Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 54


__ADS_3

Hi.... untuk bab ini author tulis cerita tentang Citra dan kak Andi ya, ntar author lanjut lagi kehidupan pernikahan Bella dan Evan, kalau untuk Risa mungkin nanti author pisah ya. selamat mebaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menyiapkan sarapan, Citra menunggu Andi di meja makan. Setelah beberapa menit, Andi keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


"Selamat pagi sayang" mengecup kening Citra. Andi begitu baik, terlihat sekali dari sikapnya yang begitu memuja istrinya Citra, wanita yang sangat ia cintai dari dulu, dan sekarang sudah sah menjadi istrinya.


"Selamat pagi" balas Citra sambil tersenyum manis. Ia mulai mengambilkan Suaminya nasi dan lauk, kemudian meletakkannya di depan suaminya.


"Sayang sepertinya dalam waktu dekat ini kita belum bisa bulan madu, maaf"


"Tidak masalah, kita kan juga harus menghadiri pernikahan Bella"


Aku malah berharap kita tidak perlu bulan madu.


"Aku heran bagaimana anak itu menikah secara mendadak, hanya dalam waktu seminggu dari pernikahan kita"


"Itulah Evan sanjaya, apa kau tidak mengenalnya"


" Aku hanya tahu dia pengusaha yang sukses,, ehhmmmm..... Mungkin akhir akhir ini, aku akan sangat sibuk dengan pembukaan cafe yang baru"


"Iya, tidak apa - apa"


"Mungkin juga aku akan sering meninggalkanmu"


"Iya, aku mengerti"


Setidaknya katakanlah rindu, ah apa yang aku pikirkan, dia belum mencintaiku, aku harus berusaha lebih keras lagi.


"Baiklah aku berangkat dulu" ucap Andi setelah menyelesaikan sarapannya. Citra mengantarnya sampai depan pintu. "Kau akan ke tempat laundry?" ya setelah lulus kuliah Citra membantu usaha orangtuanya.


"Tidak, minggu depan saja, aku ingin bersantai dulu"


"Baiklah, lakukan apa yang membuatmu senang, jalan - jalanlah jika kau bosan. Aku mencintaimu" Evan mengecup keningnya lembut. Bella tersenyum lembut.

__ADS_1


"Aku pergi"


"Hati hati" Andi menganggukkan kepalanya.


Kau belum membalas perasaanku. Aku tidak akan menyerah. pernikahan kita pun masih belum sebulan, masih banyak waktu. semangat.


Andi berjalan mendekati mobil, kemudian masuk ke dalam mobil. Dia sekarang sibuk dengan pembukaan cafe dan restoran barunya, yang rencananya juga akan dibuka diluar kota.


Beberapa hari sudah berlalu, hubungan mereka tetap sama, Andi selalu menunjukkan kasih sayangnya, perhatiannya pada Citra. Tapi Citra belum tersentuh dengan perhatiannya, meskipun begitu Citra tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, kecuali urusan ranjang.


Setelah memakai cream malam, Bella melangkah mendekati ranjang kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Andi sudah lebih dulu duduk diatas ranjang sambil memainkan ponselnya, dia melirik istrinya yang naik ke atas ranjang, sungguh ingin sekali ia menyerang istrinya tapi ia tahan sekuat tenaga, ia ingin istrinya yang akan memberikannya dengan senang hati.


Andi mendekati Citra yang tengah berbaring, mengecup keningnya sejenak sambil mengusap kepalanya lembut. " Tidurlah!" Citra menatap Andi dengan tatapan yang aneh.


Jantungku, ada apa dengan jantungku, berdekatan dengannya membuatku jantungku berdebar.


Kau begitu perhatian, kalau begini terus tidak perlu waktu lama aku akan jatuh hati padamu. Suamiku.


Andi membalikkan tubuhnya, membelakangi istrinya, bukan tanpa alasan ia melakukan itu, kalau terlalu lama menatap istrinya bisa bisa ia akan lepas kendali. Hatinya berperang, satu sisi mengatakan itu sah sah saja karena dia istrimu tapi satu lagi mengatakan jangan, istrimu belum mencintaimu, jangan membuatnya membencimu, hatinya berkecamuk. Setelah beberapa menit hatinya berperang akhirnya ia membalikkan tubuhnya menghadap istrinya. Cantik, meskipun dengan mulut terbuka istrinya tetap cantik, ya Citra sudah terlelap dengan mulut terbuka.


