
"kau.... "
Saling menatap lama. Posisi Citra yang berbaring dengan kepala berada di tepi ranjang membuat kepala Andi tepat diatas kepala Citra.
Citra segera duduk setelah menyadari keadaan.
"Apa yang kau lakukan disini? " tanya Citra yang masih bingung dengan keadaan.
"Aku baru saja selesai mandi" jawabnya santai tanpa mengalihkan tatapannya.
Citra memperhatikan penampilan Andi, yang hanya memakai handuk di pinggang, ia baru menyadari kalau suaminya itu setengah telanjang. "Auwwww... Cepat pakai bajumu! " Mengacuhkan ucapan istrinya, ia duduk disebelah istrinya, memegang kedua tangannya, membawanya kemudian mengecupnya lembut.
"Terima kasih sudah kembali, maafkan aku, maafkan aku, aku bersalah padamu, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi" Melepaskan tangannya dari genggaman suaminya, mengalihkan pandangannya menghindari tatapan sendu suaminya.
Melihatnya begitu tulus kenapa aku goyah, apa semudah itu memaafkannya, dia tidak pernah bertanya apa lagi mempercayaiku.
Melihat wanitanya enggan untuk menjawab. "Maafkan aku yang tidak meminta dan mendengar penjelasanmu terlebih dulu, waktu itu ada seseorang yang mengirim foto kau bersama pria lain, kau masih ingat seseorang yang menabrakmu kemudian dengan alasannya ia masuk ke kamar tempat kita menginap" Citra menatap suaminya kembali. "Dia sahabatku dan dia juga yang merencanakan ini semua untuk membuatku cemburu, dan hubungan kita akan ada kemajuan, tapi ternyata malah membuat kita salah paham dan semakin jauh"
Melihat dia berbicara kenapa bibirnya terlihat sangat sekai, apa yang aku pikirkan ah.. . Apa katanya tadi salah paham, ini rencana sahabatnya, lalu perlakuan kasarnya padaku apa juga direncanakan, dasar.
"Maafkan aku, karena kecemburuanku, aku tidak bisa mengendalikan amarahku, aku cemburu kau bersama pria lain apalagi dikamar hotel. Aku tidak bisa berpikir jernih lagi, maaf aku sudah berbuat kasar padamu"
Aku baru tahu, tubuhnya penuh roti sobek sejak kapan dia sering olahraga. Kenapa mendadak aku menginginkan tubuhnya. Sebenarnya aku ini kenapa bukankah seharusnya aku marah, dan menyelesaikan masalah, tapi aku malah travelling kemana - mana, pikiranku jadi mesum.
Tanpa sadar Citra menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Ya, aku memang tidak pantas dimaafkan" Ucap Andi sendu wanitanya tidak memberinya kesempatan lagi. " Apa tidak ada kesempatan lagi? " Menunggu jawaban Citra sejenak, hening. "Baiklah, aku pergi"
"Bukan,, aku.. . Maksudku.. . . . "
Glek.
Tanpa sengaja tangannya menarik handuk suaminya yang hendak berdiri. Andi diam mematung melihat handuk yang ia pakai berada ditangan istrinya, ia dalam keadaan polos, tidak tahu harus bagaimana, tiba tiba manik mereka saling bertemu, entah untuk menghilangkan rasa malu rasa gugup yang bercampur jadi satu Andi mengatakan sesuatu diluar kendalinya.
"Kau mau? " Ucapnya sambil melirik ke pusakanya kemudian menatap Citra kembali. Apa yang aku katakan, mana mungkin dia mau, dia sedang marah bodoh, dia membencimu lanjutnya dalam hati.
Tapi diluar dugaan Wanitanya menganggukkan kepalanya.
"Hah? "
"Tidak... Tidak.. Aku tidak mau" Dengan gerakan cepat Andi menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya, ******* nya lembut. Meskipun belum mendapatkan balasan, ia tetap ******* bibir istrinya, tidak ada perlawanan, apa itu artinya wanitanya juga ingin.
Aku masih marah, aku tidak mau menerimamu dengan mudah, tapi tubuhku tidak seperti itu, tubuhku menerima dengan senang hati setiap sentuhanmu. Aku merindukanmu sekaligus membencimu.
Akhirnya sore itu mereka menyatu kembali. Seperti pasangan yang saling mencintai mereka berpelukan setelah melakukan pergulatan hebat.
