
Melihat cahaya bulan bisa membuat hati tenang. Rembulan yang begitu indah. Apakah benar cahaya bulan bisa menembus hati kita, katanya mengungkapkan suara hati sambil menatap bulan itu akan terwujud, dan yang pasti itu semua atas kuasa Allah.
Aku merindukannya, sangat merindukannya.
Ungkapan hati seseorang yang berdiri di balkon sambil menatap bulan. Evan berdiri termenung memandang keadaan sekitar. Sepi. Hampa. Hatinya kosong.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Siapa yang datang pikirnya. Dia tetap berdiam diri di balkon, ia merasa sudah tidak ada pekerjaan lagi, pekerjaannya selesai dan besok pagi dia akan kembali. Seharusnya dia pulang sekarang tapi karena pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi sehingga ia harus bermalam. Baru saja ia memasuki kamar hotel, membersihkan diri kemudian berganti pakaian dengan baju santai yang sudah disiapkan oleh asistennya Riki.
Tok
Tok
Tok
Terdengar kembali suara ketukan pintu. Evan melihat ke arah pintu, ia enggan untuk membukanya. biarkan saja.
Tok Tok Tok
Yang mengetuk pintu semakin tak sabar, apalagi ini sudah jam setengah dua belas.
Di luar kamar hotel
Bella merasa kesal. Dia langsung mengetuk pintu setelah sampai di depan kamar hotel tempat Evan memginap. Tapi yang ada di dalam kamar tak kunjung membukanya. Karena jalanan full, jadi perjalanan yang seharusnya ditempuh sekitar dua jam setengah menjadi tiga jam lebih. Ia kembali mengetuk dengan lebih keras lagi.
Tok tok tok.....
Evan yang merasa terganggu, akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu. Dengan wajah dinginnya ia membuka pintu kamar.
Deg
Bella. Ia terkejut. berdiri mematung.
"Lama sekali... aku lelah berdiri di depan pintu. Tanganku sakit dari tadi mengedor pintu. Kau tak mempersilahkan aku masuk" Evan tersadar dari keterkejutan nya setelah bahunya ditabrak Bella. Bella yang sudah tak sabar segera masuk ke dalam tanpa disuruh Evan.
"Aku masuk sendiri saja, kau terlalu lama menyuruh istrimu masuk. Apa ada yang kau sembunyikan?" Bella berkeliling melihat keadaan, si Bella curiga Evan bersama wanita lain. Evan masih shock dengan apa yang ia lihat. Apa benar yang ada di depannya ini istrinya. Ia diam mematung di depan pintu setelah ia tutup kembali.
Setelah berkeliling Bella menuju ke balkon, berdiri sambil melihat pemandangan yang lumayan bagus. Evan mengikuti arah istrinya melangkah, memperhatikannya dari belakang, ia benar dia istrinya. Evan melangkah mendekat, berdiri di sebelah Bella, menatapnya lekat.
__ADS_1
Kau datang padaku. Apa salah jika aku berpikir positif.
Tatapan mereka bertemu. Lama mereka saling menatap, dari mata mereka tersirat kerinduan yang sangat besar. Bella melangkah lebih dekat mengikis jarak diantara mereka. Mengangkat tangannya kemudian memeluk Evan.
"Maaf.. aku merasa aku yang paling tersakiti tanpa memikirkan perasaanmu, kau juga tidak baik baik saja, ini bukan kemauanmu tapi keadaan yang memaksa, mungkin inilah takdir kita, dipisahkan sementara kemudian disatukan kembali, maaf" lirih Bella. Evan semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan meminta maaf, aku pantas mendapatkan balasannya karena telah menyakitimu apapun alasannya"
"Baiklah, kau yang salah"
"Ya,, aku yang salah... jadi.. " melepaskan pelukannya kemudian menatap Bella. " kau sudah memaafkanku?" Bella mengangguk. "Kau sudah menerima pernikahan kita?" Bella mengangguk. " Kau mencintaiku?" Bella pun mengangguk untuk kesekian kalinya. "Bolehkah aku melakukannnya?" menganggukkan kepalanya lagi. " Menyentuhmu?" Menganggukkan kembalinya lagi, tapi dia berhenti mengangguk ketika baru menyadari arti perkataan Evan.
