Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 31


__ADS_3

Suasana diruang keluarga masih terasa menegangkan terutama untuk Bella, ingin rasanya ia segera pergi dari tempat itu Tapi bagaimana caranya. Evan seperti tak mempedulikan tatapannya. Entahlah sepertinya ia pura pura tidak mengerti.


"Kapan kalian akan menikah? " tanya papa tiba tiba. Membuat wanita muda yang tadi ketakutan menoleh padanya dengan tatapan bingung. Apa maksud papanya Evan, siapa yang akan menikah pikir Bella.


"Setelah papa melamarnya kami akan segera menikah"Jawab Evan enteng. Bella masih belum bisa mencerna ucapannya. Gara-gara gugup bercampur rasa takut ia jadi loading.


" Baiklah setelah urusan perusahaan selesai, papa akan segera melamarnya untukmu"


"Kekasihmu sepertinya benar-benar ketakutan" lanjut mama sambil tertawa. Bella semakin tidak mengerti, apa keluarga ini mempermainkannya.


"Mama terlalu menakutinya" sanggah Evan.


"Mama kan hanya menghayati peran" ucap mama sambil tersenyum, tiada lagi tampang sangar seperti tadi, yang ada wajah cantik keibuan yang hangat, lembut lembut gimana gitu. Bella memperhatikan satu per satu keluarga itu, otaknya masih belum nyambung. Namun sebuah sentuhan membuyarkan lamunannya.


"Sayang, will you marry me? " Evan berlutut dibawah Bella yang sedang duduk di sofa. Bella hanya diam dengan mata yang berkaca kaca, ia tak mampu mengucapkan satu patah kata pun, ia masih terkejut dengan apa yang terjadi.


"Kau tidak mau menerima lamaran putraku?" tanya seorang wanita paruh baya dengan lembut. Bella menatap mamanya Evan.


Apa itu artinya mereka menerimaku. aku mendapatkan restu mereka.


"A... a.. ku mau, aku mau" ucap Bella haru, matanya sudah berkaca kaca, sekali kedip air mata itu akan jatuh. Evan memasangkan cincin di jari manis Bella. Mendongak menatap Evan kemudian mereka saling berpelukan seakan mereka lupa kalau masih ada pasangan beda usia disana.


"Aku mencintaimu"


"Aku lebih mencintaimu"


"Ehemm.. Apa sudah selesai, kalian melupakan kami" seketika mereka melepaskan pelukan, Bella merasa malu, karena saking bahagianya ia sampai lupa ada dimana. Evan tentu saja tetap dengan wajah datarnya, ia bersikap biasa saja.


"Lebih baik kalian bertunangan dulu, jangan langsung menikah" ujar mama Evan.


"Itu ide bagus, tapi setelah urusan perusahaan selesai, baru kita adakan pesta pertunangan" ucap papa yang juga setuju dengan mama.


"Baiklah ma, pa, aku akan segera menyelesaikan urusan perusahaan"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu pun berlalu, satu minggu, satu bulan, tiga bulan, lima bulan. Bella mengelola cafe dengan baik, cafe semakin ramai tentu keuntungan yang di dapat lebih banyak. Dia sangat bahagia karena bisa menjalankan pekerjaan dengan baik, dia tidak ingin mengecewakan Evan yang sudah memberinya kepercayaan. Bagi para pelayan cafe Bella adalah pemimpin yang sangat memperdulikan kesejahteraan karyawan.


Ia tidak segan untuk memberikan bonus kalau memang itu pantas untuk para karyawannya, tapi bukan berarti ia terlalu memanjakan karyawan, tetap ada peraturan yang harus ditaati, ia juga memberikan beasiswa untuk anak anak karyawan cafe yang sedang menempuh pendidikan. Apa yang dialaminya membuatnya ingin membantu anak anak yang kurang mampu untuk bersekolah. Mulia sekali Bella ini.

__ADS_1


Disisi lain. Evan sedang sibuk dengan perusahaannya. Pak Subroto membatalkan kerja sama secara sepihak, menarik semua uang investasinya sehingga Evan harus bekerja keras untuk menstabilkan perusahaan kembali dan untuk mendapatkan kepercayaan para pemegang saham. Ia juga harus sering keluar kota untuk urusan perusahaan dan juga urusan yang lain.


Enam bulan berlalu.


"Sayang aku merindukanmu" pesan terkirim. Bella.


