
Di Apartemen.
Setelah selesai acara, Bella membawa keluarganya ke apartemen Evan. Selama perjalanan tadi mereka hanya diam, mereka ikut kemanapun Bella membawanya, sebenarnya ada rasa terkejut saat Bella menghentikan mobilnya di depan gedung mewah. Sampai di depan pintu barulah mereka menyadari, Bella membawanya ke sebuah apartemen mewah.
"Ini apartemen siapa Bell?" tanya paman, Bella juga sebenarnya bingung mau menjelaskan bagaimana pada keluarganya, kalau saja ada Evan pasti akan lebih mudah.
"Paman ini apartemen temanku, karena tidak ditempati jadi temanku memintaku untuk tinggal disini, lumayan buat hemat uang kos" jawab Bella gugup.
"Tapi ini sangat mewah Bell, apa temanmu sangat kaya" ucap paman.
"Ya paman, temanku sangat kaya, duduklah dulu Bella mau membuat minuman" Bella berjalan menuju dapur, setidaknya sedikit menghindari pertanyaan pamannya.
"Kak ini benar benar sangat mewah, aku suka tempat tinggal kakak. Teman kakak baik sekali, aku juga ingin punya teman seperti teman kakak" teriak Alexa yang begitu mengagumi apartemen Evan, ia langsung berkeliling apartemen. "Kakak kenapa disini banyak pakaian laki laki"teriak Alexa dari dalam salah satu kamar yang tak lain adalah kamar yang biasanya digunakan Evan.
Deg
Mati aku, bagaimana aku harus menjelaskannya pada paman, apa paman akan percaya padaku.
Tatapan semua orang beralih pada Alexa yang muncul dari dalam salah satu kamar. Kemudian beralih menatap Bella yang berjalan dari dapur. Menarik nafas panjang dan memberanikan diri untuk melangkah menghampiri paman dan bibinya yang kemudian disusul Alexa.
"Paman bibi minumlah" ucap Bella yang seketika merasakan panas dingin seperti kena sidang saja.
"Bisa kau menjelaskan pada kami Bell? Apa iya zaman sekarang masih ada orang sebaik itu dengan memberikan tempat tinggal mewah tanpa suatu tujuan?" Tanya paman menatapku tajam.
"Bel, Bibi harap kau tidak melakukan sesuatu yang diluar batas, jangan merusak kepercayaan kami" tanya bibi sendu, bibi sudah berpikiran negatif, seorang gadis kuliahan dari kalangan biasa bisa tinggal di tempat ini, apa yang bisa dilakukan kalau tidak menjadi simpanan atau bahasa gaulnya sekarang sugar baby. "Kau bukan sugar baby kan"
"Paman bibi, maafkan Bella tidak menceritakan ini semua dari awal. Tapi percayalah aku tidak melakukan apa yang paman dan bibi pikirkan. Bibi aku bukan sugar baby, aku masih suci sampai saat ini, aku tidak akan melakukan itu selain dengan suami Bella nanti" jawab Bella sungguh sungguh berharap paman dan bibinya mau mempercayainya.
"Benarkah itu Bell" Bella mengangguk. "Apa kami bisa memegang ucapanmu? " Bella mengangguk kembali. "Kau tidak akan mengecewakan kami, meskipun kau bukan anak kami tapi kami sangat menyayangimu" untuk kesekian kalinya Bella mengangguk seperti anak kecil.
"Baiklah kami percaya padamu" Sela bibi sambil memegang tangan Bella. "Tapi ceritakanlah siapa laki laki itu, apa dia kekasihmu? " tanya bibi sambil tersenyum.
__ADS_1
Bella dengan malu malu mulai menceritakan hubungannya dengan Evan dari awal sampai akhir, termasuk pertemuannya dengan ibunya Evan, dan juga bagaimana ia bisa tinggal disini, tidak ada yang terlewatkan sedikitpun, Bella menceritakan semuanya.
"Berarti mobil tadi itu punya kakak" tanya Alexa semangat.
"Ya, itu hadiah dari Evan saat kakak ulang tahun" jawab Bella.
"Bagus sekali kak, ternyata kakak ipar sangat kaya baik dan yang pasti tidak pelit, apa dia akan memberi adik iparnya ini hadiah"
"Kau tenang saja, Evan menyuruhku untuk mengajak kalian jalan jalan, dan kau boleh membeli apapun yang kau suka, uangnya sangat banyak"
"Kalian ini, jangan jadi cewek matre, dan kau Alexa jangan mencari kesempatan, kita belum mengenal Evan"
"Sebenarnya hari ini aku ingin memperkenalkan Evan pada paman dan bibi, tapi Karena pekerjaannya Evan harus keluar kota jadi dia tidak bisa menghadiri acara wisuda"
"Tapi bagaimana dengan keluarganya apa mereka bisa menerimamu yang hanya dari kalangan biasa" tanya paman sendu, ia sebenarnya kawatir dengan Bella, ia takut Bella akan terpuruk jika mereka tidak bisa bersama.
