
Hari pun berganti sore. Resepsi akan dilaksanakan malam ini juga. Sesuai permintaan Evan, ia akan menikah dalam waktu seminggu.
Pov Evan
Terkejut, bahagia itu yang kurasakan, aku yakin dia masih hidup, hatiku masih bergetar untuknya. Dan sekarang itu terbukti, dia kembali. Aku masih terpaku dengan apa yang kulihat, video yang dikirimkan Tomi. Aku segera berlari, aku tidak menghiraukan semua tatapan karyawanku, aku ingin segera sampai di tempat pesta pernikahan itu. Sial, aku tidak tahu dimana tempat pernikahan itu diselenggarakan.
Aku berlari menuju ballroom hotel setelah menerima pesan dimana tempat pesta pernikahan Citra sahabat Bella. Aku menyesal tidak menghadiri dari awal, seandainya saja aku tahu. Sepi. Pesta telah usai, hanya ada beberapa orang yang sedang bersih bersih. Sayang kau dimana? aku teringat Tomi, aku yakin dia tak akan setengah setengah membantuku, aku segera menghubunginya, sepertinya dia kesal, setelah aku tanya dimana, akhirnya dia memberitahu keberadaan Bella.
Aku segera menuju restoran yang biasa kami datangi. Setelah sampai di restoran, aku tetap di mobil sambil memperhatikan para pengunjung restoran. Aku melihatnya, ternyata mereka duduk di dekat jendela. Aku terus menatapnya, melihatnya kembali tersenyum membuatku bahagia, ini adalah hari yang spesial bisa melihatnya kembali, aku yakin kau akan kembali, aku selalu menunggumu.
Melihat sahabatnya Citra akan pergi aku memutuskan untuk masuk. Aku terus melangkah menghampirinya, Tomi menyapaku seakan akan dia tidak tahu kedatanganku, aku tak mempedulikannya, aku terus menatap wanitaku dan duduk di hadapannya, sepertinya ia tidak nyaman dengan kedatanganku.
Hari yang aku kira adalah hari yang spesial penuh kebahagiaan berubah menjadi hari yang menyedihkan, dia tidak bisa menerima alasanku dulu, dia malah membenciku setelah aku menjelaskan semuanya, dia pergi meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan.
Aku pulang kerumah, aku butuh seseorang untuk bercerita. Aku berharap aku bisa mendapatkan solusi dengan apa yang terjadi padaku setelah bercerita pada orangtuaku. Aku menuruti ide gila mamaku, dia menyuruhku untuk pura pura meniduri Bella, aku melakukannya. Tapi aku terbawa suasana, hampir saja aku tidak bisa menahannya, sampai akhirnya kata kata yang aku tunggu keluar dari bibir manisnya, aku tahu dia hanya asal bicara, dia tidak sungguh sungguh mengucapkannya, tapi aku tidak peduli yang penting aku bisa menikahinya.
Seminggu waktu yang aku sepakati dengan orangtuaku. Mama sangat membantuku, semua dia yang menyiapkan, termasuk meyakinkan keluarga Bella. Dan malam ini adalah pesta pernikahan kami. Mama memang yang terbaik, tidak salah jika papa sangat mencintai mama.
Pov End
Aku masih bingung dengan apa yang terjadi. Aku tidak percaya kalau sekarang aku adalah seorang istri , Evan adalah suamiku. Apa aku bermimpi tapi kenapa terasa begitu nyata. Benarkah aku sudah menikah. Tapi ini benar benar terjadi, ada keluargaku, ada keluarga Evan, sahabat sahabat kami, tamu undangan, ini nyata. This is real, not dream. Bella
Sentuhan tangan seseorang di pinggangku menyadarkanku dari lamunan, laki laki disebelahku tersenyum manis padaku. Ia mengangkat tanganku kemudian mengecupnya lembut.
"Terima kasih" bisiknya ditelingaku, membuatku berdesir. Meskipun hatiku belum jelas, tapi aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang menyayangiku,, aku membalas senyumnya, aku mensugesti diriku bahwa aku bahagia.
__ADS_1
Risa, Citra dan kak Andi menghampiri kami untuk mengucapkan selamat.
