
Setelah berhari hari akhirnya pencarian dihentikan karena tidak mungkin melakukan pencarian lautnya terlalu curam. Tapi seorang Evan belum menyerah. Seminggu, dua minggu, sebulan akhirnya diapun menyerah. Dia sudah menghubungi keluarga Bella dan memberitahu semua informasi yang ia dapat, dan juga tentang pencariannya yang sudah ia hentikan. Ia menyerah, ia menerima kenyataan meskipun tidak bisa, ia berusaha untuk iklas meskipun terasa berat.
Disinilah Evan berada di tepi laut tempat semua keluarga berbelasungkawa, menabur bunga membacakan doa, dengan harapan mereka tenang disana dan mendapatkan tempat terindah di sisiNya.
Evan berbalik, berjalan menjauh dari kerumunan orang, ia meninggalkan tempat itu. Mengendarai mobil mewahnya menuju apartemen, tempat yang sering ia kunjungi hampir setiap hari, sampai ia tertidur disana.
Orangtuanya sangat menghawatirkan keadaan Evan. Ini kali kedua ia seperti ini, tapi kali ini dia seperti tak berjiwa, tatapannya kosong. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain berdoa semoga ini cepat berlalu.
Kembali ke apartemen.
Melangkah masuk ke kamar Bella, tempat ia menghabiskan malam. Ia memandangi meja rias tempat Bella merias diri, membayangkan Bella berada di sana sedang merias diri, menoleh padanya dengan senyum manis menggoda sambil mengerlingkan satu matanya.
Seakan akan itu nyata, Evan melangkah menghampirinya, semakin dekat, pandangan didepannya semakin samar, bayangan itu menghilang, tidak ada Bella disana. Meja rias itu kosong. Evan mendudukkan dirinya di kursi. Menatap cermin yang terdapat bayangan dirinya. Menyedihkan.
Meraba meja, semua yang ada diatas meja ia sentuh seraya ia bersentuhan dengan Bella. Menikmati setiap kenangannya dengan Bella di meja rias itu, karena Evan sering menggodanya ketika merias diri, dan bukan itu saja, bahkan Evan sering menggodanya untuk menginap di kamar Bella, yang pasti selalu mendapat penolakan dari Bella. Meskipun mereka sangat dekat, Bella tetap tak ingin lebih dari sekedar pacaran, dan Evan sangat menghargai keputusan itu, ia juga berusaha untuk menjaga Bella dan tak ingin merusaknya.
Perlahan tatapannya beralih pada laci meja. Dibukanya perlahan laci itu, ada sebuah kotak yang menarik perhatian nnya, kotak berukuran sedang, yang pasti bukan cincin karena kotaknya terlalu besar untuk ukuran cincin. Evan mengambilnya lalu meletakkan di atas meja. Menatapnya dengan intens, haruskah ia buka, ia ragu, ada rasa takut untuk membukanya. Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya, perlahan tapi pasti kotak itu terbuka.
Deg.
__ADS_1
Ternyata kau sudah mempersiapkan semua ini. Kau memang ingin pergi dariku. Kau mengembalikan semuanya. Segitu tak inginnya kau berhubungan denganku lagi.
Evan mengeluarkan barang barang yang ada dikotak itu, mulai dari kunci mobil, ATM yang Evan berikan yang masih atas namanya dan juga ATM yang diberikan Evan atas nama Bella, dan juga ada beberapa kunci yang Evan tahu itu kunci apa.
Kau juga mengembalikan hadiah yang kuberikan. Cafe itu milikmu sayang.
Evan meneteskan air mata tanpa bersuara. hatinya sakit. Seperti tertusuk benda tajam sakitnya sampai ke ulu hati. Ada yang menarik perhatiannya, amplop putih. Evan membukanya, yang isinya kertas yang sudah dilipat rapi, ia keluarkan kertas itu. Sebuah surat. Dia membuka surat itu kemudian membacanya.
Untuk kekasihku.
Bukan ya. Sekarang kita mantan kekasih. Tapi kita belum putus. Baiklah mari kita putus. Dan sekarang kita hanyalah mantan kekasih. Aku ingin tertawa dengan status hubungan kita ini tapi yang keluar malah air mataku. Aku cengeng ya, tapi aku masih ingin menangis.
