Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 48


__ADS_3

Pov Bella


Aku menerima baju dari tangan Evan. Bola mataku hampir terjatuh melihat lingeria ditanganku, untung mata ini ciptaan Allah. Apa - apaan nih Evan, kenapa dia memberiku lingeria pikirku, apa jangan jangan dia memang sengaja...


Aku keluar dari kamar mandi, kakiku bergetar, jantungku berdebar, aku berjalan ke arah ranjang dengan kepala menunduk, aku tak berani menatapnya. Aku tahu dia melihatku kemudian dia segera masuk ke kamar mandi. Aku pikir dia akan langsung memakan ku, pikiranku jadi kotor. Setelah Evan masuk ke kamar mandi, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, dengan menyelimuti tubuhku, awalnya aku ingin pura - pura tidur sebelum dia keluar dari kamar mandi tapi aku terlelap.


Pov End


Di dalam kamar mandi


Evan memegang jantungnya yang berdentum bagaikan musik disco. Ia mengatur nafasnya.


Dia cantik sekali. Sexy. Dadanya penuh. Ah.... aku jadi frustasi.


Evan keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan handuk di pinggangnya. Berjalan ke arah ranjang, melihat Bella yang tertidur pulas.


Dia sudah tidur, sepertinya dia lelah.


Berbalik ke arah dimana kopernya berada. Evan mengambil baju ganti dan langsung mengganti bajunya di sana. Kemudian dia mendekati ranjang kembali, naik ke atas ranjang, ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Bella, kemudian memeluk Bella. Ia masih bisa mencium aroma sabun dari tubuh Bella, menenangkan sehingga membuatnya ikut terlelap.


Pagi hari


Evan terbangun lebih dulu, ia segera mencari ponselnya, ia berniat untuk memesankan Bella baju, karena tidak mungkin kan Bella keluar dengan baju kurang bahan.


Evan hendak beranjak dari atas ranjang, gerakannya membuat selimut yang mereka gunakan melorot kebawah, menampilkan sesuatu yang menggiurkan. Dengan perlahan dan hati yang dag dig dug, Evan membuka seluruh selimut yang membalut tubuh Bella. Melihat pemandangan wau di depannya Evan menelan salivanya, jakunnya naik turun, dan sesuatu dibawah sana mulai beraksi, apalagi di pagi hari, selalu on. Tanpa pikir panjang Evan memeluk Bella kembali, ia dapat merasakan gundukan yang menempel di dadanya, semakin tak kuat rasanya Evan menahan sesuatu dalam dirinya.

__ADS_1


Bolehkan kalau aku melakukannya. Aku kan suaminya, aku berhak atas dirinya. Tapi kami menikah karena.... ah.


Mencium keningnya sebentar sebelum ia melepaskan pelukannya, jangan sampai Bella terbangun karena ulahnya. Dan tanpa Evan sadari Bella sudah terbangun sejak Evan memeluk tubuhnya. Karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa Bella melanjutkan tidurnya, pura - pura tidur lebih tepatnya.


Pov Bella


Entah kenapa tiba tiba terasa dingin kemudian hangat kembali, aku merasakan tubuhku bergerak, seperti pelukan. Evan memelukku, aku tidak berani untuk membuka mataku, aku tetap memejamkan mataku. Aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana. Tentu saja aku tahu apa itu, aku sudah dewasa ya.. Apakah Evan akan melakukannya, jika dia melakukannya aku tak bisa menolaknya, aku tidak mau jadi istri yang berdosa, karena dia berhak atas diriku, aku istrinya meskipun aku belum sepenuh hati menerima status ini. Beberapa menit kemudian dia perlahan melepaskan pelukannya. Sedikit kecewa, eh kenapa aku mengharapkannya, tapi aku tidak bisa berbohong, sepertinya tubuhku menginginkannya, ingin disentuhnya, duh.... pikiranku jadi ternoda gini ya.


Pov end


Setelah acara mencuri pelukan selesai, Evan segera membuka pintu kamar yang diketuk dari luar. Menerima paper bag yang diantar kurir. Meletakkannya diatas meja disebelah ranjang, melihat ke arah Bella sebentar sebelum melangkah masuk ke kamar mandi. Bella membuka matanya setelah terdengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Memegang dadanya.