"Entahlah,, Bella pasrahkan semuanya pada takdir" jawab Bella yang merasa tidak yakin dengan jawabannya sendiri, dia juga takut dengan bagaimana kelanjutan hubungannya. Apakah ia akan siap jika tiba tiba berpisah dari Evan.
"Kakak aku lapar" celetuk Alexa, yang tidak melihat situasi, membuat semua orang tertawa.
"Kau ini selalu saja merusak suasana" ayahnya mencubit tangannya.
"Ayah.... "
"Bibi sudah lama sekali Bella tidak makan masakan bibi, aku rindu masakan bibi" ucap Bella manja seperti anak kecil.
"Suruh siapa tidak pernah pulang" jawab bibi ketus, dan Bella menanggapinya dengan cengiran kuda. " Baiklah bibi akan memasak untukmu" Berdiri hendak melangkah menuju dapur.
"ibu, untukku juga" Celetuk Alexa lagi.
"Ya ya untuk kita semua" bibi membuka lemari kulkas yang ada di dapur.
__ADS_1
MasyaAllah. banyak sekali bahan makanannya, orang kaya mah beda, ini mah bisa buat sekampung.
"Bell banyak sekali bahannya, apa kau mau jadi tukang masak" teriak bibi dari dapur. Bella tertawa.
" Ini semua memang aku siapkan untuk bibi, selama bibi disini, aku ingin makan masakan bibi" jawab Bella sambil menghampiri bibi di dapur.
Keesokan harinya, sesuai janjinya pada Keluarganya. Bella mengajak mereka jalan jalan dan belanja sepuasnya.Jarang jarang bisa membuat mereka senang pikir Bella. Alexa begitu senang dengan apa yang ia dapatkan hari ini, karena sudah lama sekali ia ingin membeli tas baru, tapi karena keadaan dia tidak meminta pada ayahnya, dia menyadari keadaan keuangan keluarganya.
"Kakak, apa ini tidak terlalu mahal, aku beli tas yang biasa saja kak yang penting baru soalnya yang dirumah sudah jelek" ucap Alexa yang merasa tidak enak karena harga tasnya sangat mahal.
"Tidak, ambillah kalau kau suka, uang kakak sangat banyak tapi jika nanti kakak bangkrut kau jangan minta lagi" Bella tertawa.
"Kakak,,, kau menyebalkan"
Bella juga mengajak keluarganya membeli pakaian, tentu saja paman dan bibinya menolak hanya Alexa yang masih semangat. Tapi Bella tetap membelikan mereka pakaian meskipun tidak banyak.
"Bell.. kau tidak perlu menghabiskan uangmu untuk paman dan bibi,, itu belanjaan Alexa saja sudah banyak, bagaimana kalau Evan tahu kau menghabiskan banyak uangnya"
" Bibi tidak perlu kawatir, uangnya masih banyak" Bibi mengerutkan keningnya. " Bi, bukannya Bella matre tapi Evannya saja yang terlalu royal, apa bibi tahu dia selalu mengirimiku uang tiap bulannya, padahal yang bulan kemaren saja masih banyak, aku seperti istri simpanan saja " Bella tertawa yang langsung mendapat jitakan.
"Duh... paman" Keluh Bella.
"Kau jangan memanfaatkannya, bawalah Evan untuk menemui kami"
"Baiklah paman, aku akan segera membawanya untuk menemui paman setelah dia kembali."
Setelah puas jalan jalan dan berbelanja, Akhirnya mereka pulang ke apartemen. Sampai di apartemen mereka langsung istirahat karena hari sudah berganti malam.Besok mereka akan kembali ke kampung. Bella menyewakan mobil untuk keberangkatan mereka besok.
Bella sendirian di apartemen setelah melepas kepergian keluarganya. Sebenarnya Bella ingin keluarganya menginap lebih lama tapi kasian juga neneknya yang ditinggal sendirian. Meskipun ia masih rindu. Setidaknya rindunya sudah terobati dengan kedatangan mereka.
Hi.... boleh kan minta Like and komennya. aku mengharapkan dukungan kalian, semoga tambah banyak yang baca, yang ngelike juga. Amin.
__ADS_1