Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 56


__ADS_3

Masih di loby hotel


"Sebenarnya aku disini menunggu suamimu, ada dokumen yang harus aku ambil, tapi karena perutku sakit jadi aku mau kembali lagi nanti, ehm... berhubung bertemu dengan istrinya, bolehkah aku menumpang kamar mandi, sekalian aku ambil mau dokumen, dokumen itu sangat penting" sambil memegang perutnya dengan ekspresi sudah mau keluar.


"Ehmmm... gimana ya" Ucapnya ragu tidak mungkin dia membiarkan orang lain masuk ke dalam kamarnya, apalagi itu hotel.


"Tolonglah,, aku tidak bisa mengeluarkannya di toilet umum,, aku sudah tidak tahan"


" Baiklah.. " sebenarnya ia merasa tidak nyaman tapi mau bagaimana lagi.


Di posisi yang lain terlihat seorang wanita yang memperhatikan mereka. Citra menaiki lift bersama Doni yang dari tadi memegang perutnya. Setelah sampai Ia langsung membuka pintu kamar hotel, dengan terburu buru Doni masuk ke dalam kamar tanpa permisi terlebih dahulu, ia langsung berjalan masuk ke kamar mandi, hampir setengah jam ia baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang agak kusut.


"Terima kasih, aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini, " Citra mengangguk, ia masih merasa tidak nyaman dengan teman suaminya ini yang sok akrab. "Bolehkah aku mengambil dokumennya?"


"Silahkan, semua dokumen ada di atas meja itu" Citra menunjuk ke meja yang berada di sebelah ranjang, ia tahu karena ia yang membantu suaminya merapikan semua dokumen yang berantakan akibat ulah suaminya.


"Sepertinya tidak ada, lebih baik aku menghubungi Andi saja, sekali lagi Terima kasih" ucap Doni setelah berpura - pura mencari dokumen yang ia inginkan, entah apa yang telah dia rencanakan. Ia keluar dari kamar hotel sambil merapikan bajunya, Citra mengunci pintunya setelah teman suaminya pergi.


"Aneh sekali, bagaiman bisa suamiku punya teman seperti itu" gumam Citra.


Setelah merapikan belanjaannya, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Lelah sekali" tak butuh waktu lama akhirnya ia terlelap.


*


*


Di tempat lain.


Beberapa orang berada di restoran, mereka duduk bersama untuk membahas kerja sama mereka. Terlihat seorang laki laki mengeraskan rahangnya setelah melihat pesan di ponselnya.

__ADS_1


"Maaf, bisakah kita lanjut lagi di lain waktu, saya ada urusan"


"Baiklah, ini sudah hampir selesai"


"Kalau begitu, saya permisi"


Dia melangkah dengan langkah tergesa menuju mobil yang ia sewa selama disini, masuk ke dalam mobil dengan membanting pintu dengan keras. Ia terlihat sangat marah.


Berani sekali kau melakukan ini di belakangku, aku terima kalau kau tidak mencintaiku. Tapi aku tidak terima penghianatan, atau jangan -jangan ini alasan kau selalu menolakku. Sial.


Memukul setir.


Ya, laki - laki yang ada di dalam mobil itu adalah Andi, ia sangat marah setelah menerima beberapa foto istrinya bersama seorang laki - laki, entah siapa laki - laki itu, yang bahkan masuk ke kamar hotel tempat ia menginap bersama istrinya dengan durasi waktu yang lama. Pikirannya kacau apa yang akan dilakukan wanita dan pria dalam kamar hotel dalam waktu selama itu, tidak mungkin mereka hanya duduk - duduk saja, kalau ingin berbincang pastinya masih bisa dilakukan di luar tidak harus di kamar. Ia sudah tidak bisa berpikir positif di saat seperti ini, ia hanya ingin segera sampai di hotel dan memberi pelajaran pada wanita yang sangat ia cintai. Sakit, itu pasti, melihat istrinya bersama laki - laki lain.