"Ehhmmmmm..... aku.... " tanpa menunggu waktu lagi. Evan ******* bibir Bella, awalnya lembut tapi lama kelamaan ciumannya menuntut apalagi Bella membalas ciumannya, mereka berhenti sejenak untuk mengambil nafas, menyatukan kening mereka.
"Aku akan melakukannya" Evan mengangkat tubuh Bella dan membaringkannya diatas ranjang. Evan memulai aksinya menyentuh Bella, gerakan yang lembut membuatnya semakin memanas,, dan akhirnya malam pertama pun terjadi. Evan tidak melepaskan istrinya meskipun ia merasa kesakitan.
"Tahanlah sayang.... "
"Sakit"
Malam itu juga mereka melebur menjadi satu. Kini tiada lagi jarak diantara mereka. Akhirnya cinta berpihak pada mereka.
Pagi hari.
Kami sudah melakukannya, sekarang kami adalah suami istri yang seutuhnya. Aku mencintaimu.
Evan terbangun dari tidurnya. samar samar ia mendengar suara orang cekikikan, meskipun itu tidak keras tapi masih mampu untuk di dengar oleh indra pendengarannya.
"Kenapa?
"Apanya?"
"Kau tersenyum, tertawa sendirian?"
"Kau sangat tampan" puji Bella.
"Sudah dari lahir"
"Sombong sekali" Evan pun tersenyum. Tatapannya pun mulai berubah, Bella menyadari itu.
Oh tidak, jangan lagi.
Mereka masih dalam keadaan polos yang tertutup selimut. Di dalam selimut, Evan menggerakkan tangannya ke arah Bella, mengusap punggung Bella lembut, lama lama usapannya sampai pada bagian favoritnya.
__ADS_1
"Jangan lagi" lirih Bella, ia masih merasa sakit.
"Aku ingin" seketika Evan melancarkan aksinya. Dan terjadilah pertempuran kedua di pagi hari.
Mereka membersihkan diri bersama untuk menghemat waktu, karena sebentar lagi mereka akan melakukan perjalanan. Barang barang Bella masih di dalam koper sehingga ia bisa berkemas dengan cepat. Setelah sarapan mereka langsung meninggalkan hotel.
"Kita mau kemana?" tanya Bella setelah masuk ke dalam mobil.
"Bulan madu" jawab Evan tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel yang ia pegang.
"Sekarang?"
"Ya" Evan menoleh kearah Bella. "Kau keberatan sayang?"
"Tidak, hanya saja, kenapa tiba tiba"
"Ini bukan tiba tiba, sebenarnya aku sudah ingin mengajakmu setelah pesta pernikahan kita, tapi waktunya tidak memungkinkan, istriku masih belum bisa menerimaku, jadi yach... aku terpaksa menundanya"
"Maaf... " lirih Bella.
"Sudahlah, hari ini aku bahagia, jadi ayo kita bersenang senang"
"Apa kau tidak bekerja?"
"Apa kau lupa sayang, aku ni bosnya"
"Yach... ternyata selain dingin kau juga sombong" Bella memanyunkan bibirnya.
Setelah cukup lama naik mobil, sekarang mereka menggunakan jet pribadi untuk menuju ke tempat bulan madu yang sudah disiapkan Evan. Kemana ya kira kira mereka bulan madunya.
"Kita naik jet pribadi" tanya Bella, ia merasa takjub, mimpi apa dia sehingga bisa naik jet pribadi. Sepertinya dulu orangtuaku pernah melakukan kebaikan yang berbalas padaku batin Bella.
"Ya, kau suka" Bella mengangguk antusias.
"Ini pertama kali aku naik pesawat, berapa uang yang kau keluarkan untuk menyewanya? "
"Hahahaha.... " Evan tergelak. "Aku tidak perlu menyewanya, aku hanya meminjamnya"
"Orang baik mana yang meminjamkan jet pribadi dengan mudah, kau beruntung dikelilingi orang baik dan tidak pelit" ucap Bella serius. Masih ada ya orang baik di dunia ini. Dan ternyata masih banyak.
"Aku pinjam pada ayahku? "
"Apa?" Bella menatap Evan berusaha mencerna ucapannya. " Ini milikmu" Evan mengangguk. " Kau sekaya itu?" Evan mengedikkan bahunya acuh.
__ADS_1
Wah keluar lagi sombongnya. Mulai kapan dia jadi sombong. Perasaan dulu tidak sesombong sekarang.