"Aku tidak menyangka, kau yang menikah setelah Citra, tapi aku do'akan pernikahanmu selalu bahagia" ucap Risa sambil memeluk Bella. "Semoga anda juga bahagia bos" ucap Risa formal pada Evan.
"Kau bicara formal padanya?" tanya Bella menatap Risa dan Evan bergantian.
"Dia suamimu sekaligus calon bosku ditempat ku bekerja, dan kau adalah bu bosku, bilang pada suamimu agar sering sering memberiku bonus"
"Kau itu belum bekerja sudah minta bonus, sudah sana gantian" Ucap Citra
"Ihhh,, apaan sih"
"Jangan lama lama, yang antri banyak tuh liat" menunjuk ke arah belakang" Risa melihat ke arah yang ditunjuk Citra sambil cengengesan. " Aku senang akhirnya kau menikah, malah seminggu setelah aku menikah, sepertinya Evan pintar menaklukkanmu, yang pasti selalu berbahagialah" memeluk Bella erat, ia masih merindukannya, karena ini adalah pertemuan keduanya dengan Bella.
"Terima kasih" ucap Bella haru.
"Gunakanlah cara yang lebih ekstrim" balas Evan, merekapun saling tersenyum.
"Makasih kak, doa yang sama untuk kalian"
Tamu semakin berdatangan, meskipun acara ini terkesan mendadak, tapi tamu yang diundang tidaklah sedikit, sekitar 2000 tamu undangan. Itupun hanya sebagian yang diundang, mengingat waktu yang diberikan Evan hanya seminggu. Mama Evan menggunakan WO yang dulu, waktu Evan gagal bertunangan, jadi sedikit memberi kemudahan.
"Selamat bro, semoga segera menular, sepertinya aku juga ingin menikah" ucap Tomi
"Semoga kalian segera memberi kami keponakan" ucap Andre.
__ADS_1
"Terima kasih, aku harap kalian segera menemukan jodoh kalian. Dan kau Dre jangan terlalu lama keburu ditikung orang baru tahu rasa" Andre berdecak mendengar godaan Evan.
Malam semakin larut. Pasangan pengantin pun terlihat sudah meninggalkan pelaminan, karena merasa lelah mereka memutuskan untuk beristirahat di salah satu kamar hotel yang sudah disiapkan sebelumnya.
Didalam kamar.
"Kau lelah" Bella menganggukkan kepalanya. " Mandilah dulu sebelum tidur" Bella membuka bajunya tapi ia sedikit kesulitan. Tanpa diminta Evan mendekati Bella kemudian menurunkan resleting baju Bella. Dengan cepat Bella melangkah ke kamar mandi, ia merasa gugup, jantungnya berdegub kencang.
Setelah Bella masuk ke kamar mandi Evan membuang nafas kasar, mengelus dadanya. Sabar, kau harus menahannya, ucapnya dalam hati.
Didalam kamar mandi. Karena merasa gugup Bella lupa membawa baju gantinya. Bella mengeluarkan kepalanya mencari keberadaan Evan.
"Aku lupa bawa baju ganti, bisa tolong ambilkan di koper" Evan berdehem. Kemudian berjalan ke koper Bella mencari baju ganti untuk Bella.
Deg
Lingeria semua, bagaimana aku memberikannya, ini pasti ulah mereka. Dia pasti malu, lebih baik aku cari yang lebih tertutup. Ini dia yang warna hitam.
"Hanya ada ini dikopermu" ucap Evan setelah mengetuk pintu kamar mandi, kemudian menyodorkannya setelah pintu terbuka sedikit.
Evan juga ingin membersihkan diri, ia menunggu Bella selesai, ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Cekrek
Pintu kamar mandi terbuka yang membuat bola mata Evan membola. Bella melangkah mendekati tepi ranjang dengan menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Evan.
__ADS_1
Sepertinya tadi baju itu yang paling tertutup, tapi malah terlihat sangat seksi. Apa aku bisa menahannya.
Evan yang merasa salah tingkah segera berjalan ke kamar mandi. Dia tidak mau Bella melihat ia gugup, bisa jatuh harga dirinya. Apalagi Bella yang memakai lingeria, pikirannya sudah travelling kemana mana. Ia terkejut saat menerima baju itu dari tangan Evan.