Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 27


__ADS_3

Ruangan terbuka, muncullah sosok yang ia tunggu.


"Apa sudah selesai? " tanya Bella. ooEvan duduk di sebelah Bella sambil merangkul bahunya.


"Hem.. kau ingin makan apa? "


"Aku jadi tidak berselera makan"


"Kau sudah tak lapar, apa yang membuatmu tiba tiba kenyang? "


"Melihat mantanmu aku jadi gelisah sehingga membuat perutku mendadak kenyang" Bella mengelus perutnya.


Deg


"Kau tahu? " menatap Bella dalam. Bagaimana kekasihnya itu tahu.


"Ah.. ternyata benar? Aku pulang saja tiba tiba aku jadi mengantuk" mengambil tas lalu hendak berdiri, baru satu langkah tangannya ditarik oleh Evan, membuatnya menoleh.


"Apa? "


"Apa kekasihku ini cemburu? " tanya Evan sambil menarik turunkan kedua alisnya.


"Tidak, aku hanya takut kau akan meninggalkan aku, aku kan belum bekerja, bagaimana hidupku nantinya" Evan menarik hidungnya gemas.


"adduhh.. " mengusap hidungnya.


"Kau ini masih bisa memikirkan pekerjaan disaat seperti ini"


"Lalu aku harus apa? Menangisimu? Yang benar saja" jawab Bella ketus yang pasti tidak sesuai dengan kata hatinya. Aku tak akan menangis, hanya mengeluarkan air mata saja batinnya.


Cup. "Kau terlalu banyak bicara" Bella tersipu malu, meskipun mereka sering berciuman tapi tetap saja ciuman Evan membuat wajahnya merah.


"Apa dia memintamu kembali" tanyanya ragu.


"Akhirnya kau mengakui kalau kau cemburu?" Bella memanyunkan bibirnya. Menggenggam kedua tangan Bella. "Dengarlah, dia bukan mantanku karena kami tidak pernah pacaran, ya aku akui dulu aku mencintainya tapi sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan. Dulu aku merasa terpuruk dan tidak bisa membuka hatiku untuk wanita lain. Tapi itu sebelum aku mengenalmu. Setelah mengenalmu, aku jatuh cinta padamu, kau adalah pacar pertamaku, aku mencintaimu Bella" Mendapat ungkapan cinta seperti itu membuat hati Bella terbang melayang.


*Kl*epek klepek hatiku bang. Ajakin nikah dong bang.


"Aku juga cinta kamu" Tanpa mereka sadari Karina mendengar ungkapan cinta mereka. Semakin menjeritlah hatinya. Dia benar benar sudah kehilangan, karena ia tahu Evan sekali mencintai maka dia akan benar benar mencintai wanita itu sepenuh hati. Dengan cepat Karina meninggalkan tempat itu.


"Ayo" Evan menariknya menuju keruangannya lagi.


"Kita tidak jadi makan"

__ADS_1


"Kita makan disini saja, aku akan memesan makanan" ucap Evan. "aku ingin bermesraan denganmu" bisik Evan ditelinga Bella. Bella mencubit lengan Evan.


"Auu uww"


"Ingat kita ini dimana? "


"Tidak ada yang lihat. Cup" mengecup pipi Bella gemas.


Tidak ada yang lihat. Terus mereka itu siapa sayang. Mereka menatap kita.


Di ruangan itu. Suasana terasa mencekam, hawa panas terasa membara.


"Jadi? " Ucap Bella dengan menahan amarah. Evan mengangguk.


"Ya.. aku pemilik Cafe tempatmu bekerja" ucap Evan lirih, dia jadi serba salah. Dengan senangnya dia ingin memberi Bella hadiah, dan terpikirlah cafe. Dia ingin memberikan cafe untuk Bella sebagai hadiah. Dia lupa bahwa dia yang menyebabkan Bella di pecat.


"Jadi kau yang memecat ku? " tanya Bella, Evan hanya diam ia tidak berani membuka mulut, sekarang ia seperti maling yang ketangkap polisi. Bella menatapnya tajam. Ditatap seperti itu membuatnya nyalinya ciut.


"I... ya.. " Ucapnya gugup sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ishh... kau jahat sekali. Aku marah padamu tidak mudah untuk merayuku" ucapnya marah.


"Sayang, waktu itu aku hanya ingin memberimu pelajaran, tapi sekarang kan bagus, cafe itu sudah jadi milikmu, itu hadiah kelulusanmu" Bella mengacuhkan Evan. "Sayang,, maaf ya, aku tidak bermaksud yang lain, aku hanya ingin menggertakmu saja waktu itu" Bella menatapnya, melihat kesungguhannya.


