
Seminggu sudah berlalu, Saat ini Citra bekerja di sebuah cafe, sewaktu jalan jalan sore mengelilingi komplek perumahan kosnya, ia melewati sebuah cafe yang membutuhkan karyawan, tanpa surat lamaran, cafe itu menerimanya karena alasan Citra yang tepat tentang ijazahnya dan juga kebetulan cafe itu sedang butuh karyawan cepat.
Di cafe itu karyawannya hanya lima orang termasuk Citra. Buka setiap hari dari jam tiga sampai jam 10 malam. Citra sangat menikmati pekerjaannya, tapi ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan akhir akhir ini ia merasa rindu pada seseorang yang telah menyakiti hatinya.
*
*
Di tempat yang lain.
Seorang laki - laki sedang disidang oleh dua orang wanita.
"Kenapa kakak diam saja? kenapa ponsel Citra tidak bisa dihubungi dan dimana dia sekarang? kami ingin bertemu dengannya" untuk kesekian kalinya Bella menanyakan hal itu pada Andi, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban, Andi hanya diam dan menatap keduanya bergantian.
"Apa kakak mendadak bisu?"
Ia menghembuskan nafasnya kasar. Ia bingung haruskah ia jujur pada sahabat istrinya ini, orangtuanya saja blum ada yang tahu, dan akhirnya ia berkata jujur.
"Dia pergi, pergi karena kesalahanku" ucap Andi sendu, ia teringat kembali kejadian malam itu,, dimana ia telah menghancurkan harga diri istrinya sendiri.
"Apa maksud kakak?" tanya Bella.
"Apa yang telah kakak lakukan padanya?"
"Aku juga belum paham dengan apa yang terjadi" menghela nafas panjang, kemudian memulai ceritanya. " Siang itu aku sedang membahas kerja sama di sebuah restoran, kemudian aku mendapat kiriman foto foto Citra dengan laki - laki lain, masuk ke dalam hotel tempat kami menginap. Sekitar setengah jam lamanya baru laki - laki itu keluar dari kamar hotel, dengan pakaian yang agak berantakan. Aku dikuasai amarah yang menggebu gebu, dipikiranku waktu itu hanya ingin memberinya hukuman karena telah bermain dibelakangku. Tanpa meminta penjelasan, aku menyentuhnya dengan kasar sehingga ia pergi meninggalkanku, aku menghinanya, aku telah menyakiti hatinya" jelas Andi dengan mata yang berkaca - kaca.
"Aku salah, aku sudah mencarinya kemana - mana, tapi aku belum menemukannya, sudah hampir seminggu dia pergi, aku tidak tahu harus mencarinya kemana lagi" lanjut Andi merasa putus asa.
"Apa yang telah kakak lakukan, apa kakak tidak tahu kalau Citra sudah mencintai kakak, tapi malah kakak sendiri yang menghancurkannya, cinta itu tidak akan kokoh tanpa kepercayaan kak" ucap Risa sambil menggelengkan kepalannya, ia tidak habis pikir dengan sifat laki-laki, apalagi ia pernah merasakan kegagalan untuk kesekian kalinya dalam urusan percintaan.
"Aku tidak tahu harus marah atau tidak pada kakak, tapi itu semua sudah terlanjur terjadi, aku harap kakak bisa segera menemukannya" ucap Bella yang merasa kecewa dengan sikap Andi, seharusnya dia meminta penjelasan dulu baru bertindak.
"Ya kak, apakah orangtua kakak dan Citra sudah tahu" Andi menggelengkan kepalanya. "Kakak harus memberitahu mereka, apapun yang akan terjadi nantinya mereka berhak tahu"
"Ya, kau benar, Terima kasih kalian tidak menyalahkan ku dalam hal ini"
"Siapa bilang" ucap Bella dan Risa bersamaan. " Kami akan membuat perhitungan dengan kakak jika tidak bisa menemukan Citra" Risa mengangguk tanda setuju.
Setelah bertemu dengan sahabat istrinya, ia langsung menuju kediaman kedua orangtuanya. Mereka geram setelah mendengar cerita dari anaknya, dengan sikap Andi yang terburu - buru dan dalam keadaan dikuasai amarah, tapi apa mau dikata, Citra telah pergi dan yang harus mereka lakukan adalah mencari Citra.
__ADS_1
Hari itu juga Andi pergi kerumah orangtua Citra, ia akan menjelaskan kepada mereka seperti apa yang telah ia jelaskan kepada orangtuanya.
