
Hari pernikahan
Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh dua keluarga. Hari yang penuh kebahagian untuk keluarga pasangan calon pengantin. Semoga juga merupakan kebahagiaan untuk calon pengantin. Mereka berdampingan duduk di depan penghulu. Calon pengantin wanita sangat cantik dengan balutan kebaya putih. Sedangkan calon pengantin pria sangat tampan dan sudah tampak tegang, ia sudah berkeringat dingin, seperti menjadi terdakwa. Acara ijab qobul akan segera dimulai.
SAH
Saat kata sah terdengar menggema, semuanya terasa plong. Apa yang dinantikan akhirnya terwujud. Acara ijab qobul hanya dihadiri keluarga inti dari kedua belah pihak, dan juga kerabat dekat. Yang dilaksanakan di kediaman mempelai wanita.
Setelah selesai acara pasangan pengantin langsung berangkat menuju hotel untuk istirahat karena nanti jam 1 siang akan diadakan resepsi di ballroom hotel tersebut.
Di dalam kamar hotel.
"Bantuin dong kak, buka kebayanya, susah ini" ucap penganti wanita yang tak lain adalah Citra sahabat Bella. Suaminya berjalan mendekat, kemudian menyentuh kebaya yang masih melekat ditubuh Citra dengan perlahan.
"Belum 3 jam kita menjadi pasangan suami istri, kau sudah tak tahan rupanya" ucap pengantin pria dengan tatapan menggoda, ia memperhatikan seluruh tubuh Citra.
"Kak Andi, jangan macam macam ya" Citra mundur selangkah, Andi pun maju selangkah, sampai tubuh Citra terbentur tepi ranjang.
"Kau istriku, apa salahnya?"
"Kau.... " Citra tak bisa menghindar lagi, ia membiarkan Andi semakin mendekat, ia ingin tahu, apa benar dia berani melakukannya tanpa ijinnya. Andi kembali menyentuh baju pengantin Citra kemudian membantunya untuk membukanya.
"Sudah, atau kau ingin aku membantumu melepas semuanya" dari tadi Citra mengalihkan tatapannya sampai ia mendengar suara Andi, ia bergegas berdiri berlari menuju kamar mandi sambil membawa baju gantinya. Andi agak terhuyung karena Citra menabrak tubuhnya. Dia tersenyum senyum sendiri melihat tingkah wanita pujaan hatinya yang sekarang sudah menjadi istrinya.
Andi teringat kenangannya dengan Citra dulu. Ia sering memperhatikan sahabat Bella itu secara diam diam sewaktu ia berkunjung ke cafe. Ia tidak berani mendekatinya karena keadaannya yang hanya pelayan cafe, ia bertekad untuk menjadi orang sukses. Setelah tabungannya cukup ia mencoba untuk membuka usaha warung kopi kecil kecilan, tak lama setelah Bella berhenti bekerja, ia juga mengundurkan diri untuk merintis usahanya, Alhamdulillah setelah dua tahunan usahanya berbuah hasil. Dari warung kopi kecil kecilan menjadi cafe meskipun tak sebesar cafe tempat ia bekerja dulu, tapi usahanya cukup berkembang. Dan sekarang ia sudah membuka satu cabang cafe, dan rencananya setelah menikah ia akan membuka restoran dan juga cafe.
Setelah ia merasa sukses dan mampu untuk menghidupi seseorang, ia berusaha kembali mendekati Citra. Tapi cinta tak seindah apa yang kita bayangkan, saat itu Citra tengah dekat dengan seorang laki laki, mungkin pacarnya. ia juga tidak tahu, setelah melihat kedekatan Citra dengan laki laki lain, ia mulai mundur perlahan. Tapi disaat ia benar benar ingin mundur, keberuntungan berpihak padanya. Ia melihat laki - laki yang dekat dengan Citra sedang bermesraan dengan wanita lain, tanpa pikir panjang ia sengaja mengabadikan momen itu, dan juga langsung mengirim video itu pada Citra. Ya dia punya nomer HP Citra dari Bella dulu.
Keesokan harinya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Citra bertengkar dengan pacarnya dan hubungan mereka berakhir. Ia sengaja mengikuti Citra, dan bagai pahlawan kesiangan ia menghampiri Citra yang tengah berdiri di pinggir jalan untuk menawarinya tumpangan. Tanpa pikir panjang dan juga ingin segera pergi dari tempat itu, Citra langsung masuk ke dalam mobil yang sedang dikemudikan oleh orang yang dia kenal.
Andi berpura pura tidak tahu apa yang terjadi. Semenjak itu mereka semakin dekat hanya sebagai teman. Satu bulan kemudian Andi menyatakan perasaannya.
"Cit.. aku menyukaimu sudah lama aku mencintaimu sepenuh hatiku, aku tahu kau baru saja patah hati, maukah kau menjadi pacarku" Ucap Andi sambil memegang tangan Citra.
