Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab34


__ADS_3

Di tempat lain.


Riki berlari menuju ruangan Evan, kemudian masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Dengan nafas yang terengah mendekat ke meja Evan. Membuat Evan heran dengan kelakuan Riki. Setelah nafasnya mulai stabil baru Riki berbicara.


"Bos... nona Bella" Evan menatapnya tajam. "Nona Bella pagi ini meninggalkan apartemen" berhenti sebentar sambil melihat perubahan wajah bosnya. Evan kembali menatap dokumen diatas meja ketika mendengar Bella keluar apartemen, berarti dia sudah lebih baik pikirnya.


"Emmm."


"Menuju bandara"


"Kemana? " Evan mendongak menatap Riki.


"Ke.. ke London bos"


"Siapkan jet pribadiku hari ini juga, aku akan menyusulnya" ia kembali menatap dokumen, melanjutkan pekerjaannya.


Mau kemana kau sayang, kenapa nekat sekali. Ini pertama kalinya kau pergi ke luar negeri. Bagaimana kalau ada yang menyakitimu.


"Nona Bella.. pe..pe..pesawatnya jatuh " ucap Riki terbata


Deg


Tuk. Pulpen ditangannya jatuh.


"Apa!! " mendongak menatap Riki dengan wajah yang tak bisa diartikan, ia terkejut mendengar berita yang tiba tiba ini, hatinya terasa sakit, matanya mulai memerah, ia tidak menangis, meski begitu ekspresinya tidak bisa terbaca. Tatapan matanya tajam dengan wajah datarnya, tapi hatinya seakan jatuh dari tempatnya, ia tidak bisa menggambarkan perasaannya.


"Saya sudah mengirim beberapa orang untuk memeriksa lokasi kejadian dan saya sudah menyuruh mereka untuk juga ikut melakukan pencarian"


"Temukan dia, bawa dia kembali, jangan biarkan dia pergi, cepat pergi!! " Evan meninggikan suaranya di kata terakhir. Riki segera meninggalkan ruangan untuk bergegas mengurus segalanya, karena ia yakin bosnya sedang terpuruk.


Setelah Riki pergi Evan melamun sendiri, dia hendak berdiri dari kursinya, tapi ia tak mampu sehingga ia terjatuh ke lantai. Dia menertawakan dirinya sendiri.


Ha ha ha..


Tawa yang terdengar pilu. Tawa yang meneteskan air mata, Evan menangis dalam tawanya. Menyenderkan kepalanya ke kursi. Ia terlihat menyedihkan pakaiannya kusut wajah dan rambutnyapun sudah acak acakan.


Apa yang telah aku lakukan. Bodoh. Dia pergi karenaku, aku tidak akan memaafkan diriku kalau terjadi apa apa padanya.


Setelah merasa lebih tenang, Evan memutuskan untuk meninggalkan perusahaan. Dia tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan, dia juga tidak menghiraukan tatapan semua karyawannya, yang dia inginkan segera pergi ke apartemen.


Ditempat yang lain.


"Ayah, ibu.. ada kecelakaan pesawat, pesawatnya jatuh ke laut" teriak Alexa.


"Kamu tuh kenapa teriak- teriak" jawab ibu dari dapur membawa makanan yang akan diletakkan di meja untuk makan malam.

__ADS_1


"Bu, ada pesawat jatuh" ucap Alexa lagi.


"Ya sudah, di do'akan saja semoga mendapat tempat terindah di sisinya dan diberi ketabahan keluarganya" ibu masih sibuk menata makanan di meja.


"A... a.. da,, nama Aisyah Bella dalam daftar penumpangnya bu"


Prang


Piring yang di pegang ibu jatuh beserta tahu goreng yang ada di piring. Ibu menoleh melihat ke arah Alexa.


"Ibu.. Tapi itu belum tentu kakak , belum ada bukti yang menyatakan kalau kakak ada dalam pesawat"


"Ada apa ini?" tanya ayah yang baru keluar dari kamar. Ayah menatap ibu yang terlihat cemas. "Ada apa dengan ibumu? "


"I.. itu yah, ada pesawat jatuh, dan ada nama kakak dalam daftar penumpang" ulang Alexa.


Deg


Bella. ini tidak mungkin.


"Ini pasti bukan Bella kita, itu pasti orang lain. Coba kau hubungi Bella" ucap Ayah dengan wajah yang tak kalah kawatir seperti ibu.


