Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 65


__ADS_3

Waktu berlalu. Inilah saatnya ia menghubungi sahabatnya dan ia berharap apa yang ia katakan bisa mengubah pikiran sahabatnya Citra. Ia ingin segala kesalahpahaman ini segera terselesaikan, karena mereka pantas bahagia.


Mengambil ponselnya didalam tas, ia segera menekan nomer sahabatnya. Selang beberapa detik panggilannya diangkat oleh seseorang yang ia hubungi.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, lagi dimana?"


"Di kamar, baru pulang jalan jalan"


"Sepertinya bahagia sekali"


"Aku tadi berburu makanan, disini banyak sekali makanan yang enak dengan harga yang murah, kemarilah kita makan bersama"


Panggilanpun dialihkan ke video call.


"Itu kan cilok, disini juga banyak, batagor, sempol ayam, apanya yang beda kita kan sering makan makanan itu, makanan orang belum kaya hahahah" mereka tertawa bersama.


"Tapi disini enak sekali"


"Pipimu tembem sekali Cit? makannya seperti itu, pantas saja"


"Benarkah? "


"Hemmm.... " sambil menganggukkan kepalanya, sedangkan Citra reflek memegang pipi yang terlihat tembem.


"Aku tidak mau gendut" teriaknya.


"Hahahahhahaha" Bella terbahak melihat tingkah sahabatnya. "Sudahlah gendut itu seksi.


" Kau menyebalkan"


"Tapi ngangenin, Cit pulanglah" hening, Citra tidak menjawab ucapan Bella, ia hanya diam. "Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan ibumu dirumah sakit, dan kemarin aku juga melihat ibu bersama ayahmu keluar dari rumah sakit membawa tas besar, aku tidak tahu untuk apa mereka keluar masuk rumah sakit, aku tidak berani mendekati mereka, aku takut mengingkari janjiku dan memberitahu dimana keberadaanmu" Citra masih diam mendengar ucapan panjang lebar sahabatnya itu, wajahnya mendadak sendu, ia seakan lupa dengan keluarganya, ayah ibunya. Tiba tiba ia meneteskan air mata.


"Aku merindukan mereka" tangisnya semakin pecah. "Aku anak durhaka"


"Pulanglah, mereka juga merindukanmu. Jangan sampai kau menyesal jika terjadi sesuatu pada mereka" Citra menganggukkan kepalanya.


"Aku akan pulang. Mungkin besok, aku akan pamitan dulu ke tempat aku bekerja'


"Nah begitu, aku senang mendengarnya"


"Aku akan menyuruh sopir keluarga untuk menjemputmu"


"Tidak perlu, akan sangat merepotkanmu, aku akan pulang sendiri, traktir aku saja di restoran mahal aku akan menghabiskan uangmu"


"Baiklah aku tunggu, kita habiskan uang suamiku bersama"


"Ok" sambungan pun dimatikan setelah mengucapkan salam.


*


*


"Sudah, dia akan pulang besok, tapi aku tidak tahu jam berapa dia akan sampai" ucapnya pada seseorang yang dari tadi hanya diam, menyimak pembicaraannya dengan wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Terima kasih Bella" ucapnya tulus dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

__ADS_1


"Sama - sama kak, semoga kalian selalu bahagia"


"Hemm... aku berhutang budi padamu"


"Balaslah dengan mmbahagiakannya, jangan lewatkan kesempatan ini kak"


"Ya, sekali lagi Terima kasih"


Setelah keluar dari Cafe Bella, Andi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah mertuanya yang beberapa hari ini menjadi tempatnya untuk menghabiskan malam. Sudah beberapa malam ini ia tidur di kamar Citra.


Ia langsung memasuki rumah setelah memarkirkan mobilnya di halaman depan.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Duduklah" ucap ayah mertuanya setelah ia sampai di ruang keluarga. ia mendudukkan bokongnya tepat dihadapan ayah mertuanya.


"Bagaimana nak" tanya ibu mertuanya penuh harap.


"Bella sudah membujuknya bu, Citra mengatakan dia akan pulang besok, kita doakan saja bu semoga besok istriku benar benar pulang"


"Bersabarlah, ibu yakin semuanya akan baik-baik saja"


Ya, mertuanya sudah tahu dengan rencananya dan Bella untuk membuat Citra pulang. Meskipun mereka harus rela bolak balik rumah sakit hanya untuk berkeliling itu semua atas permintaan Bella, dengan alasan dia tidak mau membohongi sahabatnya.


