
Di perusahaan Evan.
Tidak ada lagi wajah hangat, ceria seperti tadi pagi. Setelah menerima telephone, wajahnya terlihat semakin suram.
"Jangan biarkan Bella tahu apa yang terjadi, tutupi serapat mungkin" ucap Evan tegas. Dia harus memastikan Bella tidak akan pernah tahu, ya ada yang Evan sembunyikan dari Bella.
"Baik bos" Jawab Riki, ia tahu apa yang bosnya itu lakukan sangat beresiko untuk hubungannya dengan nona Bella. Semoga keputusan yang anda ambil tepat bos.
Kembali ke Cafe.
Meskipun ini hari pertama Bella bekerja sebagai pemilik Cafe, tapi ia tetaplah Bella yang dulu, yang ramah, rendah hati, ia tidak segan untuk membantu bawahannya. Ketika cafe ramai ia juga ikut turun tangan melayani pelanggan, ia senang melakukannya. Dia juga sudah mempelajari beberapa hal tentang cafe, yang dibantu oleh asisten Evan. Asistennya itu mengajari Bella banyak hal. Ia cepat menyerap ilmu, membuatnya lebih mudah untuk mengelola cafe ini, ia tidak ingin mengecewakan kekasihnya. Meskipun sebenarnya tidak masalah jika cafe ini bangkrut, karena Evan tidak akan bangkrut hanya karena kehilangan satu cafe ini, maklumlah orang kaya.
"Alhamdulillah, akhirnya semua pesanan selesai, kita bisa istirahat sejenak. Apakah setiap hari cafe seramai ini? " tanya Bella pada salah satu pelayan cafe.
"Hampir setiap hari bu, apa ibu ingin saya ambilkan makanan? "
"Tidak perlu, saya belum lapar, oh ya panggil mbak saja, ibu kayaknya gimana gitu, belum punya anak juga "
" Baiklah mbak"
Beberapa jam kemudian, tepat pukul tujuh malam. Evan datang ke cafe, ia langsung menuju ruangan Bella. Bella tengah menyiapkan makan malam untuknya dan kekasihnya, ia tahu Evan akan datang.
"Bagaimana hari ini? " Tanyanya sambil berjalan mendekati Bella yang duduk di sofa.
"Cukup melelahkan dan cukup menyenangkan juga, tadi pengunjung sangat ramai hampir seharian, aku jadi ingat kak Andi. Bagaimana ya kabarnya sekarang? Semoga dia selalu sehat dan sukses" ucap Bella sendu teringat akan sahabatnya dulu ketika masih menjadi pelayan cafe.
"Hey.. kau berani memikirkan laki laki lain dihadapanku? " tanya Evan dengan mimik yang dibuat seolah olah ia cemburu.
"Apaan sih.. Ayo kita makan, aku sudah siapkan makanan kesukaanmu, udang crispy.. ehmmm yummy... "
"Itu kesukaanmu"
"Hehe iya... ini dia ayam goreng kesukaan Tuan Evan"
"Kesukaanmu juga"
"Ihh... kau menyebalkan. Aku tidak punya makanan favorit karena aku menyukai semuanya" ucapnya cemberut, dan langsung menggigit udang ditangannya dengan ekspresi marah menatap Evan. kres. Melihat itu pecahlah tawa Evan.
"Sayang kau lucu sekali, sini sini kucing manisku, aku suapin ya... aaaaaa" satu suapan masuk ke mulut Bella. "pintar sekali kucing manisku ini" cup. Evan mencium pipinya gemas.
Kekasih dinginku ini ternyata bisa manis juga.
"I love you" celetuk Bella.
"I love you too" mengusap rambut hitam Bella dengan penuh perasaan. "Aku besok harus keluar kota, kau mau ikut? "
"Bagaiamana ya,, bakalan rindu nih, tapi aku baru satu hari bekerja, masak iya aku tinggal meskipun aku bosnya"
"Kalau begitu aku akan merindukanmu, jaga kesehatan jangan terlalu lelah bekerja, ingat kau bosnya disini"
__ADS_1
"Ok bos" memberi hormat dengan tangan diangkat ke kepala. "Oh ya, kapan kau akan menjadi karyawanku, aku sangat menantikannya"
"Kau terlihat sangat senang sekali, tapi aku sibuk akhir akhir ini"
"Baiklah, karena kau kekasih yang paling aku cintai, maka aku akan memberimu keringanan, bagaimana kalau weekend saja"
"Ehmm... ok." Diam sejenak. "Sayang,, apakah kau sudah siap untuk bertemu dengan keluargaku? "
"Aku siap, tapi apakah ibumu bisa menerimaku, aku belum siap untuk kehilanganmu? " ucap Bella dengan rasa cemas, mengingat ibunya Evan pernah memberinya uang, meskipun selama ini orang tua Evan tidak pernah mengusik hubungan mereka, tetap saja ada rasa khawatir di hatinya.
"Kau tak akan pernah kehilanganku"
"Bagaimana kalau mereka tidak merestui hubungan kita"
"Maka kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan restu mereka" Bella tersentuh dengan apa yang Evan ucapkan, ia berjanji akan berjuang untuk hubungan mereka.