"Aku membencimu"
"Ya aku tahu"
"Aku masih marah padamu"
__ADS_1
"Ya aku tahu"
"Kau tidak bertanya dulu, kau menghinaku, kau menyakitiku, kau tidak percaya padaku"
"Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, aku tidak akan berhenti untuk mengucapkannya sampai kau mau memaafkanku"
"Aku memaafkanmu"
"Benarkah? " Citra pun mengangguk. "Kau merindukanku? " Mengangguk kembali. "Kau sudah mencintaiku? " Mengangguk lagi. Menatap wanitanya dengan intens. "Katakanlah, katakan kau mencintaiku"
"Aku mencintaimu" Lirihnya, merasa malu
"Aku lebih mencintaimu, sangat banyak"
"Sebanyak apa? "
"Sebanyak daging di pipimu" Mencubit pipi wanitanya gemas, tubuh istrinya lebih berisi dibanding kemarin waktu pertama ia menyentuhnya.
"Itu sedikit" Memanyunkan bibirnya karena kesal.
"Tapi sekarang lebih banyak"
Bangun dari tidurnya. "Maksudmu aku gendut? " Seketika selimut yang membalut rubuhnya melorot menampakkan dua buah semangka yang sangat segar.
"Kau menggodaku lagi sayang" Menatap wanitanya yang sudah bersemu merah. "Ayo kita lakukan lagi? "
"Aku... . . "
Dimeja makan saat makan malam.
"Ibu sakit apa? " tanya Citra menatap ibunya dengan penuh kasih sayang.
"Ibu tidak sakit, bahkan ibu sangat sehat"
"Kenapa ibu ke rumah sakit?"
"Ibu hanya jalan - jalan"
"Jalan - jalan? dirumah sakit? "
"Hemmm.... "
"Tapi.... "
"Makanlah dulu, setelah itu ngobrol, ibu masih merindukanmu"
Mereka berkumpul di ruang keluarga setelah selesai makan malam.
"Tapi Bella bilang ibu sering kerumah sakit?"
"Apakah kau sudah berbaikan dengan suamimu?"
__ADS_1
"Aku... aku... "
"Tidak usah ditutup tutupi, ibu sudah tahu semuanya, suamimu sudah menceritakan semuanya pada kami"
"Ibu dan ayah sudah tahu?" Citra terkejut mendengar penuturan ibunya, apa iya suaminya ini begitu terbuka pada mertuanya.
"Ya, ibu senang akhirnya kalian berbaikan, mungkin sebentar lagi ibu akan punya cucu"
"Huk.... huk... huk.... " Andi terbatuk mendengar ucapan ibu mertuanya.
Apa ibu tahu kegiatan kami tadi. Memalukan.
"Kau tidak apa - apa? " tanya Citra sambil memberikan segelas air ke hadapan suaminya.
"Aku tidak apa - apa"
"Sekarang bisa kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dirumah sakit?" tanya Citra kembali, karena ia merasa ada yang mereka sembunyikan.
"Suamimu yang akan menjelaskan, ibu dan ayah hanya mengikuti saja"
Menatap suaminya tajam, sedangkan Andi menggaruk garuk kepalanya, sepertinya mendadak ia ketombe.
"Itu rencanaku dan Bella agar kau mau pulang, Bella tidak mau kalau ibu pura - pura sakit, jadi ibu hanya berkeliling saja dirumah sakit"
"Kalian benar - benar niat, kenapa ibu mau melakukannya"
"Demi kebahagiaan anak - anak ibu bisa melakukan apa saja"
Sepertinya suamiku pintar mengambil hati orangtuaku. Dan Bella kau memang sahabat sejati.
Malam ini mereka memutuskan untuk menginap. Besok pagi baru pulang.
Setelah sampai dirumah mereka langsung menuju kamar.
"Sayang aku lihat nafsu makanmu semakin bertambah, apa selama di sana kau juga makan sebanyak itu"
"Entahlah, aku hanya ingin makan"
"Apa kau tidak merasakan sesuatu, tubuhnu lebih berisi, apa mungkin kau seperti Bella"
"Bella kenapa? "
"Sekarang dia sangat rakus, dan itu penyebabnya karena ia sedang hamil"
"Benarkah Bella hamil, mereka akan menjadi orangtua" mereka saling menatap.
"Apa kau berpikir aku juga sedang hamil?" tanya Citra curiga, tapi ia juga lupa kapan terakhir kali datang bulan.
"Mungkin saja, kita kan sudah melakukannya bahkan sudah lebih dari sekali. Apa kau lupa? Ingin mengulanginya lagi?" ucapnya dengan tatapan menggoda.
"Mesum....." memukul lengan suaminya.
__ADS_1