Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 16


__ADS_3

Ditempat yang lain. Di sebuah apartemen mewah. Seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Seorang laki laki yang duduk diatas ranjang melihatnya dengan tatapan yang ehmmmm.... dia menelan salivanya, jakunnya naik turun melihat pemandangan yang membuat sesuatu dibawah sana tegang.


"Aku harus pakai apa" tanya wanita itu. "Bajuku basah"


"ini, aku sudah membelikanmu baju" Si wanita menerima paperbag dari tangan si pria. Membalikkan badan kemudian melangkah lagi menuju kamar mandi, tapi sebelum melangkah tangannya dicekal oleh si pria tadi.


"Apa? "


"Risa,,, ehmm bolehkah? "


"Boleh apa sih Dre, tunggu dah bentar lagi aku mau ganti baju dulu, gak enak bicara pakek handuk" melepaskan cekalan tangan andre, tanpa menoleh ia langsung berjalan ke kamar mandi.


Hah.. Apa dia tidak mengerti dengan yang aku katakan barusan. Batin andre.


Kurang dari 10 menit Risa keluar dari kamar mandi.


"Wah bajunya pas ukurannya, dan juga lengkap sama dalaman, kamu pinter banget hahaha" Risa tertawa. "Bukankah itu artinya kamu terbiasa ya membeli baju wanita, heh" baru saja tertawa eh dia langsung lemes membayangkan Andre yang sering membeli pakaian wanita.


"Tidak, kau yang pertama"


"Aku tidak percaya! "


kring krung kring


Bella.


"Hallo Assalamu'alaikum.... " setelah berbincang telpon pun berakhir. "waalaikumsalam"


"Siapa yang telpon? "


"Bella, ehm sampai kapan kita akan merahasiakan hubungan kita? Aku tidak enak terus membohongi mereka, aku merasa tidak nyaman menyembunyikan sesuatu yang penting dalam hidupku" ucap Risa.


"Sesuatu yang penting? Apa maksudnya aku penting bagimu? "


"Tentu saja kau penting bagiku, kau kekasihku. Meskipun hubungan kita belum satu bulan, tapi aku sungguh sungguh mencintaimu".ucap Risa serius.


" Jika aku penting bagimu, bolehkah aku menyentuhmu? "


"Menyentuh yang bagaimana? bukankah kita sering bersentuhan? " jawab Risa polos, meskipun dia genit tapi kalau untuk yang satu ini ilmunya nol, karena baginya hal seperti itu hanya akan terjadi setelah menikah.


"Seperti ini? " Andre menyentuh kancing baju Risa kemudian hendak melepasnya.


"Maksudmu hubungan suami istri? " Andre mengangguk.

__ADS_1


"Tentu saja tidak boleh, apa ini yang kamu tanyakan 'Bolehkah itu'? " Andre mengangguk lagi.


Risa memegang tangan Andre.


"Dre meskipun kita kekasih yang saling mencintai, kita tidak boleh melakukan itu, hanya suami istri yang boleh melakukan itu. Atau kau mau aku melamarmu jika kau sudah tak tahan? " Risa tersenyum jahil.


"Kau ini... baiklah aku tidak akan melakukannya, ayo keluar aku sudah lapar"


Gagal lagi, sepertinya butuh perjuangan yang keras untuk mendapatkannya, aku pastikan bisa mendapatkanmu. Batin Andre.


Di tempat yang lain.


"Kau mengajakku ke pasar malam, kamu tidak salah kan? " Tanya Bella, dia tidak menyangka Evan akan mengajaknya ke tempat seperti ini.


"Tidak, kenapa? apa kau tak suka? " tanya Evan.


"Bukan,, bukan, aku hanya takut orang kaya sepertimu tidak bisa ke tempat seperti ini, kalau begitu ayo kita bersenang senang" Bella menarik tangan Evan kemudian mereka melangkah bersama sambil saling melempar senyum, kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.


Mereka mulai menaiki wahana permainan, satu persatu mereka naiki, tertawa bersama, mereka sangat menikmati kencan ini, benar benar terlihat seperti sepasang kekasih.


"Aku akan mendapatkannya untukmu " ucap Bella.


"Kau yakin bisa? "


"Ok. kita buktikan, semangat" Evan memberiku semangat, dia lucu juga ternyata, sampai aku lupa dengan jarak antara kita, dunia kita yang berbeda.


Ya Allah, bolehkah aku bersamanya walau hanya sebentar, kalau bisa sih selamanya, tapi aku tidak mau serakah, aku ingin menikmati kebersamaan ini.


"Kalau aku bisa mendapatkannya, maka kau harus memanggilku sayang" godaku.