Tak ada balasan, pesanpun belum terbaca. Bella menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil memejamkan mata.


Sepuluh menit berlalu. Pintu terbuka dari luar. Krek. Seseorang berjalan menghampiri Bella yang tengah duduk di sofa. kemudian ia duduk di sebelah Bella. Pergerakannya membuat Bella membuka matanya.


Deg... Buhg...


Bella langsung memeluk Evan yang ada dihadapannya, biarlah meskipun itu mimpi, ia sudah tak bisa menahan rasa rindunya.


"Aku merindukanmu, sangat.. sangat merindukanmu" ucap Bella sambil terisak.


"Benarkah?"


"Iya, aku benar benar merindukanmu"


"Aku juga merindukanmu"


"Ehh.. aku tidak bermimpi" sambil menepuk nepuk pipi Evan. "Ini bukan mimpi"


"Aku tidak akan bangkrut, meskipun aku bangkrut aku tidak akan jatuh miskin, aku punya usaha sendiri selain perusahaan keluarga, cukup untuk keluarga kecil kita nanti"


"Aku senang mendengarnya" mengeratkan pelukannya pada tubuh kekasihnya.


"Ayo kita menikah! " menjeda ucapannya. "Bulan depan kita tunangan, setelah itu kita langsung menikah"


"Kenapa tiba tiba, banyak yang harus dilakukan, apa waktunya cukup"


"Asal kamu mau, semua itu akan terwujud"


"Baiklah,, ayo kita menikah"


Aku takut kehilanganmu. Sebelum itu terjadi aku harus mengikatmu, agar kau tidak bisa pergi dariku.


Semua keluarga sudah mengetahui kabar baik ini, minggu depan keluarga Evan akan mengunjungi keluarga Bella untuk melamarnya. Keluarga Bella senang mendengarnya, akhirnya keponakan mereka akan bahagia bersama laki laki yang dicintainya.

__ADS_1


Keesokan harinya. Di cafe. Bella menemukan amplop besar berwarna coklat ada di atas mejanya.


"Amplop apa ini? tidak ada nama pengirimnya" dengan perlahan Bella membuka amplop besar itu. Setelah amplop besar itu terbuka. Bagaikan disambar petir disiang bolong. Amplop itu berisi foto Evan bersama seorang wanita cantik dan bayi yang sangat lucu.


Deg. Air mata jatuh bersamaan dengan jatuhnya selembar foto yang Bella pegang.


Apa ini. aku.. aku...


Terdengar isakan kecil. Bella membekap mulutnya. Tidak, ini belum tentu benar. Ya aku harus menanyakannya pada Evan. Batin Bella.


Sebelum menghubungi Evan. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.


Kau sudah membuka amplopnya. Kau pasti tak akan percaya kalau kekasih yang sangat kau cintai, yang sangat kau percaya telah menghianatimu.


Ini adalah alamat wanita itu, datanglah karena mungkin saat ini kekasihmu bersamanya. pesan.


Seketika Bella mengingat perbincangannya dengan Evan kemarin.


Flashback on


"Sayang besok aku harus keluar kota lagi, ada urusan yang belum selesai"


"Kau baru datang, kenapa harus pergi lagi? " ucap Bella cemberut.


"Aku harus segera menyelesaikannya agar tidak mengganggu acara pertunangan kita dan mungkin setelah itu hari pernikahan kita"


"Uhh... aku jadi menantikan hari itu. Baiklah aku akan mengijinkanmu pergi kali ini, tapi setelah ini jangan pergi lagi"


"Apa kau sangat merindukanku? "


"Sangat, apalagi akhir akhir ini kau sering pergi keluar kota, keluar negeri"


"Aku kan sudah mengajakmu, aku bahkan ingin kau ikut"


"Aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaanmu, karena kalau aku ikut pastinya aku tidak mau ditinggal, aku akan mengikuti kemanapun kau pergi"


"Aku akan sangat senang jika kau selalu mengikutiku sayang, kita selalu lengket " Evan tertawa membayangkan jika Bella selalu nempel padanya.


"Tapi entah kenapa kali ini aku merasa kau akan pergi sangat lama, apa kali ini tempatnya sangat jauh?"

__ADS_1


"Itu hanya perasaanmu saja, percayalah semuanya akan baik baik saja" Mengelus rambut Bella.


Flashback of


__ADS_2