sepasang kekasih sehingga tidak ada yang berani mendekati Karina, mungkin ada untungnya juga buat Evan, dia tidak perlu punya saingan. Tapi cinta tetaplah bertepuk sebelah tangan. Mungkin takdir cintanya bukan Karina.
Mohon like and komennya ya.... Aku juga belum tahu seluruhnya tentang aturan aturan jadi penulis di mangatoon. Tapi harapanku kalian suka cerita novel ku. Terima kasih.
__ADS_1