Andi menerima apapaun perlakuan mertuanya setelah dia bercerita, tapi diluar dugaan dengan respon mereka.
"Terima kasih sudah mencintai anak kami dengan sepenuh hatimu. Temukanlah dia, ayah yakin kau akan menemukannya" ucap ayah Citra sambil menatap laki - laki yang sudah menjadi menantunya itu. Ia tahu Andi orang yang baik dan ia juga tahu anaknya belum mencintai Menantunya ini.
"A... ayah tidak marah"
"Tentu saja ayah marah, tapi ayah tahu kau sangat mencintai putri ayah, jagalah dia baik - baik, aku percaya padamu"
"Terima kasih ayah" memeluk ayah mertuanya setelah berdiri dan mendekat pada ayah mertuanya. "Terima kasih ibu" mencium tangan ibu mertuanya dengan haru.
Setelah mengatakan semuanya pada keluarga ia menjadi lega, sekarang hanya tinggal berusaha mencari keberadaan istrinya. Tapi kemana istrinya itu pergi, ia sudah mencari ke tempat -tempat yang biasa istrinya datangi berbekal informasi dari sahabatnya.
Hotel hotel, rumah kos, penginapan sudah ia datangi. Tapi sampai saat ini belum juga menemukan istrinya.
*
*
Di kamar yang berantakan terdapat sepasang manusia yang sudah menghabiskan tenaganya untuk suatu kenikmatan. Keringat masih membasahi mereka, nafas mereka masih terengah - engah.
"Hemm.. katakanlah?" jawab Suaminya yang tak lain adalah Evan.
"Bantu aku mencari Citra, ia pergi" Bella menceritakan apa yang terjadi, semuanya, tanpa ada yang disembunyikan.
"Apa yang aku dapatkan jika Menemukannya?"
"Apa yang kau inginkan? Kau sudah punya segalanya" Evan tersenyum smirk menatap istrinya.
"Aku ingin..... " tangannya bergerak ke area sensitif istrinya yang masih dalam keadaan polos. "ini"
"Akhh.... " suara Bella menggoda.
"Ternyata kau ingin lagi sayang, baiklah one more time"
"Tidak, aku lapar"
"Hahahaha" Evan tertawa, dia hanya ingin menggoda istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menemukan Citra kurang dari 24 jam, dan besok malam kau harus memberikan pelayanan terbaikmu sayang" mengecup kening Bella kemudian menggendongnya ke kamar mandi, Bella tidak protes dengan apa yang dilakukan suaminya karena itu hanya percuma, yaudah ikutin aja maunya. Dengan keadaan masih sama sama polos mereka melangkah ke kamar mandi dengan Bella dalam gendongan suaminya.
*
*
Waktu bergulir. Disebuah cafe di kota S.
"Kau mau main petak umpet?"
"Kau tidak menganggap kami?"
"Kau mau membalas dendam padaku?"
"Kau.... "
"Sudahlah, jangan marahi aku lagi, aku sedang sedih, mana simpati kalian?" ucap Citra merajuk yang dari tadi mendapat banyak pertanyaan dari kedua sahabatnya, entah bagaimana mereka bisa menemukannya.
"Ck... " Bella berdecak. "Ada yang ingin kau jelaskan pada kami.
"Aku yakin kalian sudah tahu apa yang terjadi. Setidaknya beri aku pelukan dulu" Karena dari tadi mereka sampai di cafe tempat Citra bekerja, mereka langsung menggiring sahabatnya itu ke salah satu meja disana. Di duduk kan dan tanpa menunggu lagi mereka langsung menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. Akhirnya mereka mendekat dan memeluk Citra.
"Maafkan kami, apa itu terasa berat?" tanya Bella sembari mengelus punggung Citra.
"Aku sudah baik baik saja sebelum kalian datang, tapi saat ada kalian aku jadi sedih lagi, aku ingin menangis" ucap Citra sambil menangis.
"Menangislah, keluarkan semuanya" Ucap Risa menatap sahabatnya yang sudah menangis tersedu - sedu.
"Dia tega padaku, dia menyakitiku, dia jahat"
"Ya... Dia harus diberi pelajaran"
"Bagaimana caranya?" menatap kedua sahabatnya setelah pelukannya terlepas.
"Kau tahu suamimu mencarimu seperti orang gila"
"Jangan memberitahunya kalau kalian sudah menemukanku"
"Ohh... tentu saja, tidak semudah itu"
__ADS_1