
Sudah satu bulan Bella tinggal bersama Risa. Sebenarnya Bella merasa tidak enak numpang terus, jadi dia berencana untuk mencari kos kosan. Tapi orangtua Risa melarangnya mereka senang Bella tinggal bersama mereka. Orangtua Risa juga sudah tahu mengenai permasalahan Bella tentang pesawat yang jatuh itu.
Bella berjalan mondar mandir di depan Risa.
"Duduklah, aku pusing melihatmu berjalan kesana kemari" ucap Risa sembari memegang kepalanya.
"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Bella cemas.
"Tentang identitas?"
"Identitas ku masih aman, aku meletakkan kartu-kartu ditempat yang lain. Tapi paspor, visa dan lain2 ada ditasku yang hilang, bibi selalu berpesan untuk meletakkan barang barang penting ditempat yang berbeda. Untung saja aku lupa membawa ijazah, kalau tak,, udah pasti hilanglah." mengucapakan kalimat terakhir dengan gaya bicara upin ipin.
"Lalu tentang apa?"
"Kau masih bertanya, menyebalkan. Itu artinya aku sekarang dianggap sudah mati. Dan keluargaku ohh... " memegang kepala dengan satu tangannya.
"Kau hantu,, uhhh aku takut" ucap Risa dengan gaya yang benar benar ketakutan. Seketika bantal sofa pun melayang mengenai kepala Risa.
"Apa itu?" tanya Bella sembari melihat ke arah TV yang sedang mereka tonton.
"Bencana alam, terjadi tsunami dan gempa bumi, dan sekarang dibutuhkan tenaga sukarelawan untuk membantu kesana, semoga saja tidak ada gempa susulan" ujar Risa yang kemudian menatap Bella, mereka saling menatap dengan senyum aneh.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Bella.
"Sama dengan yang kau pikirkan"
"Let's go"
"Apa kau tak ingin mengabari keluargamu dulu"
"Entahlah mungkin nanti saja, setelah misi kita selesai. Aku akan pulang dan tinggal bersama mereka"
"Bagaimana dengan Citra, setiap menelponku dia menangisimu trus, kau juga tak mau muncul dihadapannya"
"Apa aku harus muncul?" berpikir sejenak. "Biarkan seperti ini dulu, dianggap tidak ada" ucap Bella sendu.
"Kau masih memikirkan Evan, kau masih mencintainya"
"Tentu saja aku masih mencintainya, tapi dia..... apa dia tahu kalau aku pergi dan berada di pesawat itu, dia tak kan peduli lagi padaku" rasanya Bella ingin menangis, mengingat kejadian itu.
"Bell,, apa kau yakin Evan menghianatimu? Apa kau masih belum bisa menceritakan semuanya padaku, apa sesakit itu?" tanya Risa penasaran, apa yang sebenarnya tengah menimpa sahabatnya ini karena Bella belum menceritakan semuanya bagaimana kandasnya hubungannya dengan Evan. Bella menatap Risa sendu, matanya sudah berkaca kaca.
"Dia melamar ku, dan kami akan bertunangan, mungkin akan segera menikah, tapi di saat bersamaan ternyata dia sudah punya istri dan anak" Bella mulai menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir, tidak ada yang Bella sembunyikan lagi. Bella menangis pilu, siapapun yang mendengarnya pasti akan sakit hatinya. Risa memeluk Bella, menenangkannya.
"Apa kau tak ingin menyelidikinya, kapan dia menikah? atau bagaimana hubungan mereka, hubungan tanpa cinta seperti di novel novel" Risa melepaskan pelukannya.
"Tidak.. meskipun tanpa cinta itu bukan urusanku lagi, ada anak diantara mereka" menatap Risa "Kau jangan berpikir aku akan merebutnya?" menebak isi pikiran Risa.
"Hihihihi... kau memang yang terbaik, kau selalu bisa membaca pikiranku. Tapi apa kau benar benar rela, hubungan kalian bukan sebulan dua bulan?"
"Aku tak punya pilihan. Mungkin dia bukan jodohku. Aku harus menerimanya. Bukankah aku harus menatap masa depan. Mari kita lupakan laki laki masa lalu kita"
"laki laki masa lalumu saja"
"Jadi kau masih mengharapkannya?"
"Siapa?" tanya Risa gelagapan.
__ADS_1
"Kau masih tidak mau mengaku.. kau membuatku kecewa kenapa kau tidak jujur sama kita, kau tidak menganggap kami sahabat?"
"Ternyata kalian sudah tahu. Bukannya aku tak mau jujur, tapi Andre belum siap untuk go public, tapi ternyata bukan masalah belum siap, dia hanya mempermainkanku, aku sangat menyedihkan" tutur Risa sendu.
"Kita gagal menjadi Cinderella" mereka tertawa bersama.
"Ya ternyata kita gagal, mungkin kita harus mencari yang sekelas dengan kita, aku kapok pacaran sama orang kaya"
"Ayo kita mencari teman kencan, aku tidak mau membuang waktu hanya untuk meratapi keadaan karena ditinggalkan"
"Semangat" mereka serempak mengucapkannya.
Di ruang keluarga.
"Kalian yakin mau kesana, bagaimana kalau terjadi gempa atau tsunami susulan?"
"Doakan kami bu, supaya kami baik baik saja selama disana" jawab Risa, yang sedang membujuk orangtuanya demi mendapatkan ijin menjadi relawan untuk korban bencana alam.
"Ayah khawatir kalau kalian berada disana, tapi Ayah juga tidak bisa melarang perbuatan mulia kalian, jadi selama disana jagalah kesehatan kalian, seringlah memberi kabar, jika terjadi sesuatu cepat pulanglah" Ayah memberi ijin.