"Sudah yah, tapi nomernya tidak aktif"


"Baiklah.. " Alexa mencoba menghubungi Bella lagi, tapi tetap sama nomernya tidak aktif. " Tetap sama yah, diluar jangkauan"


"Apakah kau punya nomer sahabat-sahabat kakakmu" Alexa menggeleng. "Kekasih kakakmu, apa kau tahu siapa dia? "


"Tidak yah, kakak tidak pernah cerita siapa dia, namanya saja aku tidak tahu, katanya kejutan?"


"Bagaimana ini yah, ibu takut" ucap ibu cemas.


"Kalau tetap tidak bisa dihubungi, besok kita ke kota M, aku yakin Bella pasti baik baik saja, sudahlah ayo kita makan"


Akhirnya merekapun duduk dan menikmati makan malam dengan pikiran yang entah kemana, makanan yang masuk ke mulut terasa hambar. Baru kali ini masakan ibu kurang lezat.


Di apartemen


Evan langsung masuk ke kamar Bella, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang Bella, ia menghirup dalam-dalam aroma Bella yang masih tertinggal disana. Tanpa terasa ia meneteskan air mata.


Pov Evan


Richard adalah temanku saat kuliah di London dulu. Kami menjadi teman semenjak dia menolongku dari beberapa preman. Semenjak itulah kami mulai dekat, dia teman yang baik. Disaat aku patah hati dulu, dia yang selalu ada disisiku, menghiburku seperti sahabat pada umumnya, dan setelah aku memutuskan untuk kembali, aku pernah berjanji padanya, kalau aku akan membalas kebaikannya suatu saat nanti.


Sebelum kelulusan dia mengubungiku dan saat itu juga aku terbang ke London, dia mengatakan kalau dia saat itu sangat membutuhkan bantuanku.

__ADS_1


"Aku menagih janjimu, aku butuh bantuanmu" ucapnya sembari menatapku tajam, sepertinya ia dalam kesulitan.


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu sobat"


"Jagalah wanitaku!"


"Apa?"


"Aku butuh kau untuk bersandiwara, biarkan dia masuk dalam kehidupanmu, berpura-puralah menjadi suaminya, dan jangan sampai ada yang tahu, kecuali orang kepercayaanmu, yang benar benar kamu percaya"


"Aku tidak bisa melakukan itu, akan ada hati yang tersakiti, aku tidak mau kekasihku salah paham"


"Hanya 4 bulan, jangan melibatkannya, karena mungkin bisa membahayakan dirinya, sembunyikan ini semua darinya, aku yakin kamu bisa melakukannya"


"Tapi dia akan salah paham"


"Akan sangat sulit menghadapi wanita yang cemburu, apa kau yakin dia tidak akan cemburu?"


Ketemu mantan saja cemburu, apalagi ini.


"Entahlah, kenapa harus berpura pura menjadi suaminya, kau tidak takut, istrimu akan berpaling padaku" aku senang menggodanya, yang langsung mendapat tatapan tajam darinya.


"Kau ingin ku bunuh?"


"Ah.. kau.. ck.. "


"Kalau kekasihmu tahu, aku yakin rencana ini tidak akan berhasil, ada yang ingin mencelakaiku, mereka tidak menginginkan ada keturunanku, jadi mereka selalu menyingkirkan wanita yang dekat denganku, maka dari itu aku menitipkan nya padamu sementara. Tidak ada yang tahu kalau aku sudah menikah dan sudah punya putra" Richard menceritakan masalahnya, dia harus berpisah dengan keluarganya demi keutuhan keluarganya.


"Bagaimana kau menikah, kau memaksanya?"


"Itu bukan urusanmu"


"Aku yakin kau memaksanya, kau mengancamnya sehingga dia mau menikah denganmu,, oh wanita yang malang"


"Jangan asal bicara, dia sangat mencintaiku"


"Ok. Istrimu sangat mencintaimu. Baiklah aku setuju untuk pura pura menjadi suaminya tapi ini demi putramu, aku harap dia tidak mirip denganmu"


"Tentu saja, dia sangat tampan seperti Daddynya"


"Ck" dia selalu narsis. "Tapi aku punya syarat, jika kekasihku mengetahui ini semua, kau harus bertanggung jawab untuk menjelaskan semua padanya. Aku tidak mau kehilangannya. Dan kau, jika tidak ingin kehilangan wanitamu,lakukan secepat mungkin, empat bulan terlalu lama"


Dari sinilah semuanya dimulai, aku harus berpura pura menjadi suami orang untuk waktu tertentu. Sampai waktu itu.


Aku harus melakukan peranku sebagai suami dan juga seorang ayah. Karena anak buah Richard memberitahu kalau ada penyusup masuk. Aku terkejut ketika melihat wanita yang kucintai berdiri dihadapanku. Dia menangis. Hatiku perih melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2