Tapi kau jangan khawatir, beberapa hari ini aku banyak menghabiskan uangmu, aku juga menyimpannya sebagian. Aku akan menggunakan uangmu untuk berlibur, karena kau sudah membuatku patah hati. Kau tahu rasanya sakit sekali, semoga ini patah hatiku yang terakhir. Apa kau mengkhawatirkanku? Kau tak menemuiku lagi. Tapi tenang saja, aku tidak akan terus menangis, aku tidak akan berlama lama larut dalam kesedihan. Kau juga tidak berharap kan aku menangisimu sepanjang hari kan, aku tidak mau sakit, aku juga tidak mungkin melakukan hal bodoh. Mati karena cinta. Aku masih sehat. Doakan saja, eh.. aku malah minta doamu, bolehkan? semoga di liburanku ini ada bule yang jatuh cinta padaku pada pandangan pertama, aku akan langsung menerimanya, bahkan diajak nikah pun aku akan langsung mau. Aku takut gagal menikah lagi. huft..
Kebersamaan kita selama ini, aku tak pernah menyesalinya, bahkan aku bersyukur pernah ada dihatimu meskipun hanya singgah, pernah mencintaimu dan dicintaimu, meskipun cinta untukku sudah pudar. Aku bahagia bersamamu, tapi itulah jodoh, tidak sesuai dengan keinginan kita, jodoh hanya Allah yang menentukan. Tapi bukan berarti aku menunggumu loh ya, aku tidak mau dudamu. Jika kau duda aku berharap kita tak berjodoh.
Kau tahu saat melihatmu difoto bersama seorang wanita dan anak, aku sangat takut, dadaku sesak, tubuhku seakan tidak bernyawa. Andai saja aku tidak terpengaruh, andai saja aku tetap percaya padamu, andai saja aku tidak datang, mungkin kita masih tetap bersama. Biarlah aku egois. Entah siapa yang mengirimiku fotomu dan alamat rumah kalian. Aku masih tidak percaya hubungan kita kandas setelah kau mengajakku menikah. Tapi, aku cukup bahagia setidaknya aku pernah dilamar cowok ganteng dan kaya, meskipun tidak jadi menikah.
Aku bukan wonder woman.Aku juga lemah, banyak pertanyaan di kepalaku, tapi apa gunanya?. Banyak yang ingin aku ketahui, tapi apa manfaatnya? Aku ingin marah, aku ingin meluapkan seluruh kemarahnaku kesedihanku, tapi semua tak berguna saat aku melihat bayi lucu dalam gendonganmu, dia mengalihkan segalanya, kemarahanku, kesedihanku, ketidakadilan bagiku(boleh kan aku merasakan ini), rasa tersakiti, terkhianati. Semua itu aku rasakan tapi apa gunanya. Ada anak diantara kalian, aku tidak mau nanti dia bersedih jika tahu orangtuanya tidak bersama lagi.
__ADS_1
Aku menyerah. Tapi kadang sisi egoisku muncul kembali, aku tetap ingin memilikimu, aku tidak peduli dengan keluargamu yang lain, di dunia kita hanya kau dan aku. Tapi bayimu mengalahkan segalanya, aku kalah sebelum berperang, atau mungkin aku memang sudah kalah dari awal.
Sayang, kau tak pernah kalah, dihatiku hanya terukir namamu. Hanya kau yang aku cintai. Kembalilah sayang. Jangan seperti ini. Aku menginginkanmu sangat menginginkanmu.
Aku pergi. Semoga kau selalu bahagia. Aku akan memulai hidupku dari awal tanpamu. Anggap saja cafe itu hadiah dariku untuk putra kalian, meskipun itu awalnya juga dari ayahnya.
Jangan pergi. Kebahagianku hanya dirimu.
Aku akan memulai hidup baru tanpamu, doakan aku ya, agar bisa bahagia juga. Bukankah hidup ini sangat singkat jadi akan sangat merugi jika tak bahagia.
Kau akan selalu bahagia sayang bersamaku.
Aku berjanji tak akan menangis lagi. Aku akan berhenti untuk mencintaimu. Jangan sedih ya... hahahaha.. karena aku tetap akan mengingatmu, kau tahu kenapa, karena aku belum amnesia.
Jangan berhenti. Tetaplah mencintaiku.
Bella yang pernah ada dihatimu.
Kau masih bisa bercanda di saat hatimu terluka, kau memang orang baik, aku tahu kau masih mencintaiku, jadi jangan berhenti mencintaiku. Aku percaya jodoh dan aku percaya kaulah jodohku. Hatiku masih berdebar ketika mengingatmu, aku yakin kau masih hidup. Sebentar lagi kita akan bertemu.
__ADS_1