
Setelah selesai membersihkan diri, Bella keluar kamar dengan memakai kaos oblong kebesaran dan boxer milik Evan yang dia ambil dari dalam lemari. Berjalan menuju dapur untuk mencari makanan, mengingat ia belum makan malam. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria yang begitu menawan beraksi di dalam dapur, ya Evan sedang memasak, entah apa yang dia masak sepertinya dia sangat serius, hingga tak menyadari keberadaan Bella dibelakangnya. Dengan langkah perlahan Bella mendekati Evan dan langsung memeluknya dari belakang.
Deg
Karena terkejut membuat gerakan tangannya terhenti. Terlihat kedua sudut bibir Evan tertarik membentuk senyuman, tanpa bersuara ia melanjutkan memasak karena sudah hampir selesai.
"Kau terlihat seksi saat memasak" bisik Bella ke telinga Evan. membuat bulu kuduk nya berdiri.
Evan mematikan kompor lalu berbalik menghadap Bella. Mereka saling bertatapan, terlihat sekali pancaran kebahagiaan di wajah mereka.
"Kau membuatku berdebar, jangan menggodaku, aku laki laki normal" ucap Evan.
"Ck.. " Bella berdecak. " Aku lapar, aku tunggu di meja makan saja" pergi meninggalkan dapur setelah mengecup pipi Evan. Evan terdiam melihat kelakuan kekasih barunya itu.
Wanita ini, agresif sekali.
Evan menata masakannya di dalam piring. Dua porsi spagheti tersaji dimeja makan.
"Silahkan nona" ucap Evan setelah meletakkan piring di depan Bella.
"Ehmmm.. terlihat enak, aromanya juga.. menggoyang lidah" sambil mengendus makanan di piringnya. Bella mulai makan.
"Enak sekali" sambil mengangkat errordua jempol ke arah Evan. Evan hanya tersenyum. " Kau pintar memasak, aku saja belum tentu bisa masak spagheti seenak ini"
"Kau suka? " Bella mengangguk. "Habiskan lah" Bella makan dengan lahap. Evan memperhatikan cara makan Bella sampai habis, tak bersisa sedikitpun.
Apa seenak itu sampai dia makan tanpa jeda.Atau dia belum makan seharian. Rakus sekali.
"Ehmm.. kapan kapan aku mau makan spagheti masakanmu lagi, bolehkah? "
" ehmm.. tinggallah disini! " ucap Evan
" Berdua denganmu? "tanya Bella.
" Kalau kau mengijinkan, aku akan menemanimu" jawabnya
"Kita tidak boleh tinggal berdua"
"Aku akan tinggal dirumah orang tuaku, bagaimana? "
__ADS_1
"Akan aku pikirkan, lagian juga sayang aku sudah bayar uang kos untuk beberapa bulan ke depan"
"Aku bisa menggantinya, kalau kau mau"
" Jangan, itu pemborosan"
"Baiklah, tapi aku berharap kau mau tinggal disini"
Bella menatap Evan, sepertinya ada yang ingin Bella ceritakan. Tapi ia ragu, cerita gak ya. Membuatnya gelisah sendiri. Beberapa menit kemudian. Evan pun sudah selesai makan, ia menatap Bella.
"Ada yang ingin kau katakan, kenapa kau terlihat gelisah, jika itu berat bagimu untuk tinggal disini, sudah jangan dipikirkan.
" ehmmm... aku.... aku... " cerita gak ya. cerita ajalah batin Bella. "Aku pernah bertemu ibumu, maksudku ibumu menemuiku" ucap Bella. Evan hanya menatapnya.
"Kau tidak bertanya? "
" Bukankah kau akan cerita, aku sedang mendengarkan ceritamu" jawab Evan.
"Oh... iya ya... " Bella cengengesan. " Ibumu memberiku Uang... " berhenti sejenak. " Dan aku... aku... menerimanya"
"Ooo... " ucap Evan. begitu saja pikir Bella.
"Kenapa harus marah, itu hakmu ingin menerima atau menolak uang dari ibuku" Bella menatapnya heran. Sekarang malah dia yang bingung, ia menerima uang itu dengan syarat ia harus meninggalkan Evan, cuma waktu itu mereka tak punya hubungan tapi sekarang mereka sepasang kekasih yang mungkin saling mencintai.
"Apa aku juga harus meninggalkanmu? " tanya Bella. Evan terdiam, sambil mencerna perkataan Bella. Ibunya memberi uang agar Bella meninggalkannya dan Bella menerimanya.