"Ayah mengijinkan"
"Ehmmm.... "
"Terima kasih, Ayah... Ibu.... " menatap ibu, dengan harapan ibu juga memberi ijin.
"Baiklah... kalian boleh pergi"
Keesokan harinya mereka pergi ketempat terjadinya bencana itu, di daerah xx. Setelah sampai disana, untuk relawan baru mendapatkan pengarahan terlebih dahulu. Mereka berdua juga sudah berganti baju relawan. Mereka segera turun kelapangan setelah mengerti apa yang harus dilakukan, membantu mereka yang memerlukan bantuan apapun, membagikan makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya, juga melakukan pertolongan pertama. Setelah beberapa jam, rasa lelah menghampiri, mereka duduk di sebuah batu besar.
"Ya, mungkin sudah banyak yang di bawa ketempat yang lebih aman"
"Sepertinya begitu" memandangi sekitar, samar samar terlihat seperti ada seseorang yang tertangkap penglihatannya. "Risa, apa itu? " menunjuk kearah yang ditunjuknya. "Ayo kita kesana!" mereka berdiri kemudian menghampiri nya.
"Ternyata manusia" ucap Risa.
"Bule? Bagaimana bisa bule terdampar disini. Dia masih hidup?" Risa mengangguk sembari memeriksa denyut nadinya. "Kenapa dia ikut korban bencana alam?"
"Entahlah, mungkin dia sedang berlibur, apa kita harus membawanya? " tanya Risa
"Kenapa harus berlibur di saat gempa. Tunggu, jangan -jangan dia duyung yang terbawa arus tsunami, coba lihat kakinya, apa dia berekor? "
"Kakinya manusia" jawab Risa.
"O.. berarti dia manusia"
"Kalian berisik" ucap si bule tadi.
"Dia bisa bicara"
"Bahasa Indonesia pula"
"Tentu, aku juga manusia seperti kalian"
"Oooooo" jawab Bella dan Risa bersamaan yang hanya ber oh ria saja.
*Bule ini sombong. Awas saja kau. Bella.
__ADS_1
Songong banget. Harus diberi pelajaran nih. Risa*.
Mereka berbalik hendak melangkah pergi.
"Hey kalian, mau kemana? "
"Kami mau kembali, sudah waktunya istirahat"
"Bukankah kalian petugas yang ditugaskan untuk membantu korban bencana"
"Iya, betul" jawab mereka kompak, hendak melangkah lagi.
"Hey, kenapa kalian malah pergi, kalian tak melihatku yang sedang membutuhkan bantuan"
"Kau butuh bantuan?" tanya Bella.
"Hemm.. "
"Apa yang harus kami lakukan untukmu?" tanya Bella, Risa lebih memilih diam, biarkan Bella yang mengatasinya.
"Keluarkan aku dari tempat ini secepatnya, aku akan membayar kalian"
"Berapa?"
"Kau.... berapapun yang kalian minta?" ucapnya kesal, dia tak menyangka kalau akan langsung ditodong begitu, secara mereka hanya relawan, pasti tidak memperdulikan tentang uang karena mereka dengan ikhlas membantu, tapi mereka ini.
"Sepuluh juta"
" Baiklah, aku akan memberikan uangnya setelah keluar dari sini, kalian akan mendapatkannya segera, 10 juta sangat kecil bagiku"
"Apa kau orang kaya?"
"Bahkan kau tak kan mampu menghitung kekayaanku"
"Untungnya aku tak berminat untuk menghitungnya" sambil menengadahkan tangannya kedepan si bule.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku mau uangnya sekarang?"
"Kau tidak lihat keadaanku, aku korban bencana, aku tidak tahu dimana dompetku?"
"Berarti sekarang kau hanya orang miskin, jadi jangan blagu" ucap Bella membuat si Bule darah tinggi.
"Kau.... " awas saja kau, kalau aku bisa keluar dari sini, aku akan mengingat wajahmu ini lanjutnya dalam hati.
"Sudah sudah, apa yang kalian perdebatkan, ayo kita bantu saja bule miskin ini" ucap Risa yang langsung mendapatkan pelototan dari si bule. Dari tadi diam saja, sekali buka suara langsung tajam nih si Risa.
"Baiklah... karena kami baik hati, maka kami akan membantumu, dan sepertinya kau terluka" Bella dan Risa mendekati si bule.
"Apa yang akan kalian lakukan?"
"Diamlah, jika kau ingin selamat" seketika dia diam dan menurut dengan apa yang dilakukan mereka berdua.
Mereka memapah si bule sampai ke basecamp, untuk mendapatkan perawatan, makanan dan yang lainnya, Bella juga mengutarakan keinginan si bule untuk segera pergi dari sana. Karena ada mobil yang akan keluar, akhirnya setelah disetujui oleh ketua panitia si bule dibawa oleh mobil yang akan keluar dari daerah itu.
Sudah satu bulan Bella menjadi relawan, ternyata tidak hanya daerah itu yang memerlukan bantuan setelah seminggu di daerah XX, mereka dipindah ke daerah lain. Mereka sangat menikmati kegiatan mereka, pastinya ada suka dukanya. Mereka bahagia bisa membantu sesama. Hari ini mereka memutuskan untuk kembali karena kegiatan sosial yang mereka ikuti ini sudah selesai. Setelah berpamitan mereka pergi dengan kendaraan yang sudah disediakan. Bella juga memutuskan akan langsung pulang kerumah keluarganya. Meski berat untuk berpisah dengan Bella, Risa tetap mengikhlaskannya, karena tidak mungkin ia menahan Bella untuk terus bersamanya. Mereka berpelukan sebelum berpisah.
__ADS_1