Setelah sampai di hotel ia segera menaiki lift, menuju kamarnya.


Di dalam kamar hotel.


"Jam berapa ini? sudah jam setengah lima sore" ia bangun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena ini sudah sore.


Setelah selesai mandi ia memakai baju yang ia ambil dalam lemari kemudian ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, meskipun kadang masih sering bolong hehehe...


Apa aku coba dulu ya, yang aku beli tadi. Ia jadi terkekeh sendiri mengingat apa yang ia beli tadi.


Ia berjalan menuju barang belanjaannya, dan mengambil salah satu paper bag , yang isinya adalah lingeria, ia tersenyum sendiri melihat apa yang ada ditangannya. Berjalan menuju kamar mandi untuk mencoba lingeria yang ia beli tadi


"Ah.... memalukan sekali, haruskah aku memakainya, aku malu" ia berlenggak lenggok di kamar mandi sambil melihat pantulan dirinya di cermin. "Ini demi suamiku, kalau menurut ilmu google sang suami pasti bahagia melihat istrinya memakai barang haram ini, hitung - hitung cari pahala" ucapnya pada diri sendiri. Karena merasa malu ia keluar kamar mandi dengan menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai lingeria.


*


*

__ADS_1


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan pintu kamar hotel yang terbuka yang kemudian juga tertutup secara bersamaan. Mereka berjalan dengan saling menatap satu sama lain pada arah yang sama, dengan pikiran yang berbeda. Citra melangkah dengan jantung yang berdebar, ia tersenyum lembut jangan lupakan wajahnya yang sudah merona.


Dia sudah pulang, fuhhh aku malu sekali, haruskah saat ini juga aku menyerahkan diriku, tidak perlu menunggu malam hari.


Andi menatap istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi, amarahnya semakin membuncah ketika melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan senyum yang menurutnya menggoda.


Apa yang kau lakukan dibelakangku, apa kurangnya aku padamu, kau... ahhhh


"Kau sudah pulang?" tanya Citra pada suaminya setelah mereka hampir dekat.


"Tentu. Apa kau berharap aku malam ini tidak pulang" Citra memicingkan matanya seolah berpikir apa maksud dari perkataan suaminya ini, tapi Citra menyingkirkan pikiran tak enaknya.


"Kau mau mandi dulu?" tanya Citra yang belum mendapatkan jawaban dari suaminya. ia menatap suaminya dengan berbagai pertanyaan, apa dia sedang marah, marah pada siapa, aku belum pernah melihat wajahnya yang seperti ini, apa dia ada masalah. "Ada apa, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Citra lagi. Andi terlihat semakin marah melihat istrinya sok peduli padanya. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari suaminya, ia melewati suaminya begitu saja, ia hendak mengambil ponselnya untuk memesan makanan karena ia merasa lapar padahal tadi siang sudah makan banyak.


Baru saja lewat langkahnya terhenti dengan perkataan suaminya.


"Layani aku... "


Deg


"A... apa?" ia sebenarnya mengerti dengan ucapan suaminya, tapi ia tetap bertanya karena merasa terlalu gugup. Mereka dalam posisi saling membelakangi, sehingga Andi tidak bisa melihat wajah Citra yang sudah seperti kepiting rebus, panas.


"Apa kurang jelas, layani aku sebagai suamimu diatas ranjang" Citra tersenyum tapi senyum itu hilang setelah Andi menarik tangannya dengan kasar kemudian melemparnya keatas ranjang.


"Apa yang kau lakukan?" Citra belum mengerti apa maksud suaminya, apa yang salah, apa yang telah aku lakukan.


"Layani aku seperti kau melayani laki - laki lain, entah sudah berapa banyak laki - laki yang sudah menyentuh tubuhmu ini"


Deg

__ADS_1


Jatuhlah air matanya, ia tidak menyangka suami yang sudah mulai membuat hatinya bergetar saat ini tengah menghinanya.


__ADS_2