"Aku.... aku belum bisa membuka hatiku untuk cinta yang baru, apa kau tidak berpikir bahwa kau hanya akan jadi pelarian" jawab Citra yang langsung mematahkan hati Andi. Tapi ia sudah bertekad ia tak akan menyerah.
"Aku tidak peduli, jika memang kau butuh pelarian, datanglah padaku, aku siap menjadi pelarianmu"
"Maaf kak,, aku sudah tak berminat berpacaran, aku mau langsung nikah saja, aku tidak mau menjaga jodoh orang"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan melamarmu sekarang juga"
"Tapi tidak ada cinta diantara kita kak"
"Hanya kau yang tidak mencintaiku, aku mencintaimu, sangat" jawab Andi telak, Citra tak bisa berkata - kata lagi.
"Tapi aku belum mencintaimu kak" entah kenapa Citra tidak bisa mencintai Andi, meskipun dulu ia tahu Andi sering memperhatikannya. Ya Citra menyadari kalau Andi ada rasa padanya.
"Cinta itu akan datang dengan sendirinya"
"Tapi.... "
"Sudahlah, ayo aku antar pulang"
Andi pun mengantar Citra pulang, biasanya ia akan langsung pulang tapi saat ini ia ikut turun dari mobil.
"Kakak mau mampir" tanya Citra sambil melihat Andi yang melangkah lebih dulu.
"Ya, apa kau keberatan, setidaknya tawari aku minum"
"Baiklah, ayo masuk"
"Sayang kau sudah pulang, kau ada tamu?" sapa mama sambil melihat ke arah ruang tamu.
"Ya ma, dia teman Citra" papa dan mama saling melempar senyum, kemudian mereka berdiri menghampiri tamu yang ada di ruang tamu.
"Selamat malam om, tante maaf bertamu malam malam" sapa Andi sedikit gugup. Berdiri kemudian menyalami kedua orangtua Citra. Anak yang sopan itulah dipikiran orang tua Citra.
"Duduklah, sudah lama berteman dengan Citra?kamu adalah pria kedua yang Citra bawa kesini?"
"Kenalnya sudah lama om, tapi dekatnya masih baru -baru ini om"
"Kamu pacarnya Citra?" tanya papa to the point.
"Bukan om"
"Jadi hanya teman" sela mama Citra yang dari tadi hanya diam saja. mama merasa sedikit kecewa.
Bismillah. ucap Andi dalam hati.
__ADS_1
"Om, tante, se... seb.. sebenarnya tujuan saya datang kesini untuk melamar Citra anak om dan tante. Saya mau menikahinya, saya berharap om dan tante memberi saya restu untuk menikahinya" Ucap Andi gugup. Ia menunggu jawaban orangtua Citra dengan cemas.
"Saya terima lamaranmu nak" mamanya Citra yang menjawab, seketika papa melotot ke arah istrinya itu, apa - apaan istrinya itu menerima lamaran tanpa persetujuannya dan Citra. "Dia anak yang baik pa, jangan lewatkan kesempatan emas ini"
"Kau ini membuatku malu saja, nak Andi lebih baik bertanya pada Citra dulu"
Beberapa menit kemudian Citra datang dengan membawa secangkir kopi kemudian duduk disebalah mamanya yang berhadapan langsung dengan Andi.
"Sayang apa kau punya pacar?" tanya Ayah pada Citra. Citra menatap papanya bingung, kenapa ayah bertanya seperti itu.
"Tidak pa"
"Baiklah kalau begitu lamaran diterima, bawalah orangtuamu untuk melamar anak om dengan resmi"
"Terima kasih om" jawab Andi bahagia seperti mendapat hadiah milliaran rupiah.
"Lamaran? Apa maksud kalian?"
"Nak Andi telah meminta restu kami untuk menikahimu" jawab mama tenang.
"Tapi Citra belum menyetujuinya pa, ma"
"Menikahlah sayang, Andi anak yang baik. Kakakmu sudah berkeluarga, kami juga ingin melihatmu bahagia sebelum kami meninggalkan dunia ini" jawab mama sendu.
"Mama, jangan bicara seperti itu, kalian akan sehat terus sampai kakek nenek"
"Berati kau setuju untuk menikah" Akhirnya Bella menyetujuinya karena ia tak punya pilihan untuk menolak keinginan orangtuanya, dan dia juga tidak punya alasan untuk menolak Andi. Kalau alasannya hanya tentang cinta, itu hanya klise. Buktinya ia sudah mencintai seseorang dengan tulus tapi akhirnya penghianatan yang ia dapatkan.
"Ya, aku mau"
"Baiklah, om dan tante tinggal dulu, kalian pasti butuh waktu berdua untuk berbicara" orangtua Citra meninggalkan mereka berdua diruang tamu. Hening sejenak.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa mencintaimu kak? apa kau bisa menerimanya?"
"Tentu saja tidak, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, dan disaat kau mencintaiku kau harus mengatakannya"
"Kenapa?"
"Karena disaat kau sudah jatuh cinta padaku, saat itu juga kau harus menyerahkan dirimu padaku" Blus. Wajah Citra merona. "Ayo kita menikah?"
__ADS_1