"Aku merasa ini mimpi, kebaikan apa yang aku lakukan sehingga bisa mendapatkanmu" menyentuh pipi Evan dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan hidungnya ke hidung mancung Evan. Nafas mereka bersentuhan. Evan menggigit bibir Bella. Auuuwwww...
"Apa masih berasa seperti mimpi" Bella menggelengkan kepalanya sambil memegang bibirnya yang digigit oleh Evan.
Dia menggigit bibirku, aku pikir dia akan memberiku ciuman romantis, padahal tadi adegannya sudah seperti di novel novel. Bella.
"Ayo aku antar pulang" Bella mengangguk.
Mereka pun meninggalkan cafe. Dengan mengendarai mobil mewahnya Evan mengantar Bella pulang ke apartemen. Bella menyandarkan kepalanya ke bahu Evan, dia sangat menyukai momen seperti ini, membuat hatinya hangat.
"Aku hanya 3 hari disana"
Kenapa hatiku selalu gelisah saat Evan pergi ke luar kota.
Setelah sampai di basement, mereka melangkahkan kakinya menuju lift. Evan mengantar Bella sampai pintu apartemen.
"Masuklah dan istirahat, aku akan langsung pulang" Bella mengangguk, kemudian dikecupnya kening Bella sebelum berlalu dari sana.
Di dalam mobil Evan sedang menghubungi seseorang.
"Hallo"
"Hallo" suara dari arah lain.
"Berapa lama lagi? "
"............. "
"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama"
".............. "
"Lakukan dengan cepat"
__ADS_1
"............. "
Pembicaraan mereka pun berakhir. Evan termenung di dalam mobil. Kepalanya terasa Berat. Ia menutup mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. Beberapa menit kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah orang tuanya. Satpam membukakan pintu gerbang ketika melihat mobil tuan mudanya sampai di depan gerbang, mobil pun masuk ke pekarangan rumah mewah bak istana itu. Setelah turun dari mobil Evan segera memasuki rumah, berjalan melewati ruang keluarga.
"Kau pulang" Evan menoleh ke asal suara, suara wanita yang melahirkannya, seketika ia berhenti dan melangkahkan kakinya dimana Orangtuanya sedang bersantai. Evan langsung membaringkan tubuhnya ke sofa dengan kepala ia letakkan diatas paha ibunya.
"Heh.. kenapa kau tidur disitu, sana ke kamarmu" ucapan Tuan Sanjaya tidak Terima anaknya tidur dipangkuan istrinya.
"Aku pinjam sebentar pa, aku lelah. Bolehkan ma? " sahut Evan manja. Mama pun mengangguk yang membuat papa cemberut.
"Kau ini kenapa, datang datang sedih begitu, setiap hari pulang malam, lebih baik kau menikah saja" tanya mama
"Apa kalian merestui kami? "
"Kami terpaksa, melihatmu bucin begitu" jawab Tuan Sanjaya masih ketus.
"Terima kasih, aku akan mengajaknya kesini minggu depan"
"Ma.. " Evan membawa tangan mamanya menyentuh kepalanya. Itu tandanya minta dielus, dengan segera mamanya mengelus kepala Evan.
"Apa sangat berat?" Evan pun mengangguk. "Mau mama bersihkan kepalamu? "
"Ck... " mamanya ini bisa bisanya melucu disaat seperti ini.
"Dasar manja" ucap papanya.
"Kau ini, bukannya membantu malah mengejeknya" mama memukul lengan papanya. Inilah yang Evan sukai pertengkaran kecil tapi itulah bentuk kasih sayang diantara mereka, meskipun sudah tua orangtuanya masih terlihat mesra.
"Kalau sudah tak sanggup lepaskan saja, sebelum ketahuan, yang akan membuatmu kehilangannya? " sambil merangkul bahu istrinya. Seketika Evan mendudukkan tubuhnya kemudian menatap ke arah papanya.
"Papa sudah tahu? "
"Apa yang tidak ku ketahui, semua bisa kudapatkan dengan mudah, termasuk wanita yang selama ini ada di apartemenmu, kau sungguh licik memperdayanya" ucap papa sombong.
"Aku tidak memperdayanya pa, aku mencintainya" ucap Evan dengan senyum licik.
"Cepat selesaikan urusanmu dengan sahabatmu itu"
"Hem.. " lalu berlalu pergi dari sana meninggalkan kedua orang tuanya.
"Pa, apa yang papa ketahui? " tanya mama, ia penasaran apa yang disembunyikan oleh putra dan suaminya ini
"Nanti mama juga bakalan tahu, bersabarlah"
"Cih.. menyebalkan" mama cemberut.
"Ayo tidur" papa membawa istrinya ke kamar untuk istirahat, mereka berjalan beriringan sambil saling menyikut, seperti anak kecil saja.
Gerakkan jempolnya ya sahabat readers, tekan like and komen ya..... maaf ya belum muncul bab berikutnya, ini masih erorr servernya.
__ADS_1