"Kau bisa memperjuangkan ku, lawanlah mereka yang akan memisahkan kita" jawab Evan santai.
"Hah!!!! " aku tidak salah dengar kan. hubungan kita masih seumur jagung apa iya bisa kuat.
"Kau terlalu memikirkannya, jangan terlalu di buat beban, cukup pikirkan aku saja, ayo lebih baik istirahat" Bella mengangguk kemudian mereka melangkah ke kamar masing masing, saling melempar senyum sebelum membuka pintu kamar.
Bunyi ayam berkokok menandakan hari sudah pagi. Tapi di apartemen mana ada ayam berkokok. Bunyi alarm membangunkan seorang wanita yang masih nyenyak diatas kasur.
Hayyyy.... Bella menguap. Meraba meja mencari HP.
Ehmmm... sudah jam 6 pagi. Nyaman sekali kasur orang kaya mah beda, empuk banget, pantesan tidurku nyenyak sekali, rasanya ingin tidur kembali. Untung hari ini weekend.
Akhirnya Bella tertidur kembali. Satu jam kemudian. Evan sudah siap degan pakaian casual nya, sepertinya dia ingin pergi. Melihat kearah kamar Bella.
__ADS_1
Apa dia belum bangun.
Menunggu Bella yang tak kunjung keluar akhirnya Evan memutuskan untuk membangunkannya. Melangkah ke kamar Bella. Dia hendak mengetuk pintu tapi ia urungkan, ia memilih membuka pintu langsung. Tidak dikunci.
Ceroboh sekali. Apa dia lupa aku laki laki normal.
Klek
Terlihat Bella masih berada dibawah selimut. Evan melangkah mendekat. Memperhatikan wajah bantal Bella.
Cantik. Tidurnya nyenyak sekali.
Muncul sebuah ide di otak cerdas Evan, Ia tersenyum jahil. Duduk di tepi ranjang, kemudian tangannya membelai pipi Bella.
Ehhhmmm eeeeehhhhmmmmmm...... haaaa hhaaaaahaaaa.
"Ayo bangun" Evan melepaskan Capitan tangannya dari hidung Bella. Ya Evan memencet hidung Bella sampai tak bisa bernafas. Dengan terpaksa Bella membuka matanya dan berusaha untuk tersadar dengan apa yang terjadi.
"Kau jahat sekali, hidungku sakit" ucap Bella sambil mengelus hidungnya.
"aku hanya membangunkanmu" jawabnya datar. Kenapa dia kaku sekali sepertinya harus sering dikasih pelumas nih, biar bisa santai sedikit. Batin Bella.
"Apa tidak ada cara lain, selain memencet hidungku, tambah pesek nih hidung" Evan tersenyum. "Kasurnya empuk sekali, rasanya malas untuk bangun" sambil mengelus kasur dengan sayang. "Emang kasur orang kaya the best, jangan jangan toko kasurnya juga khusus ya, tidak boleh orang miskin masuk" Bella tertawa sendiri dengan ucapannya, udik sekali diriku didepan orang kaya ini.
"Kau ini, ada ada saja,, ayo cepat bangun kita sarapan di luar" Evan menarik selimut Bella, membuat posisi Bella tidak seimbang dan menubruk tubuh Evan. Terdiam, posisi intim seperti ini membuatnya semakin mendekatkan wajahnya ke bibir Bella. Bella yang tersadar langsung menutup bibirnya dengan satu tangannya.
"Aku belum sikat gigi" langsung berlari ke kamar mandi tanpa melihat ke arah Evan.
Dia menggemaskan sekali hampir saja aku kelepasan, dia selalu membuatku terpesona. Sepertinya dia sudah benar benar masuk ke dalam hatiku. Apa posisinya di hatiku sudah tergantikan. Evan tersenyum mengingat tingkah Bella.
Lima belas menit kemudian Bella sudah menyelesaikan ritual mandinya, saat ia keluar dari kamar mandi sudah tak terlihat Evan dikamarnya.
Mungkin dia sudah keluar.
Berjalan mendekati ranjang lalu membuka salah satu paperbag yang ada diatas ranjang, yang isinya pakaian wanita, ia membuka semua paperbag yang ada diatas ramjang, isinya pun sama pakaian wanita beserta **********..
Banyak sekali. Apa semua ini untukku. Kenapa tidak sekalian saja tokonya dibeli seperti di dalam cerita drama drama, dimana sang pria memborong semua pakaian untuk sang wanita...
Mohon LIKENYA ya... kalau sempat komen di komen ya, hanya sekedar ingin tahu saja, ada yang suka atau tidak. Terima kasih
__ADS_1