Uhh.. kenapa adegannya menegangkan sekali, harap - harap cemas.


Deg


Tubuhnya kekar, gagah, sangat menggoda iman. kenapa seperti di novel novel ya, sang pria keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di pinggangnya, kemudian adegan yang.... ahhhh.... aku malu.


"Mandilah, aku sudah membelikanmu pakaian" ucapan Evan membuyarkan lamunannya.


"Ii... Iiya... " Bella bergegas ke kamar mandi dengan paper bag ditangannya. Evan melihatnya dari belakang, Bella berlari hanya dengan lingerianya.


Seandainya saja kita menikah dengan cara yang normal. Aku tidak akan melepaskanmu semudah itu.


"Kita sarapan dibawah saja" Bella mengangguk. mereka turun dengan membawa koper. Mereka hanya semalam menginap di hotel, dan untuk tempat tinggal sementara Evan akan menyerahkan semuanya kepada Bella. Apakah ia mau tinggal di apartemen atau dirumah orangtuanya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan mereka segera meninggalkan Hotel menuju apartemen, karena Bella memilih tinggal di apartemen.


Aku merasa ada yang berubah dari Bella, dia lebih pendiam, tidak se cerewet dulu, aku jadi merindukan suara berisiknya. Aku jadi ragu pada diriku sendiri, apa masih ada aku dihatinya? Evan.


Mataharipun sudah naik ke peraduannya, sinar rembulan menggantikan sinar matahari. Malam ini terlihat begitu romantis. Bella berdiri di dekat balkon, memandang pemandangan indah kota, terasa menenangkan, langkah kaki terdengar dari arah belakang, seseorang berdiri disebelahnya. Evan. Suaminya.


"Bell, bisakah kita mulai dari awal, bisakah kita menjadi pasangan suami istri seperti yang lain, bisakah kau menerimaku kembali? atau mencintaiku mungkin"


"Apa aku punya pilihan lain selain menerimanya?" hening sejenak. "aku akan mencobanya" Bella tersenyum. Evan terlihat menganggukkan kepalanya.


"Masih adakah aku dihatimu?" tanya Evan lagi.


"Tentu saja, bagaimana aku bisa melupakan mantan terindah sepertimu"


"Kalau begitu... " Evan semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka. "Bisakah aku melakukannya? bolehkah aku menyentuhmu?" Bella terdiam hanya menatap Evan. Evan membelai rambutnya lembut. " Aku tidak akan memaksamu, jika kau belum siap"


"Maaf,,, Aku... aku...."


Evan menyentuh bibir Bella dengan jari telunjuknya. "Tidak apa - apa, aku mengerti, sepertinya aku harus menerima hukuman darimu karena telah menyakiti hatimu, tapi bolehkah aku... " Belum selesai ucapannya Evan langsung membenamkan bibirnya di atas bibir Bella, ********** pelan, Evan tetap melancarkan aksinya meskipun Bella tak membalas ciumannya, ia sangat merindukan bibir ini. Setelah beberapa detik Evan melepaskan ciumannya, sambil menyentuh bibir Bella dengan ibu jarinya.


"Sudah malam, lebih baik kita tidur, besok aku akan mengajakmu jalan jalan" Bella mengangguk kemudian mereka melangkah bersama setelah menutup pintu balkon.


Evan maafkan aku, aku belum bisa melakukannya sebelum hatiku benar benar yakin. Entah kenapa aku merasa ragu dengan hubungan kita. Aku masih mencintaimu tapi hatiku belum sepenuhnya menerimamu. Aku janji saat hatiku sudah menerimamu seutuhnya, aku akan menyerahkan diriku padamu.


Tanpa berbincang lagi mereka terlelap dengan posisi Evan memeluk Bella. Bella tidak menolak ketika Evan memeluknya. Berkali kali Evan mengecup kepala Bella sampai akhirnya mereka terlelap, entah siapa dulu yang terlelap. Selamat malam.

__ADS_1


__ADS_2