"Maafkan Andi bu, ayah. Andi yang membuat Citra pergi"


"Sudahlah, jangan selalu merasa bersalah, itulah hidup, kita akan selalu di uji agar kita tambah kuat dan selalu bersyukur atas nikmatnya" ucap ayah bijak.


"Itu benar, sekarang beristirahatlah karena besok kau harus siap untuk menghadapi istrimu, yang seperti abg, main kabur - kaburan"


*


*


Keesokan harinya.


Setelah menghabiskan waktu ber jam jam di kereta api sekarang Citra menempuh perjalanan menggunakan taksi untuk sampai kerumahnya.


Citra tidak mengundur waktu lagi setelah berpamitan ditempat ia bekerja dan juga kepada ibu kos serta seluruh penghuni kos, ia segera menuju stasiun untuk melakukan perjalanan ke kota M.


Dan disinilah Citra berada, berdiri di depan pintu rumahnya. Ia mencoba untuk mengetuk pintu.


Tok.... Tok.... tok...


Cek lek.


"Citra"


"Ibu" ucap mereka bersamaan, kemudian saling memeluk untuk melepaskan rindu.


"Ibu sangat merindukanmu sayang, kemana saja selama ini, apa kau tidak merindukan ibumu ini, kau sudah lupa jika kau masih punya ibu yang pernah melahirkanmu"


"Tidak... tidak ibu, Citra... maaf, maafkan Citra bu, Citra yang salah" ucap Citra sambil terisak.


"Citra, kau sudah pulang nak"

__ADS_1


"Ayah, Citra merindukan ayah" setelah melepaskan pelukannya dari sang ibu, Citra berhamburan memeluk ayahnya.


"Ayah juga sangat merindukanmu sayang, masuklah dulu" mereka segera memasuki rumah dengan ayah yang membawa koper Citra.


"Kamu tahu kami sangat menghawatirkanmu, kenapa tidak pernah menghubungi kami"


"Maafkan Cita ayah ibu"


"Suamimu juga mencarimu kemana mana, ia tidak pernah berhenti untuk mencarimu, dia sangat mencintaimu" Citra terdiam mendengar ucapan ibu tentang suaminya.


Andai ibu tahu apa yang telah dia lakukan, apa ibu masih bisa bilang seperti itu.


"Jadi kau tinggal dimana selama ini, apa kau baik baik saja"


"Ya, Citra baik - baik saja bu" kemudian Citra menceritakan dimana ia tinggal, tempat kerjanya, lingkungan disana, semuanya ia ceritakan kecuali alasan kepergiannya, ia takut mau bercerita kepada orangtuanya. Ia tidak mau mereka khawatir.


"Sudahlah, jangan bertanya lagi, biarkan dia istirahat dulu" sela ayah.


"Ibu terlalu senang bisa melihatmu lagi, istirahatlah dan temui suamimu"


"Ya, bu" mungkin nanti saja aku menemuinya bu, sekarang aku hanya ingin tidur, rasanya lelah sekali akhir akhir ini sepertinya aku cepat lelah. Kemudian Citra berjalan menuju kamarnya meninggalkan kedua orangtuanya di ruang keluarga.


Setelah kepergian Citra.


"Sepertinya Citra belum menyadari ucapan ibu"


"Ya, apa dia akan terkejut?"


"Dia akan sangat marah"


"Kenapa ibu tidak memberitahunya dengan jelas"


"Anggap saja itu kejutan untuknya yah"


"Ayah harap mereka akan selalu bahagia"


"Amin"


*


*


Di dalam kamar


Citra langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang setelah sampai di dalam kamar, meletakkan kopernya begitu saja. ia merindukan kamarnya.


Menarik nafas panjang, kemudian menutup matanya. Kamarnya, rasanya nyaman sekali, sudah lama ia meninggalkan kamarnya ini, hampir saja ia terbang ke alam mimpi. Tapi...


Tes


Tes


Masih memejamkan mata, dengan posisi yang enak banget.


Air. Ada air. Hujan. Tapi aku didalam kamar. Bocor. Kamarku bocor.


Dengan keadaan masih setengah sadar, seketika ia membuka matanya. betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di atas wajahnya.

__ADS_1


"Kau... " ia berteriak lantang.


__ADS_2