Andi mendekatkan bibirnya ke bibir Citra, mengecup sekilas, ia ulangi lagi, karena Citra tidak bergerak ia sedikit ******* bibir ranum istrinya, wanita yang sangat ia cintai.


Manis sekali, mungkin itu sudah cukup, aku bisa mencicil nya tiap malam, kenapa tidak dari kemaren saja aku menciumnya saat tertidur begini.


Dengan senyum bahagia Andi kembali menjauh dari Citra, memejamkan mata sembari tersenyum mengingat baru saja ia mencuri ciuman istrinya sendiri. Konyol sekali.


Keesokan harinya, di ruangan Andi.


"Setelah menikah kau sering sekali melamun" seseorang masuk ke ruangan Andi tanpa mengetuk pintu, siapa lagi kalau bukan sahabat Andi, Doni. Dia yang selama ini ikut membantu Andi membangun usahanya.


"Ck... apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk" ucapnya kesal.


"Kau sensitif sekali, apa kau belum mendapatkan jatah dari istrimu itu" ia melihat wajah Andi yang diam saja. " Jadi benar kau belum mendapatkan jatah dari istrimu, sudah sana pulang urusan pekerjaan belakangan, yang penting jatah dulu" Andi tetap diam membuat Andi curiga. "Jangan bilang kau belum melakukannya" Andi mengalihkan tatapannya. " Jadi benar kau belum menyentuh istrimu" hahahahha Doni tertawa sampai puas.


"Menyebalkan,,, hehhh dia belum mencintaiku" menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil meletakkan tangannya dibawah kepala.

__ADS_1


"Tidak semua orang butuh cinta untuk melakukannya, kau ini lamban sekali"


"Jangan samakan aku dengan dirimu, yang suka bercocok tanam dengan banyak wanita"


"Kau malah memujiku,, sekarang apa yang akan kau lakukan?" Andi mengedikkan kedua bahunya.


"Entahlah, mungkin aku akan membuatnya jatuh cinta padaku"


"Ini sudah hampir sebulan, apa senjatamu itu tidak aktif saat bersamanya"


"Kau... mulutmu benar - benar.. "


"Jangan kelamaan, bisa bisa punyamu berkarat" Seketika Andi melemparkan dokumen kemuka Doni, sahabatnya itu kalau bicara tidak pernah di filter dulu.


"Pergilah, kau membuatku tambah pusing"


"Besok kita akan keluar kota, pastikan kau membawa istrimu, mungkin saja kau bisa lanjut untuk bulan madu" sebelum terkena amukan untuk yang kedua kalinya, ia segera pergi meninggalkan ruangannya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Andi segera pulang kerumah, sekitar jam empat sore. Sampai dirumah ia langsung menuju kamar mereka berdua, sepertinya istrinya sudah pulang, ya istrinya masih mengelola usaha laundry milik orangtuanya.


Cek lek


Pintu kamar terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah paha mulus istrinya yang baru saja selesai mandi dan hanya terlilit handuk sampai ke paha. Istrinya itu belum menyadari keberadaannya, karena suara pintu yang terbuka bersamaan dengan kamar mandi yang terbuka. Istrinya berjalan ke lemari dengan bersenandung indah, Andi masih terpaku di pintu, mereka hanya tinggal berdua hanya di pagi hari akan ada orang yang akan membersihkan rumah mereka, jadi meskipun tidak di tutup bukan masalah, tidak ada yang akan mengintip mereka.


Kerongkongannya tiba tiba terasa kering, tubuhnya mulai tidak sejalan dengan pikirannya. Pikirannya mengatakan jangan lakukan, tapi tubuhnya berjalan mendekati wanitanya yang sekarang dalam keadaan setengah telanjang. Apa iya dia kuat untuk menahannya.


Dengan langkah perlahan Andi berdiri di belakang tubuh istrinya, tangannya terangkat untuk menyentuh pundak istrinya itu.


Deg


Istrinya terdiam kaku menerima sentuhan tangannya.


"Sayang... aku... aku.... bolehkah?" Andi membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya, Wajah istrinya pucat, terkejut pasti, bagaimana suaminya itu sudah pulang. Biasanya Andi akan pulang menjelang malam, tapi ini masih sore suaminya sudah muncul.


Citra terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Di salah satu sisi ia akan berdosa jika menolak suaminya, tapi di sisi lain ia masih belum siap.

__ADS_1


__ADS_2