"Iya sayang.. lihatlah, ini sudah atas namamu"


"Karena itu adalah milikku, apakah aku boleh melakukan apapun yang ku inginkan? "


"Tentu saja" Bella tersenyum smirk.


"Aku akan memaafkanmu, dengan satu syarat" ucap Bella penuh dengan rencana yang licik.


"Apapun itu sayang, aku terima syarat darimu"


"Jadilah karyawan ku selama seminggu! Bagaimana? "


"Oke, aku milikmu" Evan menyetujuinya dengan mudah.


"Bagus. karena kau karyawan spesial maka kau juga akan mendapatkan perlakuan istimewa. Tidak perlu bekerja full, hanya beberapa jam saja"


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu" Dengan gesit Evan menggerakkan tangannya untuk memeluk Bella.


"Sayang, aku lapar. Apa kau sudah pesan makanan? "

__ADS_1


"Aku lupa sayang, kau mengalihkan duniaku" Evan menghubungi sekertarisnya. Dan tak lama setelah itu makanan pun datang. Mereka menyantap makanan dengan tenang sampai habis tak tersisa.


Keesokan harinya.


Hari ini adalah hari yang begitu menyenangkan sekaligus menegangkan bagi Bella. Dia sudah rapi dengan kemeja dan celana kaiinnya ,Seperti karyawan kantoran yang begitu ia impikan. Hari ini ia akan menjabat sebagai bos cafe.


Jam 8 tepat ia sampai di cafe.


"Sudah siap sayang?" Bella mengangguk.


Kedatangan Evan disambut oleh manajer cafe. Yang juga merupakan manajer Bella dulu saat bekerja. Manajer itu sebenarnya agak terkejut melihat Bella bersama dengan bosnya.


"Kumpulkan semua orang, aku ingin mengumumkan sesuatu"


Pengunjung pun belum rame, cafe ini buka jam 7 Pagi. Meskipun ini hanya cafe, tapi ini adalah cafe terbesar di wilayah itu. 10 menit kemudian semua karyawan sudah berkumpul.


"Selamat pagi, saya adalah pemilik cafe ini, tapi mulai hari ini nona disebelah saya adalah pemilik cafe yang baru, nona Bella. ia akan mengelola langsung cafe ini, bukan begitu sayang"


"Hem.. Iya saya akan mengelola langsung cafe ini, mohon kerjasamanya" ucap Bella gugup. Dia tak menyangka bisa menjadi pemilik cafe ini, mungkin inilah keuntungan menjadi pacar orang kaya, kita tidak perlu berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Aku tidak tahu apa aku ini beruntung atau tidak tapi satu yang pasti aku mensyukuri apa yang terjadi, apa yang aku dapatkan, intinya nikmati saja.


"Terima kasih, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian" ucap pak manajer.


"Selamat Bell, maksudku nona Bella"


"Bapak tidak perlu terlalu formal, panggil saja Bella seperti biasanya. Semoga kita bisa bekerja sama"


"Ayo aku antar keruanganmu" Ajak pak manajer, kemudian mereka berjalan bersama menuju ruangan itu. Selama ini Evan tidak pernah terjun langsung untuk mengelola cafe, dia punya asisten sendiri untuk mengelola cafe ini. Tapi bukan asisten Riki loh ya.


Setelah sampai diruangan, pak manajer segera undur diri, dan tinggallah mereka berdua.


"Jika kau tidak suka dengan ruangannya kau bisa menggantinya sesuai keinginanmu"


"Bolehkah? "


"Tentu, ini kantormu sekarang" Evan membawanya mendekati meja dan mendudukkan Bella dikursi kebesarannya. "Kau suka ada meja kerja dan komputer dihadapanmu sesuai dengan keinginanmu, dan kau bosnya sekarang"


"Terima kasih sayang, semua ini berkatmu, aku suka hadiahmu, kau tau aku sangat gugup, apa aku bisa melakukannya? "


"Pasti bisa, nanti asistenku akan membantumu, kau tenang saja" Bella tersenyum mendengar penuturan Evan.


*Sayang semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berhenti. Aku akan selalu berdoa agar kau jodohku. Bella.


Aku ingin membahagiakanmu. Melihatmu tersenyum itu adalah kebahagiaanku. Semoga aku bukan orang yang akan membuatmu menangis. Evan*

__ADS_1


Hi..... Mohon like and komennya ya. Terima kasih


__ADS_2