"Kenapa kau jadi agresif begini? " aku tertawa terbahak yang tersalurkan padanya membuatnya juga tertawa. kemaren tersenyum sekarang tertawa.


"Kau sangat tampan jika tertawa?" kataku membuatnya tersipu.


Oh.. benarkah dia tersipu. seharusnya kan cewek yang tersipu ini kok malah cowoknya.


"yeee... aku bisa" teriakku. "Aku hebat kan! " aku menyombongkan diri.


"Ya kau hebat" sambil mengelus rambut Bella.


Kau sangat hebat. Sepertinya aku sudah jatuh pada pesonamu. Pesona yang tak kau sadari.


"Ayo kita cari makan" ucap Bella untuk menghilangkan rasa gugupnya, dielus begitu, ditatap seperti itu, gak kuat. aku meleleh batin Bella.

__ADS_1


"Ayo.. sayang" aku menatapnya, jangan ditanya keadaan hatiku, bagaikan bunga bermekaran di padang pasir, eh gak ada ya, pokoknya itu dah rasanya.


"Ehm... kau mau makan apa? mau coba jajanan disana? " tanyaku sedikit malu malu, siapa yang gak malu ditatap begitu.


"Boleh,, ayo" sekarang dia yang menggandeng tanganku, dengan malu malu aku membalas memegang tangannya, kami bertatapan yah seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


Kami mencoba semua jajanan disana, rasanya enak enak, Evan juga menyukainya meskipun ini pertama kali baginya makan jajanan seperti ini. Maklumlah orang kaya. Setelah merasa kenyang kami bersantai dulu sebentar sebelum memutuskan untuk pulang. Malam pun semakin larut, pengunjung pun mulai berkurang.


"Kau tahu aku pikir kau akan mengajakku kencan di restoran mewah, seperti orang kaya lainnya, tapi aku gak nyangka kamu juga bersifat merakyat" Entah ni pujian atau sindiran bagi Evan.


"Begitukah? " aku pun mengangguk. "kau menyukainya? "


"Tidak, aku menyukaimu" godaku.


"Wah.. sepertinya aku harus mengajakmu makan malam romantis di restoran mewah" lanjut Evan.


"Aku sangat menantikannya" kemudian kami tertawa bersama.


"Apa kau lelah,mau pulang? " tanya Evan.


"Ya aku lelah sekali, ayo pulang" jawabku.


Kami berjalan menuju tempat parkir dimana mobil Evan terparkir disana. Karena sepeda motorku ada di apartemen Evan, jadi harus kesana dulu, sebenarnya Evan memaksaku untuk mengantarku langsung pulang ke kosan, tapi aku tidak mau merepotkan. Mobil pun berhenti di depan apartemen.


"Terima kasih untuk malam ini" aku mengecup pipinya. tidak apa apa kan agresif dikit."aku pulang dulu ya" sebelum pintu mobil terbuka, Evan menarik tanganku dan


cup


Evan mencium bibirku, lebih tepatnya mengecupnya sekilas. Oh ciuman kedua ku.. Aku tidak tahu harus bagaimana aku tak mampu menolaknya. Sedangkan dia kembali ke mode awal, wajahnya datar kembali, sudah tidak ada wajah sungkan wajah malu malu, apa karena dia sudah mulai terbiasa ya, apa boleh aku berpikir dia mulai jatuh cinta padaku.


"Pulanglah hati hati"


"I.. iya.. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Waktu terus berlalau, tak terasa ini sudah 2 minggu sejak aku dan Evan pergi ke pasar malam. Dan selama itu pula aku belum bertemu dengannya. Aku juga belum punya nomer hpnya, mau bertanya malu, aku juga tidak yakin sahabatnya itu akan memberikan nomernya padaku, nunggu ajalah.


Apakah dia menghindari ku, apa dia merasa tidak cocok dengan ku, aku merindukannya.


Satu bulan pun berlalu. Bella pun sudah bekerja di sebuah toko mainan. Pekerjaannya hari ini sangat sibuk, karena banyak barang yang datang. Toko mainannya tidak terlalu besar tapi Alhamdulillah selalu ramai. Dan waktu pekerjaannya pun menyesuaikan waktu kuliahnya jadi tidak mengganggu kuliah. Pemiliknya sangat baik tidak hanya padanya tapi juga pada karyawan lainnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, waktunya toko tutup. Bella segera menutup pintu toko setelah pengunjung terakhir melangkah keluar meninggalkan toko. Maaf toko sudah tutup.


Hi readers,, Terima kasih sudah baca novel ku. Bolehkah minta LIKE dan KOMEN. Kalau gak sempet KOMEN gak apa apa,, LIKE aja boleh. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2